KMAB 8 Pindah Pindah

Terbaru661 Dilihat

KMAB 8

Perjalanan  Hidup

Pindah Pindah

Oleh Lusia Wijiatun

Sumber: https://parboaboa.com/

Dikit demi sedikit kehidupan keluarga ayah Tami( Pak Paul) semakin membaik. Mereka terlihat cukup bahagia dengan kehidupananya yang sekarang. Ayah dan ibu semakin giat bekerja. Pagi-pagi setelah berdoa mereka ke pasar.  Ayah selalu mendampingi ibu belanja sayuran yang siap untuk di jual lagi.

Setelah membantu ibu belanja dan membuka dasaran, ayah  membuka jasa pengkas rambut. Tami dan kakaknya berada di rumah. Kakak Tami yang  dipanggil dengan sebutan mas Yoyo selalu menemani Tami.

Saat mas Yoyo memasak di dapur, mas Mulyo lah yang menemani Tami. Tami  sangat senang mempunyai kakak yang selalu menemaninya bermain. Teman –teman Tami pun mulai banyak. Saat itu Tami sudah berumur  hampir enam tahun.

Suatu hari saat  Tami bermain-main bersama mas Mulyo dan beberapa teman lainnya, tiba –tiba Tami terjatuh dari tangga. Tami tak bisa berdiri, ia menangis, kakaknya segera mengangkat Tami dan dibawa masuk  rumah.

Tami tak berhenti menangis, kakinya dielus-elus oleh kakaknya. Kamudian Tami mencoba berdiri, tapi tidak bisa.  Tami   merangkak sambil menahan sakit. Ayah dan ibu mereka belum juga pulang.

Matahari telah mulai condong ke barat, mereka bertiga, yaitu Tami dan kedua kakaknya duduk-duduk di serambi  atau diteras rumah sewaan. Sesekali wajah mereka memandang ke jalan. Mereka berharap Ayah dan ibu merega segera pulang.

Tak lama kemudian dari kejauhan terlihat  dua sosok, ayah dan ibu mereka. Betapa girangnya hati mereka melihat kedua orang tuanya pulang.  Tami segera menyongsong kedatangan orang tuanya dengan merangkak.

Ibunya heran melihat Tami merangkak,”apa yang terjadi pada Tami si gadis kecil ini?” Tanya  Ibu. Mas Yoyo menjawab, “ Tami jatuh saat bemain dengan teman-temannya.” Ibu sangat sedih sekali, anak perempuan satu-satunya tidak bisa berjalan.

Sementara itu  ibu dan ayah mereka belum tahu mau diobatkan ke mana. Karena keluarga Pak Paul ini masih tergolong baru berdomisili di situ. Apalagi mereka setiap hari mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Kaki Tami sebelah kanan hanya diurut-urut sendiri.   Kaki Tami  tidak mengalami perubahan Ia tetap tidak bisa berjalan,  sungguh malang sekali gadis kecil   ini.

Suatu hari ketika ibu  di rumah saja  menjaga Tami, ibu dan juga Tami duduk di serambi rumah itu. Tiba-tiba lewat pedagang jamu, ibu segera memanggilnya. Ia membeli jamu dan juga ingin membeli beras kencur untuk mengobati kaki Tami.

Ketika penjual jamu melihat  Tami yang merangkak, ia bertanya, “ Mengapa anakmu merangkak, kan sudah besar?”  “ Kakinya sakit, beberapa hari yang lalu jatuh karena terjun-terjun di tangga ini,’ jawab ibu. “ Kasihan sekali anakmu,” kata penjual jamu itu lagi. “ Ayo saya antar ke rumah tukang pijat kenalan saya.”

Tanpa berpikir panjang  ibu menyetujui  ajakan penjual jamu itu. Penjual jamu yang baru dikenal oleh ibu pun meletakkan jamu dagangannya di rumah. Dan langsung menggendong Tami.

Mereka menuju  ke rumah tukang pijat yang diceritakan penjual jamu yang baik hati itu. Sesampai di sana Tami langsung diobatai dan dipijat, Jeritan Tami membuat ibu pun mengeluarkkan air mata. Ia berkata lirih, “sabar ya sayang, dipijet dan diobati supaya bisa jalan lagi.” Sebentar-sebentar ibu menyeka air matanya yang terus  mengalir karena melihat Tami yang sangat kesakitan.

Begitulah selama satu minggu Tami dipijat dan diobati, ibu sangat tekun merawat Tami.  Kaki Tami yang sakit  berangsur – angsur sembuh. Ia dapat berjalan kembali, walaupun masih pincang namun tidak merangkak lagi.

Setelah Tami sembuh,  Pak Paul ayah Tami mengajak untuk mencari rumah sewaan yang tidak tinggi. Maksudnya jangan sampai Tami mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.Selain itu supaya bila kakak Tami ke sekolah tida terlalu jauh.

Maka Keluarga  Pak Paul pindah rumah lagi. Mereka menempati rumah kecil sepetak berlantai papan disekitar pasar. Di situ mereka hanya satu minggu saja kemudian pindah lagi mencari rumah sewaan yang cocok. Rumah sewaan berada di  kolong rumah panggung yang  memang disediakan bagi orang yang mau menyewa.

Keluarga pak Paul tinggal di situ, adapun daerah itu dekat sekali dengan pasar,  dan juga sekolah. Kedua kakak Tami sudah mulai bersekolah. Mereka sangat senang, Tami belum mencapai usia sekolah. Karena tidak ada teman di rumah, Maka Tami dibawa ke pasar ikut ibu berjualan sayuran.

Tinggalkan Balasan