SERPIHAN CERMIN RETAK 15 Tung Widut Hari itu mendung benar-benar menyelimuti langit abu-abu. Daun hijau diselimuti duka yang sangat mendalam. Bunga-bunga yang ada di taman rumah tak mau bermekaran. Seakan

SERPIHAN CERMIN RETAK 14

SERPIHAN CERMIN RETAK 14 Tung Widut “Apapun alasannya, kamu harus selalu menemani. Sekarang kamu balik ke          rumah sakit. Aku yang mengantarkan orderan,” tangan Pak Carlos mencabut       kunci sepeda

SERPIHAN CERMIN RETAK 14

SERPIHAN CERMIN RETAK 14 Tung Widut “Apapun alasannya, kamu harus selalu menemani. Sekarang kamu balik ke          rumah sakit. Aku yang mengantarkan orderan,” tangan Pak Carlos mencabut       kunci sepeda

SERPIHAN CERMIN RETAK 12

SERPIHAN CERMIN RETAK 12 Tung Widut “Diri kamu  hanya seharga  dua puluh lima juta.  Oh betapa rendah,”  kata pak Carlos dengan wajah sinis. “Bapak boleh menghina saya apa saja,  tapi

SERPIHAN CERMIN RETAK 11

    SERPIHAN CERMIN RETAK 11 Tung Widut “Aku tak mau kehilangan pekerjaan lagi,” kata Yuandra. Mobil Soni kelihatan melaju mendekati mereka berdua, sambil  membuka kaca bagian depan  dia melambaikan

SERPIHAN CERMIN RETAK 10

SERPIHAN CERMIN RETAK 10 Tung Widut Setengah jam sudah Pak Carlos membelah keramaian jalanan. Hiruk pikuk ramainya kota ditinggalkan . Warna sejuta senyum para pengguna jalan pun dilupakan. Kini tiba

SERPIHAN CERMIN RETAK 9

SERPIHAN CERMIN RETAK 9 Tung Widut Lamunan Pak Carlos mengembara sampai jauh. Mulai saat dia pertama kali melihat wajah ayu. Wajah yang sekarang mengganggu hidupnya. Mengganggu pikirannya,  dan mengganggu pekerjaannya.

SERPIHAN CERMIN RETAK 8

    SERPIHAN CERMIN RETAK 8 Tung Widut Keduanya diam beberapa saat. Pak Carlos tak tahu apa yang harus dikatakan       dengan cerita Yuandra. “Aku pernah pernah  protes kepada Allah.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.