Menggerakkan Komunitas Belajar dengan Mebel, Ko Be
1. Situasi Awal
Sebagai pengawas sekolah di wilayah dengan kondisi geografis yang cukup menantang dan karakteristik sekolah yang beragam, saya menyadari bahwa implementasi kebijakan Merdeka Belajar di lapangan belum sepenuhnya dipahami secara utuh. Banyak kepala sekolah dan guru masih melihatnya sebagai tuntutan administratif, bukan sebagai kesempatan untuk berinovasi. Kegiatan supervisi yang selama ini berjalan cenderung satu arah, lebih menekankan pada penilaian dibandingkan pendampingan yang memerdekakan.
Di sisi lain, kolaborasi dan berbagi(Ko Be) antarsekolah masih terbatas. Setiap sekolah berjalan dengan cara dan kecepatan sendiri, tanpa ruang yang cukup untuk saling belajar dan bergagi. Kondisi tersebut mendorong saya untuk mencari pendekatan baru: bagaimana peran pengawas tidak hanya sebagai penilai mutu, tetapi sebagai penggerak ekosistem belajar yang menumbuhkan semangat Merdeka Belajar (Mebel), kolaborasi dan budaya berbagi praktik baik (Ko Be). Harapannya dengan smangat Mebel dan ditambah dengan senagat Ko Be Kolaborasi dan Berbagi Praktik baik maka peningkatan Mutu pendidikan akan merata disetiap satuan Pendidikan.
2. Tantangan
a. Memanusiakan Hubungan
Langkah awal yang saya lakukan adalah membangun hubungan yang setara dan saling percaya dengan para kepala sekolah dan guru. Saya memulai dari mendengarkan—mengunjungi sekolah, berbincang tanpa membawa agenda penilaian, serta membuka ruang diskusi informal. Pendekatan ini menumbuhkan rasa nyaman dan kepercayaan. Kepala sekolah merasa didengar dan dihargai, bukan dihakimi. Dari hubungan yang humanis inilah muncul semangat baru untuk bergerak bersama.
b. Memahami Konsep
Tahap berikutnya adalah memperkuat pemahaman bersama tentang esensi Merdeka Belajar. Melalui forum kecil dan sesi reflektif, kami berdialog mengenai makna kemerdekaan dalam belajar, baik bagi murid maupun pendidik. Saya menegaskan bahwa Merdeka Belajar bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk berinovasi sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik. Dalam proses ini, pengawas berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan sekadar pengontrol kebijakan.
c. Memilih Tantangan
Hasil refleksi bersama mengungkap tantangan utama kami: rendahnya budaya kolaborasi dan minimnya ruang berbagi antarsekolah. Praktik baik yang dilakukan oleh satu sekolah sering berhenti di lingkup internal, tidak menyebar menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Karena itu, kami bersepakat untuk membentuk sebuah Komunitas Belajar Pengawas dan Kepala Sekolah (Kombel PKS) sebagai wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik secara berkelanjutan. Tantangan ini kami pilih karena sejalan dengan kebutuhan nyata lapangan dan semangat Merdeka Belajar yang menekankan kolaborasi.
d. Membangun Keberlanjutan
Untuk memastikan keberlanjutan gerakan ini, kami merancang pertemuan rutin satu kali setiap minggu. Setiap anggota komunitas diberi kesempatan untuk mengambil peran berbeda—sebagai moderator, penyusun agenda, notulis, hingga narasumber berbagi praktik baik. Peran bergilir ini membuat setiap anggota belajar berorganisasi, memimpin diskusi, dan berani tampil berbagi. Saya mendampingi dari sisi fasilitasi dan refleksi agar kegiatan tidak sekadar berbagi pengalaman, tetapi juga menggali makna dan pembelajaran dari setiap praktik yang disampaikan.
Seiring waktu, komunitas ini menjadi ruang yang hidup. Kepala sekolah yang awalnya pasif mulai berani mempresentasikan inovasinya, seperti pembelajaran berbasis proyek lingkungan, gerakan literasi berbasis budaya lokal, atau digitalisasi administrasi sekolah. Bahkan beberapa kepala sekolah menginisiasi mini-kombel di wilayah gugusnya masing-masing, menularkan semangat belajar berkelanjutan.
e. Memberdayakan Konteks
Kegiatan komunitas tidak hanya berhenti pada pertemuan tatap muka. Kami juga memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat jejaring. Melalui grup daring, anggota membagikan dokumen, refleksi, dan praktik baik yang telah diterapkan. Kami menyepakati bahwa setiap inovasi harus berangkat dari konteks sekolah masing-masing—tidak ada penyeragaman, melainkan pemberdayaan potensi lokal. Dengan demikian, praktik baik menjadi lebih relevan, bermakna, dan mudah diterapkan sesuai kondisi lingkungan sekolah.
3. Aksi yang Dilakukan
-
Membentuk Komunitas Belajar Pengawas dan Kepala Sekolah (Kombel PKS) dengan prinsip partisipatif dan berbasis kepercayaan.
-
Menyusun jadwal pertemuan mingguan dengan agenda bergilir: berbagi praktik baik, refleksi, dan pembelajaran konsep Merdeka Belajar.
-
Menugaskan anggota secara bergiliran untuk mengambil peran dalam setiap kegiatan, agar setiap individu belajar berpartisipasi aktif.
-
Mendorong dokumentasi praktik baik dalam bentuk tulisan, video, atau presentasi untuk disebarluaskan di ruang digital komunitas.
-
Melakukan refleksi bersama setelah setiap kegiatan untuk menemukan pembelajaran dan rencana tindak lanjut.
4. Pembelajaran yang Didapat
Dari proses ini, saya belajar bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan, tetapi harus ditumbuhkan melalui hubungan yang memanusiakan. Ketika kepala sekolah dan guru merasa dihargai dan dilibatkan, mereka lebih terbuka terhadap inovasi. Saya juga belajar bahwa peran pengawas bukan lagi sebagai evaluator tunggal, melainkan penggerak kolaborasi yang menciptakan ruang belajar bagi semua.
Kolaborasi dalam komunitas belajar ini menumbuhkan budaya refleksi, keberanian berbagi, dan saling menginspirasi. Semangat Merdeka Belajar tidak hanya diimplementasikan di kelas, tetapi juga hidup dalam cara kami belajar sebagai pendidik. Komunitas ini menjadi ekosistem yang menumbuhkan praktik baik secara alami, tanpa paksaan, dengan semangat saling belajar dan saling menguatkan.
5. Penutup
Gerakan komunitas belajar yang digerakkan dengan semangat Merdeka Belajar, kolaborasi, dan berbagi telah menjadi wujud nyata dari perubahan paradigma supervisi. Dari pendekatan administratif menuju pendekatan humanis dan partisipatif. Praktik baik ini membuktikan bahwa ketika pengawas mampu memanusiakan hubungan, memahami konsep, memilih tantangan yang relevan, membangun keberlanjutan, dan memberdayakan konteks, maka transformasi pendidikan dapat terjadi dengan cara yang alami dan bermakna.
Kini, komunitas belajar kami tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga simbol kemerdekaan berpikir dan bertumbuh bersama. Sebuah perjalanan reflektif bahwa pengawasan sejati adalah pendampingan yang memerdekakan.







