Timnas Indonesia baru saja meraih gelar juara pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026 di Jakarta setelah berpuasa sejak terakhir meraih gelar pada ajang SEA Games 1991 di Manila.
Dalam catatan kiprah Timnas Garuda level senior, memang gelar terakhir yang berhasil diraih untuk kawasan ASEAN adalah di SEA Games Manila 1991. Saat itu Timnas Indonesia asuhan Anatoli Polosin menang atas Thailand dalam drama adu penalti.
Pada final ASEAN Cup 2026 kali ini kembali Timnas Garuda Senior bertemu Thailand dan kembali menang melalui adu penalti dengan skor akhir 4-2 setelah dalam waktu normal dan perpanjangan skor masih imbang 2-2. Momen ini seperti dejavu dengan momen 35 tahun yang lalu.
Tentu ini adalah raihan yang sangat menggembirakan setelah selama 35 tahun dahaga gelar tersebut akhirnya terwujud saat ini.
Sesungguhnya apa yang telah diraih pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026 ini mungkin hanyalah sekedar memantaskan diri saja dari skuad asuhan John Herdman sebagai awal untuk level lebih tinggi.
Ajang turnamen tersebut merupakan gelaran resmi FIFA yang memungkinkan hampir seluruh pemain-pemain terbaik dari para peserta bisa bermain secara full team.
Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Indonesia serta dua peserta tamu yaitu Bangladesh dan Pakistan, menurunkan skuad terbaik mereka termasuk pemain-pemain yang bermain di luar negeri.
Sebagai tuan rumah, Timnas Indonesia memang diunggulkan untuk meraih trofi. Satu hal yang wajar jika Garuda sebagai unggulan di ajang tersebut.
Selain memiliki skuad yang pemain-pemainnya banyak berkompetisi di Eropa, juga dukungan ribuan suporter yang datang ke Stadion Gelora Bung Karno adalah amunisi hebat untuk menggetarkan lawan-lawan Garuda.
Fakta juga berbicara pada akhirnya Timnas Garuda berhasil meraih juara. Namun apakah setelah ini sudah cukup puas dengan gelar yang lama dirindukan selama 35 tahun puasa gelar?
Jawabannya TIDAK CUKUP. Gelar ini hanya sekedar awal dari proses untuk memantaskan diri bagi skuad Garuda berada pada level yang lebih tinggi.
Melihat performa selama turnamen ini berlangsung sangat jelas terlihat gambaran kekuatan sepak bola ASEAN selalu bertumpu pada 4 tim ini yaitu Thailand, Vietnam, Indonesia dan Malaysia.
Dalam rangking FIFA 4 tim tersebut juga menggambarkan kekuatan mereka. FIFA sudah merilis rangking terbaru sejak 7 Oktober 2026, Thailand memiliki ranking FIFA tertinggi (93), disusul berturut-turut Vietnam (99), Indonesia (116) dan Malaysia (133).
Kita cermati rekam jejak Timnas Garuda selama turnamen berlangsung saat mereka bertemu tim-tim tersebut. Dari rival 4 besar ASEAN itu Timnas Garuda sempat bertemu Malaysia dan Thailand.
Menghadapi Malaysia karena mereka ada dalam grup yang sama yaitu di Grup A sedangkan menghadapi Thailand, karena keduanya berhasil menginjak babak final.
Ketika menghadapi Malaysia, skuad John Herdman ini bermain dengan 10 pemain, karena Thom Haye mendapatkan kartu merah. Hampir 70 menit dikurung oleh Skuad Harimau Malaya, tetapi skuad Garuda berhasil menahan mereka imbang tanpa gol.
Pelajaran berharga dari laga ini adalah pentingnya fokus dalam bertahan menghadapi serangan gencar lawan dari berbagai sisi lapangan. Garuda berhasil melewatinya dengan baik.
Kemudian ketika laga final yang menjadi lawan Garuda adalah Thailand, skuad dengan ranking FIFA tertinggi di ASEAN. Menghadapi Gajah Perang, demikian julukan skuad Thailand, adalah seperti mengukur ada dimana level Garuda.
Mencermati sepanjang laga di final tersebut, Timnas Indonesia mendominasi permainan. Walaupun dalam hal duel skill antar pemain, terlihat kemampuan mereka tidak jauh berbeda.
Fakta juga menunjukkan bahwa laga ini sampai pada babak adu penalti menjadi bukti bahwa kedua tim memang memiliki level yang tidak jauh berbeda.
Hanya saja Timnas Garuda memiliki kedalaman skuad yang lebih merata dibandingkan dengan skuad Thailand. Ketika pemain-pemain senior Thailand sudah diganti pada akhir babak kedua maka tinggal pemain-pemain muda yang sedang berkembang yang harus turun membela negaranya.
Tentu saja mereka minim jam terbang menghadapi tekanan laga final tersebut. Hingga akhirnya momen adu penalti itu terjadi, maka semakin terlihat, skuad Indonesia lebih unggul dari Thailand.
Meskipun demikian tetap saja banyak yang harus dibenahi dari performa skuad Garuda. Terutama lini belakang yang masih sering kehilangan fokus. Emil Audero harus memungut 3 gol akibat lini belakang kehilangan fokus yaitu dua gol ketika lawan Bangladesh dan satu gol di laga final lawan Thailand.
Kedalaman lini tengah juga masih timpang. Sejauh ini hanya ada tiga pemain yang dimiliki oleh John Herdman yaitu Joey Pelupessy, Ivar Jenner dan Thom Haye. Karena terbatasnya lini tengah ini, Calvin Verdonk seringkali diperbantukan pada posisi gelandang bertahan di lini tersebut.
John Herdman harusmemutar otak untuk mendapatkan gelandang di lini tengah yang bisa melapisi skuad saat ini. Ricky Kambuaya bisa kembali dilirik untuk masuk dalam skuad Garuda.
Satu posisi lagi yang harus dicarikan solusinya adalah pada bek kanan yang selama ini selalu bertumpu kepada Kevin Diks. Cederanya Sandy Walsh, posisi bek kanan sangat rawan ketika Kevin Diks mengalami cedera misalnya.
Untuk itu dibutuhkan pendamping yang layak ada di posisi tersebut. Mungkin bisa dipertimbangkan untuk memanggil sosok Asnawi Mangkualam kembali masuk dalam skuad Garuda.
Agenda penting terdekat adalah Piala Asia 2027 yang berlangsung di Arab Saudi mulai Januari – Februari 2027. Timnas Indonesia satu grup dengan Jepang, Qatar dan Thailand. Hanya juara grup dan runner up yang berhak lolos ke babak knock out.
Semoga persiapan Timnas Garuda asuhan John Herdman dalam menghadapi ajang tersebut berjalan dengan baik.
Bravo Merah Putih @hensa17.
*****








