Siti Zaenab binti Hamzah: Ibu Tangguh Penjaga Harapan Ta

Terbaru17 Dilihat



Ibuku bernama Siti Zaenab binti Hamzah. Lahir di Jakarta tanpa diketahui tanggalnya pada saat dunia dilanda resesi besar yang disebut “Zaman Malaise” tahun1933. Genap berusia tujuh puluh delapan tahun ibuku
wafat di awal 2011. Allahumagfirlaha warhamha, wafu’anha, al Fatihah….

Jejak Awal di Tengah Keterbatasan

Kehidupan Siti Zaenab dimulai dengan ujian berat. Sejak masih kanak-kanak, ia sudah kehilangan ibunya — menjadi anak piatu yang harus melangkah sendiri karena sang ayah membentuk keluarga baru. Ia kemudian diasuh dan dibesarkan di Rumah Piatu Muslimin (RPM) yang terletak di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Lembaga ini bukanlah tempat baru. RPM sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda, bertahan melewati masa pendudukan Jepang, hingga tetap beroperasi hingga hari ini. Rumah Piatu Muslimin (RPM) Kramat Raya, Jakarta Pusat. RPM didirikan oleh para istri pengurus Sarekat Islam pada 1931. Awalnya, rumah ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak Islam yang kehilangan ibunya semasa perang karena dianggap menderita dampak psikologis berat.

Di sanalah Ibu ku mendapatkan pendidikan, pengasuhan, dan bekal hidup yang membentuknya menjadi pribadi yang tabah, mandiri, dan rendah hati. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi zaman yang sulit, ia tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan memiliki keteguhan hati luar biasa.

Ia meninggalkan lingkungan RPM saat menginjak usia dewasa, ketika memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. 

Melangkah Menyertai Perjuangan

Kehidupan rumah tangganya dimulai dengan menikah bersama seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia asal Tegal, Jawa Tengah. Dari pernikahan ini, Ibu ku dikaruniai lima orang anak: tiga putra bernama Ramadhan,Efendi dan Zainudin, serta dua putri bernama Titin dan Dahlia.

Namun perjalanan rumah tangga tidak selalu berjalan lurus. Setelah berpisah dari suami pertamanya, Ibu ku melangkah maju kembali dan menikah dengan N. Sitinjak, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Kolonel dari Divisi X Siliwangi, yang berasal dari Balige, Sumatera Utara. Dari pernikahan keduanya, lahirlah seorang putra yang menjadi penulis kisah ini: Tumpal Daniel S.

Sebagai istri prajurit, Ibu Zaenab merasakan langsung pahit getirnya kehidupan di masa perjuangan dan awal berdirinya Republik Indonesia. Ia menyertai suami berpindah tempat tugas, hidup sederhana, jauh dari kemewahan, dan kadang harus menahan rindu serta rasa cemas saat suami bertugas menjaga keutuhan negeri. Ia menyaksikan dan melewati tiga masa sejarah yang berbeda: zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan dan pembangunan Republik Indonesia.

Menjahit Rezeki dan Masa Depan Anak

Pada tahun 1988, takdir kembali menguji ketabahannya. Suami keduanya — ayah saya — wafat dalam usia 82 tahun. Sejak saat itu, Ibu ku hidup sebagai janda perwira TNI dengan penghasilan hanya berupa uang pensiun sekitar satu juta rupiah per bulan — jumlah yang terasa sangat terbatas untuk menopang kehidupan sehari-hari dan membiayai pendidikan anaknya.

Namun, ia tidak pernah mengeluh atau meminta belas kasihan orang lain. Dengan keterampilan yang dimilikinya, Ibu ku mengandalkan sebuah mesin jahit tua bermerek Standar yang menjadi penopang kedua kehidupannya. Setiap hari ia duduk di sudut rumahnya, menjahit kebaya dan pakaian pesanan tetangga serta kenalan. Upahnya kala itu hanya berkisar 3.000 hingga 5.000 rupiah per potong. Sedikit demi sedikit, ia kumpulkan uang itu bersama uang pensiun yang diterimanya.

Dari keringat dan ketekunan itu, Ibu ku berhasil membiayai kebutuhan rumah tangga sekaligus menyekolahkan dan membesarkan semua anaknya — baik dari pernikahan pertama maupun kedua — hingga mereka menyelesaikan jenjang pendidikan dan berdiri di atas kaki sendiri. Bagi beliau, tidak ada bedanya kasih sayang dan tanggung jawab kepada setiap anak yang dirawatnya.

️ Akhir Perjalanan yang Penuh Makna

Selama hidupnya, Ibu Siti Zaenab dikenal sebagai wanita asli Betawi yang tegar, sederhana, dan penuh pengabdian. Ia melewati gelombang zaman yang sulit, menghadapi kehilangan, serta memikul tanggung jawab berat sendirian, namun tetap menjaga senyum dan ketenangan hati.

Perjalanan hidupnya berakhir pada pagi hari di tahun 2011. Ia terjatuh di kamar mandi rumahnya, dan kemudian dipanggil pulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Ia meninggalkan harta yang tak ternilai harganya: keteladanan, ketabahan, kejujuran, serta kasih sayang yang melimpah ruah. Bagi kami anak-anaknya, Ibu ku adalah bukti nyata bahwa kekuatan seorang wanita tidak diukur dari kekayaannya, melainkan dari kemampuannya tetap berdiri tegak, menjaga keluarga, dan membangun harapan di tengah segala keterbatasan.

“Wanita yang tumbuh dari keterbatasan, hidup untuk berbagi, dan pergi meninggalkan jejak kebaikan yang takkan pudar.”

Ciputat,
28 Juni 2026

Tumpal Daniel S

Tinggalkan Balasan