
“Setiap Orang bisa menjadi Guru, setiap Rumah bisa menjadi Sekolah.” – Ki Hajar Dewantara –
PAGI di hari Guru Nasional, aku mengurus absen, memposting tugas Belajar Dari Rumah (BDR) siswa untuk Guru kelas dan Pendidikan Agama Islam ( PAI ). Seperti biasa menyapa tetangga lingkungan sekolah, menyapa guruku lebih tepatnya kepala sekolahku yang kini tengah terbaring sakit. Seorang pedagang asongan tiba-tiba bercerita serasa mengajakku menepi. ” Bu Guru, anak-anak saya di rumah setiap hari marah-marah karena banyak tugas sekolah.” Begitu kata kang cilor, Pedagang aci telor. Sebenarnya bagi yayasan Madrasah kami di bawah naungan Kemenag sudah jelas untuk mengimplementasikan KKMA 2018. Setidaknya ada 3 hal yang ingin dicapai kurikulum, yaitu :
– Karakter
– Kompetensi
– Literasi
Dengan E Learning, pembelajaran dari rumah mampu memahami pengelolaan pembelajaran jarak jauh, sehingga mampu mengelola pembelajaran dari rumah secara epektif dan efisien. Tetapi memang ada Dilema belajar di rumah beberapa diantaranya yaitu :
– Orientasi pada target akademik Madrasah, dampaknya kurang memperhatikan perkembangan anak
– Belajar itu harus dipaksa, dampaknya membuat anak tidak nyaman
– Tindakan Orang tua di luar kontrol, dampaknya anak menjadi malas belajar
– Anak tidak mau belajar dengan Orang tua, dampaknya kurang sentuhan kasih sayang.
konsep Ngobrol di teras
Saat kegiatan parenting Bapak Anton Psikolog Grahita Indonesia memaparkan tentang Psikologi Keluarga dan Remaja di Yayasan Madrasah Tanwiriyyah tempat kami mengabdi. Kekuatan belajar E Learning ada pada Peran kerjasama. Kebutuhan anak saat PSBB itu adalah butuh teman, padahal Remaja semakin dilarang semakin melawan. Secara psikis anak ingin orang tuanya terlibat, berkolaborasi selama pandemi, karena keluarga Hebat adalah keluarga yang Terlibat. Banyak kegiatan seru saat kita berelaksasi tentang protokol kesehatan. Di masa pandemi ini 88% kegiatan/ bentuk belajar diserahkan kepada Orang tua.
Kepada kang cilor aku hanya menyarankan kegiatan seru, bercocok tanam, main game atau catur bareng dan mengobrol di teras tentang masa depan. Agar anak menjadi cerdas berkarakter. Begitulah di tempatku yang bersahaja. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari situasi sekarang ini.








