DOOMSCROLLING: KETIKA JEMARI TERUS MENARI, PIKIRAN MAKIN TERBEBANI

Terbaru1 Dilihat

Pagi itu bus transjakarta melaju tenang di jalur khusus busway. Di padati penumpang setengahnya wanita para pekerja muda. Di tengah kepadatan itu terlihat tingkah polah beragam. Ada yang duduk memejamkan mata, tidur-tidur ayam. Diantara yang duduk maupun yang berdiri terlihat asyik memainkan jemari di ponsel masing- masing. Ada yang dengan wajah serius menatap tayangan di layar ponsel, ada pula yang senyum-senyum tipis.

Ponsel memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu melekat erat, tak terpisahkan dari setiap gerak pemiliknya. Namun ada dampak ikutan ketika jari jemari terus menerus menari-nari berselancar menelusur berbagai postingan.

“Doomscrolling” disebutnya. Itu kebiasaan menghabiskan waktu secara berlebihan dengan terus-menerus membaca, menonton, atau menelusuri berita dan informasi terutama yang bernada negatif, mengkhawatirkan, atau menimbulkan kecemasan, melalui media sosial dan internet. Istilah ini berasal dari kata “doom”- kiamat yang menghancurkan dan scrolling menggulir layar.

Di era modern, fenomena ini semakin umum. Informasi tersedia mengalir tanpa henti selama 24 jam. Ketika terjadi krisis, bencana, konflik, masalah ekonomi, atau isu sosial yang mengkhawatirkan, seseorang sering merasa sangat perlu terus mengikuti perkembangan terbaru. Namun, alih-alih memperoleh ketenangan, mereka justru semakin cemas dan tertekan.

Beberapa hal mendukung munculnya doomscrolling.Rasa keingintahuan manusia memang alami. Ini merupakan bagian perlindungan diri dari berbagai ancaman yang dirasakan datang menerjang.

Banyak orang berpikir bahwa semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin siap mereka menghadapi situasi. Padahal sering kali informasi yang berlebihan justru menambah kebingungan.

Konten yang memicu emosi kuat—termasuk ketakutan dan kemarahan—sering mendapat lebih banyak interaksi dan terus ditampilkan. Karenanya sebagai algoritma media sosial, Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian dan kesetiaan pengguna.

Ironisnya, semakin seseorang mencari informasi untuk merasa aman, semakin besar kemungkinan ia merasa tidak aman. Berbagai dampak dapat muncul. Kecemasan dan stres yang meningkat. Gangguan tidur akibat paparan informasi sebelum beristirahat. Kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
Perasaan pesimis terhadap masa depan. Menurunnya produktivitas dan kualitas hubungan sosial. Kesemuanya dapat menguasai situasi Dan dialami sehari-hari.

Doomscrolling telah menjadi salah satu tantangan psikologis di era digital. Informasi memang penting, tetapi tidak semua informasi harus dikonsumsi tanpa batas. Kebijaksanaan di zaman modern bukan terletak pada seberapa banyak berita yang kita baca, melainkan pada kemampuan memilih Dan memulah informasi yang bermanfaat dan menjaga kesehatan pikiran.

Tentu antara lain dengan cara: menetapkan batas waktu penggunaan media sosial.
Memilih sumber informasi yang terpercaya dan berkualitas. Menghindari membaca berita secara berlebihan menjelang tidur.
Menyeimbangkan konsumsi berita dengan aktivitas positif seperti membaca buku, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman. Dan tak kalah penting bertanya pada diri sendiri: “Apakah informasi yang tersedia benar-benar saya perlukan saat ini?”

Tak masalah berselancar di ponsel, tapi jangan sampai gawai menjadi pangkal yang membebani pikiran.
(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan