
Urung Jadi TKI,Jadi TKM
Pemuda asal desa Kanigoro,Kediri,Jatim ini semula berkeinginan jadi TKI/PMI,namun dia merobah niatnya jadi tenaga kerja mandiri dengan bekal kemampuannya memodivikasi motor gede,dia buka usaha bengkel. (dokpri)
Oleh : Erwan Mayulu
Pada tahun anggaran 2021 Kementerian Ketenagakerjaan mengucucurkan dana sebabai bantuan dana untuk menstimulan usaha ultra mikro dan mikro para tenaga kerja mandiri (TKM) yang terdampak pandemi Cocid-19.
Program bantuan pada TKM merupakan komitemen pemerintah dalam melindungim pekerja informal dimasa pandemi. Program TKM merupakan salah satu bagian dari jaring pengaman sosial yang disiapkan Kemnaker dan telah berjalan sejak 3 Oktober 2020 . Dana stimulus bagi TKM dirasakan sangat bermafaat dan dibagikan pada waktu yang tepat.Sebab pandemi ketika itu dampaknya paling dirasakan masyarakat miskin, rentan miskin, dan pekerja informal. Berdasarkan Survey Sosial Demografi Dampak Covid-19 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS),pada 2 Juni 2020, sebanyak 70,53 persen responden dalam kelompok masyarakat berpendapatan rendah atau berpenghasilan di bawah Rp1,8 juta per bulan mengaku mengalami penurunan pendapatan. Sementara itu, kalangan lain yang mengalami permasalahan yang sama yaitu, masyarakat berpenghasilan Rp1,8 juta-Rp3 juta per bulan (46,77 persen), masyarakat berpenghasilan Rp3 juta-Rp4,8 juta per bulan (37,19 persen), dan masyarakat berpenghasilan Rp4,8 juta-Rp7,2 juta per bulan (31,67 persen). Tiga dari 10 responden kelompok berpendapatan tinggi di atas Rp7,2 juta mengaku mengalami penurunan pendapatan.
Secara nasional jumlah pekerja informal mendominasi lebih dari 60 persen jumlah pekerja di Indonesia. Karena itu, program bagi para pekerja informal menjadi penting untuk disiapkan. Program-program tenaga kerja mandiri dilakukan dalam rangka melindungi mereka untuk meningkatkan kompetensi sekaligus produktivitas kerja mereka, sehingga otomatis dengan peningkatan kompetensi dan produktivitas juga akan meningkatkan pelindungan pekerja informal.
Begitu besarnya jumlah pekerja di sektor informal ini maka tak heran jika TKM jadi salah satu program unggulan Kenenterian Ketenagakerjaan dalam menanggulangi pengangguran. Lewat program bantuan dana stimulan ditargetkan muncul wirausahawan berskala utra mikro maupun mikro. Meski usahanya berksala sangat kecil namun setidaknya tercitpa lapangan usaha baru atau lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan orang lain . Prinsipnya, orang bekerja dan berpenghasilan. Maka TKM menjadi solusi atasi pengangguran.
Bagaimana kelanjutan usaha para TKM itu setelah setahun mendapatkan dana stimulan. Apakah mereka bertahan, berkembang atau tumbang diterpa pandemi?
Menurut Widi Wijanarko, Ketua Kelompok Substansi Tenaga Kerja Mandiri, Direktorat Bina Perluasan Kesempatan Kerja,Kementerian Ketenagakerjaan, ternyata sebagian besar TKM yang memperoleh dana stimulan bertahan hingga saat ini. Meski diakui ada juga yang tumbang namun prosentasenya sangat kecil. Dari pemantaunya, sangat besar usaha TKM yang bertahan dan bekembang
Secara umum, program ini dirasakan bermanfaat dan telah membantu para pelaku usaha ultra mikro dan mikro dari dampak Covid-19, program ini juga dirasakan efektif menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin berwirausaha mulai dari usaha kecil – kecilan.Hingga akhirnya program ini bisa menciptakan lapangan kerja dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Widi mengemukakan, program ini diberikan kepada kelompok usaha ultra mikro dan mikro dan pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi daerah agar memacu kreativitas masyarakat setempat demi memperbanyak kesempatan kerja. Alhasil, program ini sangat membantu, terutama saat masa pandemi.
Selain memberikan bantuan dana antara Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta, para TKM diberikan pelatihan selama 3 hari tentang cara membuat kemasan produk yang baik, menarik dan layak jual, bagaimana menciptakan branding, teknik produksi makanan yang hygenis, manajemen pemasaran serta manajemen keuangan.
Juga diberikan motivasi berwiraswasta dan dinamika kelompok, Para peserta pelatihan wirausaha ini diberikan motivasi untuk menjadi pekerja mandiri, berkarya dan sejahtera. Tujuannya,para tenaga kerja mandiri (TKM) ini selain bisa mendapatkan penghasilan untuk keluarga juga bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi orang lain.
BANGKIT DAN PERLUAS KE PASAR DIGITAL
Dari evaluasi yang dilakukan setelah setahun digulirkannya program jaring pengaman sosial ini diperoleh data penting yaitu bangkitnya usaha ultta mikro dan mikro yang dikelola TKM. Ditengah wabah pandemi, dana stumulan dan pelatihan itu menjadi pemicu bangkitnya usaha pada TKM.
Berbekal keadaan i itu, Direktorat Bina Perluasan Kesempatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan memberikan bimbingan teknis (Bimtek) pada 1.300 TKM pelaku usaha ulttra mikro dan mikro dari DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten selama tiga hari yaitu pada Senin – Rabu ( 6-8/6/2022) di Jakarta. Bimtek bertajuk Peningkatan Kapasitas Tenaga Kerja Mandiri disambut antusias para TKM. Dari seribu undangan yang disebar panitia, yang hadir sebanyak 1.300 TKM.
Materi yang diajarkan pada bimtek itu adalah bagaimana bermitra dengan pelaku pemasaran digital atau marketplace, bagaimana memperoleh tambahan permodalan, pembukuan usaha dan bagaimana mengurus perijinan usaha. Untuk pemasaran digital dihadirkan nara sumber dari Grab.Com yang memiliki jaringan luas dalam pemasaran online di seluruh Indonesia. Untuk membantu permodolan para pelaku usaha TKM, dihadirkan nara sumber dari PT.Amarta, platform kredit keyangan mikro. Juga dihadirkan dua konsultan yaituPT Pos, platform pembukuan online dan PT Bizlaw, konsultran dan konsultan rumah patent. Keduanya konsultan legal dan perijinan usaha. Materi yang diberikan oleh lembaga yang tepat ini sangat dibutuhkan para TKM sehingga mereka bisa melengkapi hal – hal diperlukan saat masuk ke pasar digital. Bimbentek itu terasa lengkap dengan hadirnya secara langsung pihak perbankan yaitu Bank Negara Indonesia 1946 (Bank BNI 46). Pihak BNI menyatakan siap mendukung pdermodalan para TKM binaan Kementerian Ketenagakerjaan ini.
Pada bimtek ini dipaparkan, untuk masuk ke pasar digital yang sangat luas dan menjanjikan ini tidak cukup dengan produk yang dibuat para TKM. Tetapi para TKM perlu melengkapinya dengan hal – hal lain seperti permodalan yang cukup, perijinan usaha dan patent produk itu sendiri. Dengan kelengkapan itu, usaha TKM tidak saja bangkit tapi juga diharapkan bisa melambung tinggi melalui pemasaran digital.
Antusiasnya para TKM mengikuti bimtek ini hingga konsultasi antara pelaku usaha dan aplicant (pengembangan aplikasi) digital itu berlanjut diluar jam pelajaran. Hal -hal yang ditanyakan dan dikonsultasikan para TKM adalah soal praktisi yang mereka hadapi sehari – hari dalam usahanya dan bagaimana caranya bisa merambah pasar digital.
Widi Wijanarko optimis , setelah bimtek,masyarakast TKM akan go online dengan menginstal aplikasi grab,Pita Pos,Amarta atau aplikasi lainnya, termasuk BNI yang akan membuat mereka terhubung dengan mudah. Pada tahap pertama ini ke 1.300 TKM akan jadi mitra aplikasi dari aplicant yang dihadirkan. Alasan Widi Wijanarko optimis akan melambungnya usaha TKM lewat pemasaran digital ini karena didukung penunjang utama untuk sukses di pemasaran. Pertama, produknya ada. Kedua, pasarnya ada yang didukung oleh teknologi dan distrubusi online. Ketiga modal di dukung perbankan yang siap mengucurkan dana lewat skema kredit usaha rakyat (KUR) yang berbunga rendah dan persyaratan mudah.
Mengenai produk atau barang apa yang dijual, Widi Wijanarko menjelaskan, para TKM ini memang adalah pelaku usaha yang muncul dengan kesadaran sendiri untuk mandiri dan mereka telah memiliki usaha dengan produknya sendiri. Dan, usaha mereka itu beragam yang secara umum mereka bergerak di tiga klaster usaha. Yaitu usaha kuliner, usaha kreatif dan usaha perdagangan Ketiga usaha ini pasarnya sangat besar karena menjadi kebutuhan masyarakat.
Yang menjadi hambatan selama ini adalah ketidakmampuan para TKM memasarkan produknya.Pemasaran masih terbatas di lingkungannya.
Digandengnya aplicant pemasaran digitial dan konsultan bisnis digital, maka hambatan itu diurai. Lewat bimtek ini, para TKM itu terbuka akses pemasarannya. Dipastikan ke 1.300 TKM itu akan jadi mitra aplikasi pemasaran, konsultan dan perbankan itu.
Optimisme akan membesarnya usaha para TKM ini juga dilontarkan Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Suhartono.
Karena kuncinya keberhasilan pemasaran saat ini terletak pada kreativitas dan cerdas menggunakan media sosial online secara produktif.
Sebagai langkah kongkrit Suhartono menganjurkan sebanyak 1.300 TKM dijadikan satu kamar dalam platform media sosial hingga mereka menjadi produsen sekaligus jadi konsumen dari sesama anggota media sosial itu.
Apalagi pemasaran proruduk dari 1.300 TKM itu diperluas oleh jaringan market place terkemuka.
“Saya yakin usaha TKM ini akan jadi besar”,tandas Suhartono.
Dengan kemajuan teknologi digital saat ini,apa saja bisa dijual meski kita tidak memiliki sendiri produk yang di jual.
Cukup dengan modal handphone dan membuka akun instagram dan medsos lainnya,seseorang bisa menjual suatu barang,meski barang itu bukan produknya sendiri.
Suhartono memberi contoh,seseorang memotret menggunakan handphone kembang milik temannya, lalu diposting dan dijual melalui instagramnya,maka tanaman bunga itu laku terjual.
Kuncinya ada pada kreativitas dan mampu menggunakan handphone dan medsos secara produktif.
Terkait dengan itu,bimbingan teknis meningkatkan kapasitas TKM merupakan upaya menjadikan TKM Go Online.Merambah pemasaran digital.
Melalui pemasaran digital Suhartono optimis usaha para TKM akan jadi besar.
Prospek pasar digital cukup besar.Suhartono menunjuk hasil survey bahwa sudah 204 juta penduduk Indonesia sudah terhubung online.
Kelak, setelah ribuan TKM ini menjadi mitra marketplace akan dilakukan pendampingan oleh Direktorat Bina Perluasan Kesempatan Kerja,Kementerian Ketenagakerjaan. Pendampingan juga akan dilakukan secara online bersama aplicant marketplace.
Menurut Widi Wijarnako, aplicant Grab akan melaporkan berapa banyak TKM yang jadi marchentnya, termasuk omzetnya. Demikian juga aplicant lainnya. Dan , nantinya para TKM pelaku usaha ultra mikro dan mikro ini akan dihimpun jadi ekosistem wirausaha.
Erwan Mayulu,Penulis Ketenagakerjaan







