KMAB 15
Perjalanan Hidup
Berangkat ke Ibukota Propinsi
Oleh Lusia Wijiatun

sumber: lacakharga.com
Tinggal menunggu adalah kata yang sering diucapkan, saat-saat telah melakukan sesuatu atau telah membuat suatu keputusan. Menunggu tentunya sambil berharap, bahkan mempunyai harapan besar dengan yang ditunggu-tunggu.
Seperti halnya yang dilakukan Tami, Setelah surat lamaran dikirim melalui sekolah agar dapat diangkat menjadi guru. Tentunya Tami sangat menantikan hal itu.
Waktu serasa lama sekali berlalu, Tapi Tami tidak sendiri. Banyak teman seperjuangan juga merasakan hal yang sama . Hampir setiap hari Tami ke rumah teman dekatnya untuk menanyakan hal itu.
Teman Tami memang tinggal tidak jauh dari pasar, rumahnya berada di jalan utama, sehingga tiap ada berita dari sekolah temannya akan cepat mengetahuinya.
Seperti saat itu, Tami sedang membantu ibunya, tiba-tiba Yanti temannya datang menghampiri. Katanya,” Tami, jangan santai aja, ayo kita siap-siap, kabarnya tidak lama lagi kita akan mendapat panggilan tes.”
Dengan semangat Tami menjawab, “ Oh ya, dari mana kamu tahu berita ini?”
Ayolah, kita coba-coba ke sekolah,” Kata Yanti temannya itu. Tami segera minta izin ibunya pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman.
Mereka berangkat ke sekolah, dengan naik angkot. Sebelumnya Yanti mengajak Tami ke rumahnya. Mereka menunggu angkot yang lewat di depan rumah Yanti.
Tak lama kemudian lewatlah angkot dan segera di stop oleh Yanti. Mereka naik dengan gembira menuju ke sekolah mereka.
Sampai di sekolah teman-teman sudah banyak yang datang. Hanya tinggal beberapa orang saja yang belum datang. Mereka dikumpulkan di depan kelas lalu diberi pengarahan.
Pak guru menyampaikan pengumunan bahwa mereka harus datang sendiri setelah surat lamaran mereka di terima. Pak Guru sudah memberikan nomor pendaftaran sesuai absen di kelas.
Setelah semua mendapat nomot pendaftaran masing-masing, pak guru bertanya,” Apakah kalian akan berangkat bersama-sama atau sendiri-sendiri?”
Mereka menjawab serentak, seperti diberi aba-aba,” bersama-sama pak.” Lagi-lagi pak guru yang baik hati, mencari bus yang akan mengangkut mereka berangkat ke Propinsi. Mungkin pak guru berpikir bahwa mereka baru saja lulus.
Semua masih terlihat lugu, dan mungkin ada yang belum pernah ke Propinsi. Benar saja, Tami adalah salah satu diantaranya. Semenjak pindah dari daerah propinsi kurang lebih tigabelas tahun yang lalu, Tami belum pernah ke ibu kota propinsi ini lagi.
Kemungkinan besar ia sudah lupa, karena waktu itu ia memang masih kecil. Saat inilah Tami mempunyai kesempatan untuk pergi ke ibukota propinsi.
Sesuai hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali, Dua buah mini bus yang akan mengangkut Tami dan teman-temannya, telah berada di sekolah. Mereka akan berangkat hari itu, semua terlihat gembira.
Kelihatannya seperti mau pinik bersama saja, padahal mereka akan menyongsong masa depan. Masa depan yang selalu dinantikan. Ya, akan menjadi guru, walaupun saat itu anak-anak yang sekolah guru selalu diejek, Namun mereka tetap melangkah pasti, tanpa menghiraukan ejekan teman-teman dari sekolah lain.
Mini bus melaju perlahan belok kekiri dan lurus, langsung menuju arah jalan ke propinsi. Jalan yang berliku-liku bukanlah menjadi penghalang bagi mereka. Mereka terlihat enjoy saja.
Perjalanan ditempuh dalam waktu 2,5 jam, Tepat pukul 10.00 kedua mini bus telah sampai di ibukota propinsi. Mereka langsung menuju kantor bagian kepegawaian.
Di sana telah berkumpul para pelamar yang berasal dari Kabupaten lainnya. Pemanggilan peserta memang dikelompokkan tiap kabupaten. Tiap kabupaten sudah disediakan ruangan khusus dan sudah ditulis di kaca jendala kantor tersebut.
Tami dan teman-temannya segera mendekat, Pemanggilan nama sudah dimulai dan dipanggil sesuai dengan urutan.Tami mendapat urutan ke- 42, jadi Tami mundur terlebih dahulu untuk menunggu giliran.
Hari itu, semua pelamar kerja disuruh mengisi formulir pendaftaran. Mulai dari identitas diri sampai pada daftar riwayat hidup serta perlengkapan lainnya, yaitu poto kopi KTP, Ijazah , pas foto , dan surat kelakuan baik serta surat keterangan sehat dari dokter.
Untung saja Tami membawa semua perlengkapan yang dimaksud. Setelah tiba giliran Tami, ia segera mengisi formulir sesuai dengan panduan yang ada.
Tami menulis dengann sangat hati-hati, supaya tidak salah dan tidak banyak coretan. Setelah selesai Tami segera mengumpulkan kembali. Begitu juga teman-temannya yang lain. Setelah selesai dan menedengarkan pengumuman, mereka pulang bersam-sama dengan mini bus yang sama.
Merekaakan datang kembali minggu berikutnya, bial ada pengumuman. Mereka harus tetap rajin mendengarkan radio atau ke sekolah untuk memperoleh informasi selanjutnya.


