
1/
Jangan pernah bermain dengan kata-kata
Bila pada akhirnya membuat sebuah hati gulana
Bahkan mungkin raga pun terluka.
Selamat pagi Pujangga,
Malam yang terlewati tak kuucap selamat bermimpi, karena mungkin tak akan lagi ada impian
Sedang pagi sudah mengucapkan salamnya dalam sepi
Kan nikmati hari-hariku dengan bercengkrama bersama dinding waktu
Bersenda gurau bersama anak-anak kalimat yang merindu
Tak akan kutitipkan keraguan pada aksaramu
Karena suatu saat pasti tiada dan akan terlupa
2/
ketika ruang telah kosong dan sepi, hanya tinggal sebuah mozaik kenangan pada dinding hati, biarkan walau tak ada lagi asa, atau cinta dari dia
bukan berarti kaki berhenti meniti atau jemari mati menari
3/
Pada waktu yang datang dan pergi, biarkan hati dan kepalaku bernyqnyi
tanpa ada sebuah ornamen kekesalan di dalamnya
dan kirimkan hadiah terindah untuk selamanya,
Perjalanan ini harus bail-baik saja
Jangan ada hiasan luka
4/
sebentar lagi fajar, aku belum menemukan kata yang tepat untuk kusematkan pada dinding malam
tentang seutas harapan yang lepas terhempas
tentang ribuan derita yang menyumbat asa
tentang kisah yang hanya terbalut resah
aku tak ada dan tak akan pernah ada
5/
Apa kabar Pujangga
masih belum kutemukan juga aksara yang tepat untuk menceritakan pada waktu
walau puing puing kerinduan telah kubingkai pada dinding pengharapan
Tak lupa kuucap selamat pagi pada kata-kata yang mayungi hari
6/
Salam senja Pujangga,
aku masih belum tahu di mana akan kuletakkan kolase-kolase kisah hari ini
sedang waktu beranjak meremang, mentari siap mengucapkan perpisahan
sedang aku masih menata puing-puing harapan yang berserak
Salam senja Pujangga, sepertinya angin sejuk belum bisa menyingkirkan terik di atas kepala, hingga sekujur rasa penuh butir-butir penyesalan, mengapa aku jatuh hati pada sebuah aksara.
Merah saga di ufuk barat pun menertawakan kegaduhan dalam dada
7/
Selamat malam pujangga
Ini bukan hanya tentang sebuah kata rindu
Atau bait-bait merdu merayu
Ini hanya sekadar menyisir kisah bagaimana kita menghabiskan waktu
Melukiskan setiap angan pada huruf-huruf yang syahdu
Seperti kunang-kunang yang dulu selalu menghiasi alam
Membeikan kerlip mungilnya pada malam
Ada ruang yang setidaknya patut untuk dikenang
Tsm, 21 September 2021
*Puisi ke 21 KMAA
Sudah ditulis di blog pribadi dengan sedikit penyuntingan











