Buah melon (Cucumis melo) banyak dikenal. Buah tropis dari suku labu-labuan ini kandungan airnya hampir 90 persen. Selebihnya mengandung vitamin A, C, dan kalium serta serat. Karena itu baik untuk mencegah dehidrasi, melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan mata, dan aman dikonsumsi sehari-hari. Jenisnya cukup banyak, lebih dari 40 jenis di seluruh dunia.
Buah ini diperkirakan berasal dari wilayah Afrika, meskipun beberapa penelitian terbaru dan bukti sejarah juga kuat merujuk pada wilayah Asia Barat Daya dan Asia Tengah seperti Persia/Iran, Turki, dan India sebagai tempat asal domestikasi pertamanya.
Perjalanan sejarah buah melon hingga tersebar ke seluruh dunia juga tercatat cukup panjang. Berdasarkan coretan dinding serta penemuan biji di makam kuno, melon sudah mulai dibudidayakan oleh bangsa Mesir Kuno dan Mediterinian 4.000 tahun lalu. Lewat jalur sutra biji melon dipergangkan melalui rute karavan kuno menuju wilayah Timur Tengah, India hingga ke China. Bahkan jenis yang terkenal dari India disebut Khambuja. Bangsa Yunani dan Romawi Kuno kemudian memperkenalkan melon ke benua Eropa.
Di masa lalu, buah melon liar tidak semanis sekarang, melainkan cenderung hambar atau asam menyerupai mentimun. Sekitar tahun 1300-an pada zaman Evolusi Rasa sebelum era Renaissance, petani mulai berhasil membudidayakan varietas melon yang matang lebih lama sehingga menghasilkan daging buah yang manis.
Melon juga punya legenda, kisah rakyat dari berbagai budaya. Buah melon sejak lama dianggap mengandung makna simbolik kesegaran, kemakmuran, dan kehidupan. karena kandungan airnya yang tinggi serta bentuknya yang bulat menyerupai lambang kesempurnaan.
Beberapa kisah atau legenda yang mengandung makna simbolik tentang melon diantaranya:
Melon dalam legenda Tiongkok dianggap sebagai lambang keberuntungan dan keturunan. Ada kisah tentang seorang petani miskin yang selalu membagikan melon hasil panennya kepada musafir. Karena kemurahan hatinya, tanahnya menjadi subur dan keluarganya hidup makmur. Dari situ muncul pandangan bahwa “menanam melon akan menuai berkah.”
Selain itu ada juga pepatah Tiongkok berbunyi:
“Menanam kacang mendapat kacang, menanam melon mendapat melon.” Maknanya, apa yang ditanam itulah yang akan dituai — mirip prinsip sebab akibat dalam kehidupan.
Di Jepang terutama jenis melon premium seperti Yubari, dipandang sebagai simbol kehormatan dan penghargaan. Walau lebih bersifat budaya modern daripada legenda kuno, ada kisah bahwa melon terbaik dahulu selalu dipersembahkan kepada bangsawan atau tamu terhormat. Karena itu melon menjadi lambang penghormatan dan ketulusan.
Lain lagi Melon dalam budaya Timur Tengah. Dalam kisah kisah lama di daerah gurun, melon sering digambarkan sebagai “hadiah alam” yang menyelamatkan musafir dari dahaga.
Pada akhirnya ada makna filosofis tentang melon:
Kulit luarnya yang keras dimaknai sebagai perlindungan hidup. Isinya yanglembut dan manis diibaratkan hati manusia
Sedangka bijinya yang banyak sebagai harapan dan keberlanjutan generasi
Kandungan air tinggi nerupakan sumber kehidupan
Karena itu, melon kerap dipakai sebagai lambang kesuburan, kesejahteraan, dan kemurahan hati.
Hikmah yang dapat dipetik dari legenda-legenda tentang melon sebenarnya banyak hal sederhana: sesuatu yang tampak biasa dapat menjadi sumber kehidupan bila dipelihara dengan baik dan dibagikan kepada orang lain.
Seperti melon yang tumbuh dari tanah sederhana tetapi memberi kesegaran bagi banyak orang, manusia pun dapat memberi manfaat melalui hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







