Usia Hanya Angka, Semangat Tak Pernah Tua — Enam Tahun Menjadi Suluh di Tengah Keberagaman

Terbaru14 Dilihat


Di ruang Restoran Karimata, Taman Mini Indonesia Indah, pada tanggal 23 Agustus 2026, suasana terasa begitu hangat. Dua puluh orang berkumpul — ada purnawirawan, dosen, wartawan, guru, dan penggiat literasi — yang rata-rata usianya telah melewati setengah abad. Di tengah mereka berdiri sosok yang menjadi penggerak semuanya: H. Thamrin Dahlan, seorang purnawirawan Polri yang kini genap berusia 74 tahun. Hari itu mereka merayakan ulang tahun ke-6 Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan Jakarta — bukan dengan pesta megah, melainkan dengan kebersamaan yang tulus dan karya yang nyata.

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Namun bagi mereka, enam tahun ini bukanlah tanda penuaan — ia adalah bukti bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Bukan Purnabakti, Melainkan Awal Perjalanan Baru

Ketika seseorang memasuki usia pensiun, dunia sering kali berkata: “Istirahatlah. Nikmati masa tua.” Namun di bawah kepemimpinan Pak Thamrin, justru di usia yang ke-68 lah penerbit ini lahir. Bukan untuk mencari keuntungan, bukan untuk meraih jabatan — melainkan untuk menyumbangkan apa yang telah diketahui, dialami, dan dipelajari sepanjang hidup agar tidak hilang begitu saja.

“Masa tua bukanlah tempat untuk berhenti. Ia adalah waktu di mana kita paling bebas untuk memberi — karena kita tidak lagi perlu membuktikan diri kepada siapa pun.”

Dari tangan dan pikiran para penulis yang berusia di atas 50 tahun ini, telah lahir 414 buku — karya ilmiah populer yang merentang luas dari sejarah, budaya, pendidikan, hingga kehidupan bermasyarakat. Setiap buku adalah jejak; setiap halaman adalah bukti bahwa pengalaman hidup adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.

Keberagaman Itu Kekuatan — Bukan Pemisah

Yang paling indah dari komunitas ini bukanlah jumlah bukunya, melainkan siapa yang menuliskannya. Ada mantan perwira yang terbiasa dengan kedisiplinan baris-berbaris, kini menulis tentang nilai-nilai kebangsaan. Ada guru yang puluhan tahun berdiri di depan kelas, kini menuangkan ilmunya ke dalam lembar-lembar yang bisa dibaca siapa saja. Ada wartawan yang seumur hidup mencatat peristiwa, kini merenungkan makna di balik peristiwa itu. Ada dosen, ada penggiat masyarakat — mereka berbeda latar, berbeda keahlian, berbeda cara pandang.

Namun di meja kerja penerbit ini, perbedaan itu tidak menjadi tembok. Ia justru menjadi warna-warni yang saling melengkapi.

Mereka membuktikan sesuatu yang sangat sederhana namun sering dilupakan: kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa bekerja sama.

Setiap buku yang lahir membawa sudut pandang yang berbeda — namun semuanya menyatu dalam satu semangat: membangun pemahaman, menumbuhkan kebaikan, menjaga harmoni. Di tengah zaman yang sering kali terbelah oleh perbedaan, Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan hadir sebagai suluh — penerang yang lembut namun teguh, mengingatkan kita bahwa kita tetap satu bangsa di atas segala perbedaan.

Pesan Terindah untuk Siapa Saja, Terutama Bagi Mereka yang Mulai Menua

Kisah enam tahun ini adalah pesan yang paling dalam bagi setiap orang yang merasa usia mulai menua, merasa tenaga mulai berkurang, atau merasa dunia sudah tidak lagi menanti kehadirannya:

Jangan pernah berpikir bahwa masa produktif hanya milik mereka yang muda. Semangat tidak punya usia. Pikiran tidak berkerut seiring kulit yang menua.

– Bagi mereka yang sudah berkepala putih: pengalamanmu adalah harta yang tidak dimiliki siapa pun yang lebih muda darimu. Tulis ceritamu, bagikan hikmahmu — dunia sangat membutuhkannya.
– Bagi mereka yang merasa pensiun adalah akhir: purnabakti bukanlah garis finis. Ia adalah kesempatan untuk melakukan apa yang kau cintai, tanpa terikat aturan dan kewajiban jabatan.
– Bagi siapa saja yang ragu memulai di usia lanjut: enam tahun lalu, di usia 68 tahun, Pak Thamrin memulai. Kini ratusan buku telah lahir. Maka tak ada alasan bagi siapa pun untuk berkata: “sudah terlambat.”

Penutup: Menjadi Suluh Hingga Nanti

Enam tahun berlalu. 414 buku telah terbit. Puluhan penulis dengan latar beragam terus berkarya. Di usia yang ke-74, Pak Thamrin masih berdiri di garis depan. Bukan karena ia tak pernah lelah — tapi karena ia tahu, selama ada pikiran yang bisa dituangkan dan hati yang ingin berbagi, maka kehidupan itu tetap bermanfaat.

“Bukan berapa lama kita hidup yang dihitung. Melainkan berapa banyak yang kita berikan selama kita hidup.”

Semoga kisah ini menjadi api yang tak pernah padam — mengingatkan kita semua: usia boleh menambah, tapi semangat untuk memberi tidak boleh menua. Dan semoga Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan terus menjadi suluh di tengah keberagaman Indonesia — merentang jauh ke depan, menerangi jalan generasi-generasi yang akan datang.

# Selamat Ulang Tahun Ke 6 Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan

 Ciputat, 23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan