
Oleh: Ns. Ardiansyah, SKM, S.Kep, MM.
Dunia kerja terus mengalami perubahan. Jika dahulu loyalitas sering diukur dari seberapa banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk pekerjaan, kini muncul paradigma baru yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Salah satu istilah yang mencuat dalam beberapa tahun terakhir adalah quiet quitting.
Istilah ini sering disalahartikan sebagai bentuk kemalasan atau penurunan etos kerja. Padahal, quiet quitting tidak berarti seseorang berhenti bekerja atau mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mereka tetap hadir, menjalankan tugas sesuai standar, dan memenuhi kewajiban profesionalnya. Namun, mereka tidak lagi bersedia memberikan tenaga, waktu, atau keterlibatan ekstra yang selama ini dianggap sebagai bentuk dedikasi.
Dalam dunia keperawatan, fenomena ini menjadi menarik untuk dibahas. Sebab sejak awal pendidikan, perawat dibentuk dalam budaya pengabdian, empati, dan pelayanan. Tidak sedikit perawat yang rela pulang lebih lambat, menggantikan rekan yang berhalangan, atau tetap bekerja meskipun sedang mengalami kelelahan fisik dan emosional. Di satu sisi, sikap tersebut menunjukkan profesionalisme. Namun di sisi lain, apabila berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, kondisi tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju burnout (Wei et al., 2023).
Fenomena yang Tidak Selalu Terlihat
Sebagai seorang ASN yang berlatar belakang perawat dan saat ini bertugas di bidang administrasi pendidikan kesehatan pada rumah sakit pendidikan, saya tidak lagi berada di garis depan pelayanan klinis setiap hari. Namun interaksi dengan perawat klinis, peserta didik, pembimbing klinik, dan berbagai profesi kesehatan lainnya memberikan kesempatan untuk melihat dinamika yang terjadi di lapangan.
Dalam berbagai diskusi informal maupun kegiatan pendidikan dan evaluasi pelayanan, keluhan yang sering muncul bukan hanya terkait besarnya beban kerja, tetapi juga mengenai kelelahan yang terus menumpuk. Banyak tenaga kesehatan merasa bahwa pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Setelah tugas pelayanan berakhir, masih ada laporan yang harus diselesaikan, kegiatan administratif yang harus dipenuhi, serta berbagai tuntutan dokumentasi yang semakin kompleks.
Tidak jarang muncul ungkapan seperti:
“Saya tetap bekerja dengan baik, tetapi sekarang saya tidak lagi mengambil lembur tambahan jika tidak benar-benar diperlukan.”
“Saya tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi saya mulai menjaga waktu untuk keluarga.”
“Saya tidak lagi aktif dalam banyak kegiatan tambahan karena ingin menjaga kesehatan saya sendiri.”
Pernyataan-pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Fenomena inilah yang dalam berbagai literatur mulai dikaitkan dengan quiet quitting (Zhang et al., 2024).
Antara Dedikasi dan Kelelahan
Profesi keperawatan memiliki karakteristik yang unik. Tidak banyak profesi yang harus berhadapan secara langsung dengan rasa sakit, kecemasan, kehilangan, bahkan kematian setiap hari. Perawat juga dituntut untuk tetap menunjukkan sikap empati dan profesional meskipun sedang menghadapi tekanan pribadi.
Dalam jangka panjang, tuntutan tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental tenaga keperawatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan burnout sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Kelly dan kolega (2021) menunjukkan bahwa burnout pada perawat berkaitan dengan meningkatnya kesalahan pelayanan, menurunnya kepuasan kerja, meningkatnya niat untuk pindah kerja, hingga tingginya angka turnover tenaga kesehatan.
Pasca pandemi COVID-19, berbagai negara melaporkan peningkatan tingkat kelelahan pada tenaga kesehatan. American Nurses Foundation (2023) bahkan menemukan bahwa banyak perawat mengalami kelelahan emosional yang berkepanjangan meskipun fase kritis pandemi telah berlalu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak pandemi tidak berhenti ketika jumlah kasus menurun. Sebaliknya, banyak tenaga kesehatan masih membawa “bekas luka psikologis” akibat pengalaman kerja yang sangat berat selama beberapa tahun terakhir.
Apakah Quiet Quitting Bertentangan dengan Profesionalisme?
Pertanyaan ini sering muncul ketika membahas quiet quitting dalam profesi kesehatan.
Selama bertahun-tahun, budaya kerja di sektor kesehatan sering kali menganggap bahwa tenaga kesehatan yang baik adalah mereka yang selalu siap bekerja lebih, mengambil tugas tambahan, dan mengorbankan kepentingan pribadi demi pekerjaan. Namun, pandangan tersebut mulai mengalami perubahan.
Profesionalisme sejatinya bukan tentang bekerja tanpa batas. Profesionalisme adalah kemampuan menjalankan tugas sesuai standar kompetensi, kode etik, dan tanggung jawab profesi secara konsisten.
Seorang perawat yang menolak lembur karena kondisi fisiknya sudah lelah belum tentu tidak profesional. Justru keputusan tersebut dapat menjadi bentuk tanggung jawab agar tetap mampu memberikan pelayanan yang aman kepada pasien.
Lasater dan kolega (2021) menemukan bahwa kelelahan akibat beban kerja yang berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya risiko kesalahan pelayanan dan menurunnya kualitas asuhan keperawatan.
Dengan kata lain, menjaga kesehatan diri sendiri bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien.
Realitas di Rumah Sakit Pendidikan
Rumah sakit pendidikan memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan rumah sakit non-pendidikan. Selain memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit juga berfungsi sebagai wahana pembelajaran bagi mahasiswa, koas, residen, dan peserta didik berbagai profesi kesehatan lainnya.
Dalam konteks ini, perawat tidak hanya berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan, tetapi juga sebagai pembimbing klinik, fasilitator pembelajaran, pengawas praktik, hingga mitra kolaborasi antarprofesi.
Sebagai bagian dari sistem pendidikan kesehatan, saya melihat bahwa tuntutan terhadap perawat klinis semakin kompleks. Mereka tidak hanya harus memastikan mutu pelayanan kepada pasien, tetapi juga mendampingi proses pembelajaran peserta didik yang jumlahnya terus bertambah.
Apabila beban tersebut tidak diimbangi dengan dukungan organisasi yang memadai, maka risiko kelelahan kerja akan semakin besar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi motivasi kerja dan keterlibatan profesional tenaga keperawatan.
Ketika Quiet Quitting Menjadi Sinyal Organisasi
Fenomena quiet quitting seharusnya tidak selalu dipandang sebagai masalah individu. Dalam banyak kasus, fenomena ini justru merupakan indikator adanya persoalan sistemik dalam organisasi.
Ketika banyak tenaga kesehatan mulai menarik diri dari aktivitas tambahan, menolak lembur, atau kehilangan semangat berkontribusi, organisasi perlu bertanya:
- Apakah beban kerja sudah proporsional?
- Apakah staf merasa dihargai?
- Apakah lingkungan kerja mendukung kesejahteraan psikologis?
- Apakah kesempatan pengembangan karier tersedia secara adil?
- Apakah pimpinan cukup hadir dan mendengarkan kebutuhan staf?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menilai bahwa staf tidak lagi memiliki loyalitas.
Peran Pemimpin dalam Membangun Keterlibatan Kerja
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan pimpinan memiliki hubungan erat dengan tingkat keterlibatan kerja (work engagement) tenaga kesehatan (Al-Hamdan et al., 2023).
Pemimpin keperawatan dan manajemen rumah sakit perlu membangun budaya kerja yang sehat melalui beberapa langkah, antara lain:
- Mengelola beban kerja secara realistis.
- Menjamin kecukupan sumber daya manusia.
- Memberikan penghargaan atas kontribusi staf.
- Menyediakan program dukungan kesehatan mental.
- Membuka ruang komunikasi yang aman dan terbuka.
- Mendorong keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga.
Ketika tenaga kesehatan merasa dihargai dan didukung, mereka cenderung menunjukkan komitmen yang lebih tinggi terhadap organisasi.
Menjaga Mereka yang Menjaga Orang Lain
Pada akhirnya, diskusi tentang quiet quitting membawa kita pada satu refleksi penting: siapa yang menjaga para tenaga kesehatan?
Selama ini perhatian sering terfokus pada keselamatan pasien, mutu pelayanan, dan pencapaian indikator kinerja. Semua itu memang penting. Namun organisasi kesehatan juga perlu memberi perhatian yang sama terhadap kesejahteraan para tenaga kesehatan yang menjalankan sistem tersebut setiap hari.
Perawat adalah profesi yang dibangun di atas kepedulian terhadap sesama. Namun kepedulian itu tidak akan dapat dipertahankan apabila mereka terus bekerja dalam kondisi lelah, tidak didengar, dan kehilangan keseimbangan hidup.
Quiet quitting mungkin bukan ancaman terbesar bagi dunia keperawatan. Ancaman yang sesungguhnya adalah ketika organisasi gagal mengenali tanda-tanda kelelahan yang dialami tenaga kesehatan dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Mungkin sudah saatnya kita memandang fenomena ini bukan sebagai bentuk menurunnya dedikasi, melainkan sebagai pengingat bahwa profesionalisme yang berkelanjutan hanya dapat terwujud ketika tenaga kesehatan juga memperoleh kesempatan untuk menjaga dirinya sendiri.





