Aku Lelah, aku sedang ingin tenang..bukan senang

Terbaru663 Dilihat

Jadwal ku hari ini padat sekali. Seperti biasa, bangun pagi jam 03.30 wib, di awali kesibukan emak emak di rumah. Mulai dari masak air, masak nasi dan teman temannya, mencuci dan lainnya. Lanjut sholi shubuh sampai ke dhuha, setelah itu persiapan mengajar anak anak les yang datang ke rumah. Berperan jadi Ayah dalam beberapa jam. Setelah itu lanjut jadi emak kembali.

Begitulah waktu ku, terus berulang setiap hari.

Sore ini, Nia, santri pengabdian di pesantren Asshiddiqiyyah 10 Cianjur kesayangan ku, mengajakku menghadiri acara pernikahan putra dari Bu Euis. Bu Euis adalah salah satu pengasuh di Pesantren Asshiddiqiyyah 10. Beliau adalah pengabdi Ndalem yang mengasuh putra dan putri Bapak Kyai. Dengan kelembutan dan kasih sayangnya, beliau dengan sabar mengasuh dan mendampingi hari ke hari putra dan putri Bapak Kyai, dan selalu memberi nasehat pada para santri pengabdian ndalem.

Aku, Nia dan Bu Euis..sudah seperti keluarga. Apapun pasti kami ceritakan bersama.. Meski rumah kami berjauhan, kami selalu saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain.

Aku…rindu kehangatan itu…🥺

“Nia sudah dimana?” Tanyaku pada Nia di telpon. “Nia sudah mau dekat rumah kok bunda, barusan masih ada acara di balekambang sama guru guru di PAUD, bunda masih dimana?” Jawabnya. “Ohh gitu, hmm..ini bunda masih di gang rumah bunda kok sayang. Sebentar lagi bunda otewe rumah nia ya”, “oke bunda, bunda hati hati ya..nanti ke rumah nia aja”, “siap sayang, nia juga hati hati dijalan yaa”,, lalu kami akhiri pembicaraan kami.

Aku segera melangkah ke depan. Rumahku masuk dalam gang. Cukup jauh juga sih, kalau mau keluar gang.

Seperti biasa, eirphone ku pasang.. Ku putar lagu ‘happier’, menemani langkahku.

Notif WA ku berbunyi…

“Assalamu’alaikum cantik, apa kabar, semoga sehat selalu”.. Aku tau, siapa ini, yang selalu memanggilku cantik.

Agak gemetar tanganku membuka pesan itu. Dia, iya..dia.. Yang sudah lama kunanti kabarnya. ” Dibuka jangan yah”desahku dalam hati.

Aku percepat langkahku. Karena gang area rumahku cukup sempit, agak susah jika ada motor.

Tak lama, aku sampai depan. Aq menyebrang jalan. Jalanan agak lengang sore ini. Tidak terlalu ramai. Mungkin karena sudah sore juga. Ada beberapa angkutan yang melewati ku.

Entah..kenapa kubiarkan saja angkutan itu lewat.

Tubuhku masih bergetar, mengingat WA yang masuk itu.

Dia..yang tidak pernah bosan memanggilku cantik. Dia yang selalu sabar menghadapi aku..betapa manja nya aku. Yang di sela kesibukan nya, selalu aku cari perhatian. Terutama jika dia mau pulang, ada saja cara ku untuk tidak segera mengakhiri telpon kami.

Aku menghela nafas berat ku.. Ku pejamkan mata..

“ra, ingat..bukan kah kau sudah berjanji, kau akan buat dia sengaja membenci mu tiap hari ?” Ujarku dalam hati.

“Tin tin tin!!!” Teriakkan klakson angkutan mengagetkan lamunan ku. Mungkin karena aku berdiri masuk ke badan jalan, tanpa ku sadari. Aku segera mundur. Dan menyetop angkutan itu. Lalu naik. “Neng geulis ngalamun wae nya” Sapa pak supir padaku ketika aku masuk dan duduk tepat di belakang nya. Aku tersenyum..malu..

Aku segera buka HP lagi. Lalu membuka pesan tadi. “Wa’alaikumussalam..Alhamdulillah,,sehat abang..semoga abang juga sehat ya..” Ku jawab pesan itu. Dia langsung membuka pesanku, dan segera membalas. “Amin”.

” Abang jahat” Sengaja aku mengetik tulisan itu. “Bukan jahat, tapi sayang, dan sangat sayang” Jawab nya. “Tidak bisa kah abang membenci rara?”, “cantik..Saya sudah berjanji, dan akan menemani dan tidak akan pernah meninggalkan sampai akherat, meski tak membersamai di dunia” Lanjutnya. Ku baca berkali kali ketikan nya itu. Berat sekali nafasku, aku tidak bisa menjawab apapun. Kenapa sebesar ini rasa sayang nya pada ku. Padahal, aku sudah berusaha untuk membuat dia membenciku..

Tapi..apa yang aku lakukan, bukan nya menjauhi ku..malah semakin menyayangiku.

Aku tutup WA ku. Tak ku balas pesan terakhirnya.

Rumah Nia sudah tampak dari kejauhan. Aku segera mengeluarkan uang selembar lima ribuan. “Kiri pak” Kata ku. Lalu beri uang itu pada pak supir.

Aku turun, dan segera masuk ke rumah Nia. Ku beri salam, mama Nia keluar. Mempersilahkan aku masuk. Kami berbincang sebentar, Nia rupanya belum datang. Masih di perjalanan. Lalu mama nya meninggalkan aku, karena adik bungsu Nia bangun tidur.

Ku buka HP ku. “Kita jangan putus hubungan lagi ya, saya tidak bisa tidur memikirkan ini” Pesan nya lagi. Tak sengaja, air mata ini mengalir.

Kau, yang belum pernah bertemu dengan ku. Kau yang tak pernah tau bagaimana aku. Dengan segala kekurangan ku, kau selalu berusaha membuatku sempurna. Dengan segala kelemahanku, kau selalu berusaha membuatku selalu ada. Dengan segala kesibukan nya, aku lah yang teristimewa..selalu ada waktu bagiku untuk menemani nya.

“Abang, i hope you’re happy, but not like you Were with me. I’m selfish, i know…i can’t let you go…i hope you’re happy l, but dont be happier” ku jawab pesan nya.

“Ra lelah bang, ra sedang ingin mencari ketenangan..tak lagi cari kesenangan” Lanjut ku..

Lalu dia kirim kan gambar telpon..kode untuk ku agar menelponnya.

“Memang boleh?” Kataku. “Sekarang sudah boleh” Lanjutnya.

Segera ku telpon.

Ku dengar suara nya.. Ku dengar alunan musik instrumen lembut yang menemani ketika sedang menulis. Dan suara jemarinya yang menari di atas keyboard.

ku dengarkan dan ku biarkan dia berbicara..ku nikmati kembali saat indah ini, setelah beberapa waktu lalu sempat membeku.

Notif WA ku berbunyi..

“sayang, lagi apa, sudah makan,,jangan terlalu capek ya, jadi kan ke rumah Nia…? Hati hati ya sayang”

Pesan sang pengagum rahasia ku..

Badanku bergetar hebat..

“Ayolah ra..ini bukan kamu ra..” Desahku sambil ku pejamkan mataku..

Aku lelah, Aku sedang ingin tenang..bukan senang..

 

Cianjur,

15 Juli 2022

 

~ raaina darwis ~

 

To be continued…..

Tinggalkan Balasan