Pergi untuk pulang, bukan kembali

Terbaru875 Dilihat

 

Anak anak malam ini sangat bersemangat sekali mengaji. Seperti biasa, setelah mengaji selalu ada kajian yang aku berikan dari ayat yang mereka baca malam ini.

Surat yang kami kaji yaitu Surat An Nas. Terlihat sepele, karena terbiasa di baca, tapi tak paham maknanya. Aku menjelaskan ayat per ayat dari surat An Nas. Mereka sangat takjub ternyata betapa indahnya makna surat An Nas yang biasa mereka baca selama ini.

Tak terasa, sudah lewat jam 10 malam. Anak anak ku arahkan segera berdoa lalu pulang. Karena besok mereka masih harus sekolah pagi.

Lepas maghrib tadi aku belum beranjak dari tempat duduk ku. Perlahan aku bangkit, perut ku agak kaku. Iya, aku sedang mengandung putra ke empat ku. Usia kandungan ku jalan 7 bulan.

Aku segera berbenah meja dan karpet plastik. Udara malam ini terasa sangat dingin sekali. Iya, aku manfaatkan teras depan rumah kontrakan ku untuk mengajar mengaji anak anak dan mengajar les. Aku manfaatkan ilmu ku untuk menemani Mas Anto mencari nafkah. Meskipun dia bekerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia, aku tak ingin jadi perempuan sekaligus istri yang tidak produktif. Mas Anto tak melarangku bekerja, karena memang mengajar bukanlah pekerjaan yang berat. Mengingat usia kandungan ku sudah mulai bertambah.

Ku pandang langit, bertaburan bintang yang kerlap kerlip. Subhanallah…Maha dahsyat Rabb ku yang menciptakan keindahan ini.

Hilir angin memainkan ujung kerudung ku. Berhembus sangat lembut di wajahku. Kenapa ya perasaan ku tak tenang malam ini. Mas Anto biasanya menelpon ku jika mau kerja malam, ini tak ada sama sekali.

Hmmm…mungkin dia sibuk. Bisikku dalam hati. Mas Anto bekerja di perusahaan Telkomsel. Dia teknisi satelit signal. Mulai bekerja utak atik satelit di atas jam 11 malam. Sampai pagi.

Aku segera masuk rumah, karena aku ingat belum sholat isya. Bergegas aku wudhu. Ketika takbiratul ihram, aku mendengar pintu rumah ku di ketuk. Aku langsung batalkan sholatku. Ku dengar kan lebih pasti lagi, siapa yang mengetuk rumah ku selarut ini.

Hening…

Tak ku dengar lagi ketukan itu.

Lalu aku lanjutkan kembali takbiratul ihram. Sekali lagi ketukan pintu itu terdengar.

Bergegas ke ruang tamu. Ku pastikan ada orang atau tidak di terasku lewat jendela.

Mas Anto…ucapku pelan. Kenapa sudah pulang. Biasanya dia 2 minggu bekerja di lokasi untuk konversi signal satelit. Ini baru beberapa hari kok sudah pulang.

Aku segera membuka pintu.

Dia berdiri mematung depan pintu. Aku tersenyum padanya.

“Mas, kok sudah pulang. Loh..tas nya mana..? Mas kok ga pakai sepatu?”rentetan pertanyaan ku padanya. Dia hanya berdiri dan diam. Dia menatapku,,lalu mengecup keningku.

Dingin.

Iya..kurasakan kecupan itu dingin sekali.

Dia tak mengatakan apapun.

” Bentar mas, ra tutup pintu dulu, banyak nyamuk” Ujarku ketika sadar, pintu rumah tak ku tutup. Lalu aku membalikkan badan dan menutup pintu. Ketika aku balikkan badan lagi. Mas Anto sudah tak lagi berdiri di depan ku.

Aku terkejut..sangat terkejut.

Kemana dia…???? Secepat itu menghilang.

Lalu aku bergegas melepas mukenah ku, dan berlari ke luar halaman rumahku. Kulihat jalan dan sekelilingku hening dan sepi.

Lalu Mas Anto tadi kemana..?

Apa aku bermimpi..?

Tidak..aku tidak bermimpi. Tadi nyata, bukan. Mimpi.

“Ya Allah…apakah Mas Anto baik baik saja?” Desahku pelan. Lama aku terdiam terpaku di tengah jalan depan rumahku.

Kemudian aku tersadar saat ada motor yang melewati ku. Aku segera masuk rumahku. Dadaku berdegub sangat kencang, semoga Mas Anto baik baik saja.

Pagi ini cuaca amat sangat cerah, sudah tiga hari tak ada kabar apapun dari Mas Anto. Tak biasa nya seperti ini. Hmmm…mungkin ada trouble di lokasi. Pikirku, menenangkan hatiku.

“Bund, HP bunda bunyi” Kata Raihan, putra keduaku dari dalam rumah, saat aku mengajar di teras. “Oh, iya..tolong bawa sini HP bunda nak”,, “iya bund” Jawab Raihan lalu bergegas masuk.

Nomor kantor Mas Anto yang muncul di HP ku..sekejap hatiku was was.

“Halo” Ucapku pelan. “Dengan Bu Anto?”,, ” Iya betul, maaf ada apa Pak Beni?” Tanyaku. “Bu Anto, saya bisa singgah ke rumah siang ini? Ada yang mau kami sampaikan” Lanjut Pak Beni. Pak Beni adalah pimpinan tim project lapangan Mas Anto. “Ohh, silahkan Bapak, dengan senang hati” Ujarku. Hatiku kian tak karuan.

Semoga semua baik baik saja.

Sore ini Pak Beni dan tim akan ke rumahku. Ada apa,,aku tak bertanya. Aku segera merapikan rumahku.

Tepat pukul 16.15 wita. Iya wita (waktu Indonesia Tengah) bukan wib (waktu Indonesia bagian barat, karena rumah ku waktu itu di Balikpapan. Kalimantan Timur. Mereka sudah datang. Ada sekitar 6 orang yang turun dari mobil Innova Hitam. Dan segera ku persilahkan masuk rumah.

“Bu, ada yang mau saya sampaikan. Dengan segala kerendahan hati, saya selaku pimpinan tim mohon maaf Bu,,saya berat ingin menyampaikan hal ini pada Ibu. Seharusnya saya sampaikan sejak 3 hari lalu. Tapi saya dan rekan rekan di kantor segera mengambil kebijakan disampaikan ke ibu hari ini” Ucap pak Beni. Suaranya agak dalam dan berat. Aku mengernyitkan dagu..Aku berusaha tersenyum tenang.

“Ada apa ya Pak Beni, kok saya jadi bingung. Apakah semua baik baik saja?” Ucapku pelan. Sambil ku tatap Pak Beni dan 5 orang teman Mas Anto. Mereka tak ada satu pun yang tersenyum, bahkan menghindari tatapanku.

“Pak Anto mengalami kecelakaan di lokasi Bu, tiga hari yang lalu. Beliau terjatuh dari tower ketinggian 35 meter. Kondisi tubuhnya juga bisa dibilang hancur. Saya mohon maaf Bu, baru saya sampaikan hari ini. Karena kami semua berat untuk menyampaikan pada ibu waktu itu. Ibu sedang hamil juga, disini tidak ada keluarga. Tapi jangan kuatir Bu, kami semua keluarga ibu. Jika ada apa apa kabari kami. Ya Bu” Lanjut Pak Beni berat.

Aku terhenyak dan diam. 3 hari yang lalu. Berarti bersamaan saat Mas Anto pulang malam itu. Iya..dia pulang, mengecup keningku,,lalu pergi..

Dia pulang..tapi tak untuk kembali..

Seketika air mataku tumpah..

Aku tak bisa berkata apa apa…

Rekaman hidup ku bersama nya yang tak sampai 2 tahun menjadi istrinya seolah terbayang nyata di mata ku.

Jenazah Mas Anto ternyata malam itu segera di bawa ke Jakarta, untuk di makam kan di sana.

Tinggalah aku dan Raihan juga bayi dalam kandungan ku kini di Balikpapan.

“Kalau anak ini perempuan..seneng yah, Mas tenang..ada 3 abangnya yang akan temani dia sampai dewasa nanti” Itulah ucapan terakhir Mas Anto padaku sebelum berangkat ke lokasi saat itu. Dan memang,,anak ini akan ditemani 3 abangnya..tanpa dia..

Inilah yang terbaik Allah berikan untuk ku dan Mas Anto.

Selamat jalan Mas,,semoga husnul khotimah. Pejuang signal Telkomsel, Balikpapan 2014.

 

Cianjur,

20 Juli 2022

 

~ raaina darwis ~

 

 

Tinggalkan Balasan