Puluhan tahun lamanya, wajah pendidikan di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal — serta di tempat yang sering diterjang bencana alam — terlihat sama dan tidak pernah berubah. Dinding retak, atap bocor, lantai rusak, tak ada air bersih, tak ada tempat yang layak untuk mencuci tangan. Sekolah-sekolah itu berdiri rapuh, menua tanpa perawatan, seolah menjadi urusan yang terlalu berat bagi pemerintah daerah untuk menanggungnya sendiri. Siswa tetap datang belajar di gedung yang nyaris tak layak dipakai, dan harapan untuk mendapatkan pendidikan yang layak seakan menjadi sesuatu yang jauh dari jangkauan.
Namun di tangan Presiden Prabowo, hal yang tertunda puluhan tahun itu kini bergerak cepat. Program Revitalisasi Sekolah digulung dengan tekad yang teguh: tak ada lagi siswa yang harus belajar di gedung yang membahayakan keselamatannya. Pada tahun 2025, dengan anggaran sebesar Rp17 triliun, lebih dari 15.000 sekolah berhasil diperbaiki. Dan di tahun 2026, hingga saat ini, sudah tercatat lebih dari 11.000 sekolah yang selesai direnovasi dengan anggaran Rp14 triliun. Seluruhnya dicanangkan agar hingga akhir tahun 2026 nanti, sebanyak 71.000 sekolah dapat diperbarui secara menyeluruh — tak sekadar diperbaiki temboknya, tetapi juga dilengkapi dengan air bersih, sanitasi yang layak, dan lingkungan yang sehat.
Yang patut kita renungkan bersama: anggaran sebesar ini tidak dipungut dari rakyat dengan beban tambahan. Dana Revitalisasi Sekolah ini bersumber dari efisiensi anggaran negara dan hasil pengembalian kerugian negara dari para koruptor. Inilah maknanya: uang yang dulu dirampas dan disalahgunakan, kini kembali ke rakyat — dipakai untuk membangun tempat anak-anak belajar. Uang yang dulu menjadi milik segelintir orang tidak jujur, kini berubah menjadi tembok yang kokoh, atap yang tak bocor, air yang mengalir bersih untuk jutaan siswa.
Dan di sinilah letak satira yang paling jujur: puluhan tahun kita menunggu, gedung sekolah rusak dibiarkan, dan tak pernah ada program seperti Makan Bergizi Gratis maupun Kopdes Merah Putih yang menyerap anggaran besar untuk mengubah wajah pendidikan di desa-desa. Sekarang, ketika MBG dan Kopdes Merah Putih hadir berdampingan — justru Revitalisasi Sekolah yang membutuhkan biaya luar biasa besar ini terlaksana dengan cepat.
Bukan berarti dulu tidak ada uang. Dulu uang ada, namun bocor, tumpang-tindih, habis di perjalanan, dan hilang di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Kini, setelah kebocoran ditutup dan uang dikembalikan ke pemiliknya yang sesungguhnya — rakyat — barulah kita mampu melakukan hal-hal besar yang dulu hanya menjadi impian.
“Dulu uang habis, sekolah tetap rusak. Sekarang uang kembali dari tangan yang mencurinya, dan sekolah pun bangkit. Inilah bukti sederhana: ketika negara kembali memegang kendali yang benar, hal yang mustahil selama puluhan tahun, dapat terwujud dalam hitungan tahun.”
Puluhan tahun anak-anak bangsa bersabar menempati gedung yang tidak layak. Kini giliran mereka mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya: sekolah yang layak, aman, bersih, dan sehat. Bukan karena keajaiban terjadi, melainkan karena negara akhirnya berhenti membiarkan kekayaan rakyat dicuri, dan mulai mengembalikannya kepada Revitalisasi Sekolah: Dari Dibiarkan Puluhan Tahun, Kini Tiba Saatnya
Puluhan tahun lamanya, wajah pendidikan di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal — serta di tempat yang sering diterjang bencana alam — terlihat sama dan tidak pernah berubah. Dinding retak, atap bocor, lantai rusak, tak ada air bersih, tak ada tempat yang layak untuk mencuci tangan. Sekolah-sekolah itu berdiri rapuh, menua tanpa perawatan, seolah menjadi urusan yang terlalu berat bagi pemerintah daerah untuk menanggungnya sendiri. Siswa tetap datang belajar di gedung yang nyaris tak layak dipakai, dan harapan untuk mendapatkan pendidikan yang layak seakan menjadi sesuatu yang jauh dari jangkauan.
Namun di tangan Presiden Prabowo, hal yang tertunda puluhan tahun itu kini bergerak cepat. Program Revitalisasi Sekolah digulung dengan tekad yang teguh: tak ada lagi siswa yang harus belajar di gedung yang membahayakan keselamatannya. Pada tahun 2025, dengan anggaran sebesar Rp17 triliun, lebih dari 15.000 sekolah berhasil diperbaiki. Dan di tahun 2026, hingga saat ini, sudah tercatat lebih dari 11.000 sekolah yang selesai direnovasi dengan anggaran Rp14 triliun. Seluruhnya dicanangkan agar hingga akhir tahun 2026 nanti, sebanyak 71.000 sekolah dapat diperbarui secara menyeluruh — tak sekadar diperbaiki temboknya, tetapi juga dilengkapi dengan air bersih, sanitasi yang layak, toilet dan lingkungan yang sehat.
Yang patut kita renungkan bersama: anggaran sebesar ini tidak dipungut dari rakyat dengan beban tambahan. Dana Revitalisasi Sekolah ini bersumber dari efisiensi anggaran negara dan hasil pengembalian kerugian negara dari para koruptor. Inilah maknanya: uang yang dulu dirampas dan disalahgunakan, kini kembali ke rakyat — dipakai untuk membangun tempat anak-anak belajar. Uang yang dulu menjadi milik segelintir orang tidak jujur, kini berubah menjadi tembok yang kokoh, atap yang tak bocor, air yang mengalir bersih untuk jutaan siswa.
Dan di sinilah letak satir yang paling jujur: puluhan tahun kita menunggu, gedung sekolah rusak dibiarkan, dan tak pernah ada program seperti Makan Bergizi Gratis maupun Kopdes Merah Putih yang menyerap anggaran besar untuk mengubah wajah pendidikan di desa-desa. Sekarang, ketika MBG dan Kopdes Merah Putih hadir berdampingan — justru Revitalisasi Sekolah yang membutuhkan biaya luar biasa besar ini terlaksana dengan cepat.
Bukan berarti dulu tidak ada uang. Dulu uang ada, namun bocor, tumpang-tindih, habis di perjalanan, dan hilang di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Kini, setelah kebocoran ditutup dan uang dikembalikan ke pemiliknya yang sesungguhnya — rakyat — barulah kita mampu melakukan hal-hal besar yang dulu hanya menjadi impian.
“Dulu uang habis, sekolah tetap rusak. Sekarang uang kembali dari tangan yang mencurinya, dan sekolah pun bangkit. Inilah bukti sederhana: ketika negara kembali memegang kendali yang benar, hal yang mustahil selama puluhan tahun, dapat terwujud dalam hitungan tahun.”
Puluhan tahun anak-anak bangsa bersabar menempati gedung yang tidak layak. Kini giliran mereka mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya: sekolah yang layak, aman, bersih, dan sehat. Bukan karena keajaiban terjadi, melainkan karena negara akhirnya berhenti membiarkan kekayaan rakyat dicuri, dan mulai mengembalikannya kepada pemilik yang sesungguhnya — anak-anak Indonesia.
pemilik yang sesungguhnya — anak-anak Indonesia.
#Hut81TahunBangsaIndonesiaMerdeka
REVITALISASI SEKOLAH: Dibiarkan Puluhan Tahun, Kini Diperbaiki





