MENTERI AGAMA: Ekoteologi Untuk Diskursus Akademik
Seri ke-6: Aksi Nyata Ekoteologi – Dari Kata Menjadi Perbuatan
Oleh
Tumpal Daniel S
Seluruh ajaran, prinsip, dan peran lembaga agama tidak akan berarti jika tidak sampai ke tangan dan hati kita masing-masing. Di era disrupsi moralitas, seringkali kita berpikir: “Saya cuma satu orang, apa gunanya tindakan saya?” Atau menunggu orang lain, pemerintah, atau pihak lain yang memulai duluan.
Padahal ekoteologi mengajarkan: perubahan besar lahir dari kebaikan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Setiap langkah menjaga alam adalah wujud iman, tanggung jawab sebagai khalifah, dan bukti kasih sayang kepada sesama makhluk.
Aksi di Tingkat Individu
Kita mulai dari diri sendiri, karena perubahan dimulai dari hati:
✅ Mengubah pola pikir: Menganggap menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ibadah dan syukur kepada Allah SWT.
✅ Gaya hidup sederhana dan tidak boros: Makan secukupnya, hemat air dan listrik, hindari membeli barang yang tidak perlu. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya syetan” (QS. Al-Isra: 27).
✅ Bijak mengelola sampah: Memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan membuang sampah pada tempatnya.
✅ Menjaga kebersihan: Rasulullah SAW bersabda: “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Menjaga kebersihan lingkungan adalah cermin kebersihan hati dan iman kita.
✅ Menolak sikap apatis: Tidak menutup mata terhadap kerusakan alam, dan menyebarkan informasi yang benar serta menolak hoax tentang isu lingkungan.
Aksi di Tingkat Keluarga
Keluarga adalah sekolah pertama menanamkan nilai:
✅ Mengajarkan anak-anak mencintai alam sejak kecil: mengenalkan nama tumbuhan, hewan, dan mengajak merawatnya bersama.
✅ Membiasakan anak mematikan lampu atau keran air jika tidak dipakai, serta tidak membuang makanan.
✅ Menanamkan pemahaman bahwa alam adalah titipan Allah, yang harus kita jaga sebelum diteruskan kepada anak cucu kelak.
Aksi di Tingkat Masyarakat & Lingkungan
✅ Bergotong royong: Ikut serta membersihkan lingkungan, menanam pohon, atau menjaga sumber air desa/kelurahan. Gotong royong adalah tradisi luhur yang selaras dengan semangat ekoteologi.
✅ Mengawal keadilan: Jika ada kegiatan atau proyek yang merusak lingkungan dan merugikan warga lain, sampaikan aspirasi dengan cara santun dan sesuai aturan demi kebaikan bersama.
✅ Berkolaborasi: Bekerjasama dengan masjid, kelompok pengajian, karang taruna, dan lembaga sosial untuk menyebarkan pesan cinta alam.
Aksi Menghadapi Disrupsi Moralitas Secara Khusus
✅ Melawan anggapan: “Yang penting untung, boleh apa saja” – ingatlah bahwa rezeki yang halal dan berkah tidak boleh didapat dengan merusak hak orang lain dan ciptaan Allah.
✅ Menolak sikap: “Alam rusak urusan nanti” – kita tidak berhak mewariskan kerusakan kepada generasi mendatang.
✅ Mengingatkan sesama dengan cara yang baik, karena menyelamatkan satu kehidupan dan satu lingkungan adalah amal yang sangat besar nilainya.
Penutup Seri
Ekoteologi di era disrupsi pada akhirnya adalah kembali kepada jati diri kita sebagai manusia beriman:
– Menjalin hubungan yang benar dengan Allah Sang Pencipta,
– Menjalin hubungan yang adil dengan sesama manusia,
– Menjalin hubungan yang penuh kasih dengan seluruh ciptaan-Nya.
Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Mulai hari ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang paling mudah. Menjaga bumi adalah ibadah yang tak terputus, sampai kita kembali kepada-Nya.
Ekoteologi – Dari Kata Menjadi Perbuatan











