Asal Tau Saja ya, Sulit Berhenti Merokok itu Mitos

Terbaru1154 Dilihat

Berhenti merokok itu sulit. Demikian kalimat yang sering kita dengar dari perokok jika ditanya kenapa tidak berhenti merokok.  Kadang-kadang, jika orang yang tidak biasa merokok bertanya kepada si perokok bagaimana sih rasanya rokok sehingga orang doyan merokok padahal hanya asap. Percayalah, si penanya pasti tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Waktu saya sendiri masih merokok, kalau di tanya seperti itu, saya sering menjawab “nah justru itu, karena sampai hari ini saya belum bisa mendefinisikan rasanya rokok, maka saya terus merokok”. Nah, bingung kan.

Sebagai alumni ahli hisap- hisap ya, bukan hisab- yang lamanya merokok lebih dari usia reformasi tetapi tiba-tiba bisa melepaskan diri dari kecanduan rokok, saya sanggup mengatakan bahwa, sulit berhenti merokok itu hanya melanda mereka-mereka yang  sebenarnya tidak punya keinginan berhenti merokok. Boleh dikata bahwa sulit berhenti merokok itu hanya mitos, yang sebenarnya sih tidak sulit-sulit amat, asal yang bersangkutan benar-benar punya keinginan berhenti merokok.

Sebenarnya, ada saran-saran yang  sebaiknya tidak perlu diikuti dan mestinya tidak perlu disarankan untuk menghendaki seseorang berhenti merokok. Karena, menurut saya saran itu akan sia-sia saja. Ndak bakalan ngefek gitu. Namun, tentu saja ada juga saran yang bisa dipertimbangkan agar kita bisa pensiun dari ahli hisap.

# Tidak membuang kumpulan puntung rokok di asbak Anda.

Ada-ada saja tips yang orang berikan untuk bisa berhenti merokok. Salah satu saran mereka adalah jangan dibuang kumpulan puntung rokok Anda yang telah menumpuk di asbak. Hal ini tentu saja saran yang sia-sia, apalagi bagi orang yang tidak hidup sendiri. Sudah pasti istri atau orang di rumah tentu saja mereka akan selalu membersihkan Asbak. Apalagi jika istri kita tidak perokok, maka dijamin deh, ia pasti merasa sangat risih melihat tumpukan puntung rokok di asbak. Jangankan istri, kita sendiri saja pasti merasa risih. Iya nggak?

# Mengurangi intensitas merokok secara perlahan-lahan.

Tips ini juga sebaiknya diabaikan. Katakanlah hari pertama kita sukses menghambat lajunya pertambahan jumlah kita memasang pemantik di depan mulut. Akan tetapi, bukankah rokok itu menyebabkan orang ketagihan. Coba diingat bagaimana prosesnya sampai kita ketagihan merokok. Banyak orang yang memulai merokok justru berawal dari pemberian teman. Ketemu berikutnya diberikan lagi dan lagi. Lama kelamaan mulai membeli batangan (sebatang, dua batang). Jika yang dibeli dua batang, sebatang langsung dinikmati dan sebatang lagi dijepit di dompet . Lama kelamaan mulai deh beli per bungkus. Sehari habis sebungkus, lama kelamaan naik level jadi dua bungkus. Pokonya gitu deh. Jadi, kalau ada saran untuk berhenti merokok itu mulai dari mengurangi intensitas merokok, baiknya abaikan saja. Nggak bakalan manjur.

# Mengganti rokok dengan permen

Ada- ada saja. Kita mau melepaskan diri dari masalah atau menambah masalah sih. Permen sampai kapanpun ndak bisa menggantikan rokok. Wong permen ndak nyala sih. Apalagi, kalau Anda punya gen diabetes. Malah mengundang resiko terserang diabetes loh. Atau, kalau Anda pelupa hingga sering lupa sikat gigi sebelum tidur, yang ada malah gigi Anda beresiko bocor. Bahkan terkadang, godaan untuk menghisap rokok itu datang menggila setelah mulut memproses sesuatu termasuk permen.

#Mengganti rokok dengan cemilan lain

Nah, ini dia nih saudara sepupu sama saran mengganti rokok dengan permen. Lagi-lagi ndak bakalan mungkin si cemilan jadi pemeran pengganti rokok. Wong cemilan juga ndak bakalan menyala kok. Yang ada malah, bobot berat badan Anda cepat bertambah. Belum lagi alasan lain. Biasanya, selera merokok itu naik dua kali lipat sehabis kita makan sesuatu. Pokoknya nih, sehabis tenggorokan basah tambah nikmat deh merokok. Apalagi kalau rasa cemilannya itu ada rada pedas-pedasnya, pasti deh yang dicari setelah itu rokok, bagi yang perokok tentunya. Jadi, saran yang ini boleh diabaikan.

Lantas, sebaiknya apa yang mesti dilakukan agar seseorang bisa berhenti merokok. Peringatan tentang bahayanya terhadap kesehatan. Ndak bakalan ngaruh banyak. Lihat saja, sudah dari dulu tertulis di pembungkus rokok itu peringatan, “Merokok dapat merugikan kesehatan”, namun jarang ada yang hiraukan. Malah ada yang balas, “Tidak merokok kesehatan rugi”. Luar biasanya perokok itu di situ, kemampuannya untuk melakukan pembenaran diri itu luar biasa.

Apalagi kalau membuat larangan. Biasanya, jika suatu area di tulis peringatan “Dilarang merokok di sini.”  Si perokok biasanya hanya menghindar sedikit dari tulisan itu, sambil berkata “berarti di sini boleh”. Luar biasa bukan.

Jadi, sebaiknya gimana? Ya udah biarkan saja. Kenapa? karena seseorang bisa berhenti merokok itu dorongan muncul dari dalam diri sendiri. Bukankah kitab suci salah satu agama berkata “… Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”. Jadi, kalau ada yang benar-benar ingin berhenti merokok, cukup berkomitmen dengan diri sendiri. Kapan ketika muncul keinginan mau berhenti merokok, langsung bangun komitmen dengan diri sendiri dan eksekusi. Jangan menunggu rokok habis. Bila perlu, rokok dibuang saat itu juga. Cara ini cukup ampuh dan sukses saya gunakan.

Waktu itu awal tahun 2016, saat menunggu malam perpisahan tahun, tepatnya tanggal 31 Desember tahun 2015 malam hari, saya masih menikmati rokok. Ngumpul bareng teman-teman hingga bunyi-bunyian petasan terdengar. Kepulan asap masih ngalor ngidul di depan saya. Nah, besok paginya tepatnya tanggal 1 Januari 2016 saat saya mau berangkat ke Bandara untuk berkunjung ke Surabaya, saya melihat masih ada sisa rokok semalam dalam pembungkus. Saya berpikir, mau saya bawa serta atau tidak. Tiba-tiba saya berpikir, sebaiknya tahun ini saya harus berhenti merokok deh. Akhirnya, saya mengikuti pikiran saya yang kedua. Saya ambil sisa rokok, saya meremas-remas pembungkus rokok yang masih ada isinya itu  dan mendaratkan ke tempat sampah sambil berkomitmen dalam hati untuk tidak akan mencicipinya lagi.

Lima tahun lebih telah berlalu. Syukurlah, saya tidak lagi keluyuran tengah malam mencari penjual rokok sebagaimana dulunya ketika saya kehabisan rokok saat hendak nonton bola.

Oh iya, tulisan ini bukan Tips berhenti merokok, melainkan sekedar berbagi pengalaman berhenti merokok. Lagi pula hidup itu pilihan. Ada orang yang yang sebelumnya perokok belakangan berhenti merokok. Namun, ada juga orang yang sebelumnya tidak merokok belakangan jadi merokok.

Tinggalkan Balasan