KMAB 17 Menjadi Guru

Terbaru681 Dilihat

KMAB 17

Perjalanan  Hidup

Menjadi Guru

Oleh Lusia Wijiatun

Sumber: https://mediakupang.pikiran-rakyat.com/news/

Proses untuk menjadi  guru bukanlah perjuangan yang mudah, walau Tami sudah dinyatakan lulus.Tami masih harus  mengisi formulir dan melengkapi berkas. Kemudian menunggu lagi  kapan waktunya pembagian Surat keputusan dan surat tugas.

Hingga kurang lebih satu tahun barulah Tami mendapat surat keputusan dan surat tugas menjadi guru.Tami menjadi seorang guru dan ditempatkan di sebuah desa terpencil.Desa tersebut lebih kurang 35 km dari rumah nya.

Tidak begitu jauh sih, tapi masih harus melalui jalan yang belum bisa dilalui mobil.Sehingga untuk mencapai ke sekokah tempatnya bertugas, Tami harus berjalan kaki sejauh 2 km.

Bukan hanya itu, di kiri kanan jalanpun terlalu rimbun, karena kiri kanan jalan berupa kebun yang sangat lebat. Kebun ditumbuhi dengan tanaman kopi juga tanaman lainnya. Semakin menambah gelapnya jalan itu.

Tak jarang saat berjalan Tami melihat rombongan babi yang sedang menyeberang jalan. Di atas pohon bergelantungan simpai yang seolah mengejek Tami seolah-olah berkata, kasian ya jalan sendiri.

Sebenarnya Tami merasa takut, apalagi saat simpai memperlihatkan gigi dan melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain, seperti akan melompat di kepala Tami.

Terkadang Tami harus menunggu orang lain yang akan melalui jalan itu,agar bisa serempak. Namun tak jarang Tami harus berjalan sendirian.

Untung saja Tami tidak melakukan perjalanan setiap hari Tami memilih tinggal di salah satu perumahan yang sudah disiapkan oleh pemerintah.

Setiap Minggu atau setiap dua Minggu Tami pulang ke rumahnya, dan Minggu sore atau Senin pagi baru berangkat lagi ke desa itu. Begitu seterusnya yang dilakukan setiap harinya.

Tami sudah bertugas sebagai guru sekolah dasar, sekarang ia dipanggil dengan panggilan  ibu guru Tami.

Lalu bagaimana kisah cinta Tami? Apakah ia tidak punya pacar, kenapa Tami tak pernah diantar pacarnya? Berangkat sendiri, pulang juga sendiri. Tidak seperti teman-temannya, yang selalu bercerita diantar oleh pacarnya bahkan ada yang sudah menikah dan yang akan segera menikah.

Sebenarnya, sejak kelas dua saat sekolah di kejuruan itu, Tami sudah mempunyai pacar. Karena kesiplinan yang tinggi di rumahnya, ia mempunyai pacar secara diam-diam. Pacarnya pun merupakan teman kecilnya  dulu, teman semenjak sekolah dasar.

Namun saat itu masih dalam tahap pendidikan di kota lain. Sejak mempuyai teman dekat itu Tami tak pernah menjalin hubungan dengan teman pria lainnya. Tami dengan setia menanti pacarnya itu.  Mereka juga sangat menikmati keadaan mereka meski saling berjauhan. Tiap liburan semester barulah pacarnya itu pulang. Saat itulah mereka baru bisa bertemu.

Ketika Tami mendapat tugas mengajar di desa itu pun, pacarnya tak pernah sempat mengantarnya. Tami sangat memaklumui hal itu. Tidak apa-apalah pilkir Tami, tak lama lagi kuliahnya juga akan selesai, nantikan bisa bertemu. Apalagi sudah dekat dan akan segera mencari kerja di kota itu juga.

Tami merasa lega, Pacarnya sudah selesai kuliah dan mendapat kerja di salah satu sekolah swasta di kota itu. Besar harapan Tami cita –cita mereka akan segera terwujud. Mereka sudah merencanakan masa depan yaitu misalnya dengan menentukan bahwa salah satu saja yang bekerja di lembaga pemerintahan. Dengan demikian akan bisa saling menunjang dalam system pengganjiannya.

Keputusan sudah bulat, Tami mulai menabung, bahkan Tami juga berusahakan mengajukan mutasi dari desa tempat ia mengajar ke kota  dengan maksud agar tidak lagi berjauhan.

Hampir setiap minggu Tami pulang ke kota untuk mengurus surat-surat mutasi. Dengan harapan akan segera memdapat di tempat tugas yang baru. Di kota supaya selalu dapat berdekatan dengan pacarnya.

Namun apa yang yang terjadi ?  Harapan Tami hanya tinggal harapan.  Belum selesai urusan mutasi,Pacar yang selalu diharapkannya bertahun-tahun, telah berpaling dengan perempuan  lain.

Awalnya Tami tidak percaya, karena  pacarnya selalu meyakinkannya.  Pertemanan semenjak kecil, dan menjadi pacar semanjak dewasa membuat Tami terlalu percaya.  Namun situasi sudah berbeda, ternyata yang diceritakan  oleh orang-oramg kepada Tami selama ini benar adanya.

Apa boleh buat, Tami sudah terlanjur mengurus mutasi tempat tugasnya. Tak dapat ditarik kembali, surat keputsan sudah keluar. Tami sudah harus melaksanakan tugas ditempat yang baru. Apa yang akan terjadi dengan Tami. Apakah ia akan mengurungkan niatnya untuk mutasi?

Tinggalkan Balasan