Karhutla: Kebakaran Terlihat, Luka Tersembunyi

Terbaru19 Dilihat


Ketika berita kebakaran hutan dan lahan menyebar, yang biasanya ditampilkan adalah: tiang api yang menjulang, satelit yang memetakan titik panas, dan kabut asap yang menutupi kota. Api dipadamkan, berita mereda — lalu semua seolah selesai. Padahal, bagian yang paling berbahaya justru yang tidak terlihat api dan tidak berhenti saat api padam.

Berikut adalah sisi-sisi karhutla yang jarang menjadi sorotan utama, namun justru yang paling merusak bangsa ini secara mendalam:

1. Jerebu — Pembunuh Senyap yang Tetap Menunggu Setelah Api Padam

Publik biasanya panik saat asap pekat menutup langit. Tapi begitu angin berhembus dan langit kembali biru, orang merasa aman. Padahal ancaman terbesar justru baru dimulai. Partikel halus PM2,5 — ukurannya seperseratus rambut manusia — tetap menggantung di udara berhari-hari bahkan berminggu-minggu . Ia tidak terlihat mata, tidak berbau menyengat, namun menembus paru-paru, masuk ke aliran darah, dan merusak organ dalam secara perlahan .

Menjadi “biaya tak terlihat”: Rawat inap jangka panjang, kerusakan paru-paru permanen, penurunan kecerdasan anak-anak — semuanya terjadi dalam diam, tidak masuk berita utama, namun menanggungnya adalah rakyat biasa.

2. Beban yang Jatuh Terberat ke Perempuan — Tak Pernah Dihitung dalam Angka Kerugian

Saat asap datang, berita bicara tentang sekolah diliburkan dan penerbangan tertunda. Tapi jarang yang bercerita tentang Marlina dan jutaan perempuan lainnya.

– Ibu hamil terpaksa mengungsi — risiko kelahiran prematur dan gangguan janin meningkat tajam
– Ibu rumah tangga harus menutup celah jendela, menyediakan air bersih, menjaga anak tetap di dalam rumah — beban kerja rumah tangga melonjak tanpa dihitung siapa pun
– Saat sumber air tercemar, merekalah yang berjalan lebih jauh mencari air — menambah kelelahan di tengah udara yang mencemari paru

Kerugian ekonomi karhutla selalu dihitung dalam miliaran rupiah lahan yang terbakar. Tapi beban waktu, tenaga, dan kesehatan perempuan — tidak pernah masuk dalam laporan mana pun.

3. Anak-anak — Generasi yang Tumbuh dengan Paru-Paru Lebih Ringkih

Sekolah diliburkan karena asap — dan itu dipahami sebagai tindakan sementara. Namun dampaknya menetap seumur hidup. Penelitian menunjukkan paparan asap saat usia pertumbuhan menyebabkan penurunan fungsi paru-paru yang tidak bisa pulih kembali, gangguan konsentrasi, dan risiko penyakit kronis di masa dewasa.

Anak-anak tidak memilih lahir di musim karhutla. Tapi mereka yang akan membayar harganya selama sisa hidup mereka — tanpa pernah tahu bahwa paru-paru mereka rusak saat mereka masih kecil.

4. Petani Kecil Dituduh, Padahal Mereka yang Paling Rugi — dan Bukan Pelakunya

Narasi yang paling sering disebarkan: “petani membakar hutan untuk membuka ladang.” Padahal fakta ilmiah menunjukkan 99,9% kebakaran disebabkan perbuatan manusia, namun sebagian besar terkait pembersihan lahan skala besar — bukan ladang gilir balik rakyat kecil. Studi di Kalimantan menunjukkan pembakaran skala tradisional hanya menyumbang sekitar 20% dari total luas kebakaran.

Yang terjadi justru sebaliknya:

– Petani kecil kehilangan ladang, hasil panen, dan sumber penghidupan karena api meluas tak terkendali
– Mereka dituduh, ditangkap, disalahkan — sementara konsesi besar yang membakar lahan jauh lebih luas sering kali lolos atau hanya dikenai denda kecil yang tak sebanding kerugiannya
– Ketika lahan gambut terbakar berbulan-bulan, rakyat yang tinggal di sekitarnya tidak punya tempat lari — tidak seperti pemilik perusahaan yang bisa tinggal di kota yang udaranya bersih. 

5. Pola yang Terulang Setiap Tahun — Bukan Bencana Alam, Tapi Pilihan Kebijakan yang Gagal

Karhutla bukan takdir. Ini adalah bencana buatan manusia yang bisa dicegah namun dibiarkan berulang . Di balik setiap titik api tersembunyi masalah struktural yang jarang dibongkar tuntas:

– Alih fungsi lahan gambut untuk konsesi perkebunan — membuka lahan dengan api adalah cara termurah, menghemat jutaan dolar dibanding alat berat
– Penegakan hukum yang lemah dan tidak merata — denda dan sanksi terhadap perusahaan pelaku sering kali tidak ditindak tegas, menciptakan budaya impunitas
– Penguasaan lahan yang timpang — di Kalimantan Tengah lebih dari 80% wilayah dikuasai konsesi; konflik batas lahan memicu kebakaran yang saling meluas
– Pengeringan lahan gambut demi perkebunan — gambut yang kering menjadi bahan bakar abadi yang menyala hingga ke akar dan sulit dipadamkan

Kita sibuk memadamkan api setiap tahun, tapi hampir tidak pernah serius menutup keran penyebabnya. Tahun ini padam, tahun depan muncul lagi — di tempat yang sama, dengan alasan yang sama.

6. Kerugian yang Sebenarnya — Bukan Hanya Rupiah, Tapi Masa Depan yang Dihanguskan

Pemerintah dan media sibuk menghitung kerugian ekonomi: triliunan rupiah hilang. Tapi ada kerugian yang tidak bisa diuangkan dan tidak bisa dipulihkan:

– Penurunan daya saing rakyat — anak yang paru-parunya rusak hari ini menjadi tenaga kerja yang kurang sehat dan kurang produktif besok
– Emisi karbon yang melepaskan karbon tersimpan ribuan tahun di gambut — mempercepat perubahan iklim yang justru memperparah kekeringan dan memicu kebakaran berikutnya: lingkaran setan
– Hilangnya kepercayaan dan rasa aman — rakyat tahu bahwa setiap tahun pada musim kemarau, mereka akan dikurung di rumah sendiri oleh udara yang beracun
– Gangguan pendidikan berulang — sekolah diliburkan, pembelajaran terhenti — terjadi berulang setiap tahun, menumpuk kerugian belajar yang tidak pernah dipulihkan.

PENUTUP

Jangan Hanya Memadamkan Api — Padamkan Juga Sebabnya

Kita sering berkata: “Ayo cegah karhutla!” Tapi siapa yang harus mencegahnya? Bukan rakyat kecil yang sudah menderita paling berat. Yang harus berubah adalah sistem yang membiarkan pembakaran lahan menjadi cara termurah untuk kaya.

Karhutla bukan sekadar soal api di hutan. Ia adalah soal siapa yang diuntungkan dari lahan yang dibuka, dan siapa yang menanggung biaya asapnya. Selama yang membakar dengan sengaja tidak ditindak tegas, dan yang menderita adalah rakyat yang tak bersalah — maka setiap Agustus dan September ke depan, kita akan kembali melihat langit kelabu, berita api, dan kemudian melupakannya lagi sampai tahun berikutnya.

Padahal rakyat tidak butuh simpati saat api sudah besar. Rakyat butuh keadilan sebelum api menyala — agar api itu tidak pernah menyala lagi.

Sumber:

1. Mongabay — Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan (11/8/2026)
2. LPP RRI — Bahaya Tersembunyi Jerebu (27/1/2026)
3. SuaraSumsel — Wajah Lain Krisis Karhutla (21/8/2026)
4. Suara BSDK — Prof. Bambang Hero: 99,9% Karhutla Akibat Manusia (5/8/2026)
5. WRI Indonesia — Kebakaran Hutan dan Lahan
6. Planologi — Karhutla Sumatera Selatan: Faktor Struktural
7. WALHI — Pola Penguasaan Lahan di Kalimantan

Ciputat, 22 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan