Perjalanan Cinta Seorang Guru (17)

Edukasi, KMAB, Novel644 Dilihat

Penjelasan Dodi kepada Jamel menjadi awal persoalan ini terbuka. Kata Dodi tidak ada baskom bakwan lain kecuali yang sudah ada di atas meja itu. Jamel ingin memastikan saat itu juga. Apakah beanr bakwan isterinya ada di atas meja. Jamel mulai curiga, jangan-jangan jualan isterinya tidak diletakkan di atas meja. Khawatirnya amsih tersimpan. “Tapi kok sambalnya sama? Itu, yang dibawa Dodi ada lah sambal buatan isterinya. Dia tahu persis rasanya.

Jamel pergi ke warung setelah memakan sebuah bakwan. Empat biji lagi dibiarkannya terletak di atas meja kerjanya. Dia berdiri dan pergi ke kantin sekolah. Memastikan, apakah bakwan isterinya tidak dikelaurkan sebagaimana dugaannya? Hanya 25 meter jarak majelis guru ke kantin. Dua menit saja Jamel sudah sampai ke kantin. Tapi dia hanya lewat saja. Pura-pura menuju ke arah Perpustakaan yang jalannya bisa lewat kantin. Ibu kantin juga tidak memperhatikannya.

Sambil menjeling ke atas meja kue-kue itu dia memastikan tidak ada baskom berwarna biru yang menajdi ciri khas baskom tempat bakwan isterinya. Dia benar-benarĀ  yakin kalau baskom itu tidak atau belum dikeluarkan. Dua baskom bakwan itu bukan milik isterinya. Dia yakin itu. Akhirnya dia berbalik setelah beberapa langkah melewati kantin.

“Bu, saya mau beli bakwan.” Jamel hanya pura-pura saja. Dia ingin memastikan bakwan buatan isterinya ada di mana.

“Ya, Pak ambil aja. Itu ada di atas meja.” Ibu kantin menjawab tanpa melihat ke arah Jamel. kebetulan dia tengah menyiapkan lontong untuk pesanan guru juga.

“Baskom biru mana, Bu?”

Barulah ibu kantin melihat ke Jamel. Kini dia kelihatan agak gagap menjawab pertanyaan Jamel. Dia sadar sekarang terjebak. Dengan wajah merah dia mengeluarkan sebuah baskom dari bawa meja kue-kue itu. “Ini, Pak.”

“Kok tak dikeluarkan? Sambalnya malah sudah mau habis?” Jamel menunjuk sebuah mangkok sedang yang berisi kuah sambal bakwan, khas bakwan di sekolahnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir ini. Ibu kantin benar-beanr gugup menghadapi Jamel yang mengetahui kalau bakwan isterinya sengaja disimpan dulu sampai dua baskom bakwan lainnya habis.

“Jadi bakwan kami disimpan aja, ya?”

Ternyata, oh ya ternyata inilah masalahnya. Akhirnya terjawab mengapa bakwan buatan isteri Jamel masih saja ada sisa. Ternyata eh ternyata bakwannya tidak langsung dipajang sejak pagi sebagaimana biasanya. Ternyata eh ternyata, bakwan lainnya sudah diletak di atas meja sementara bakwan buatan isteri Jamel masih disimpan dulu di bawah meja. Anehnya, kuahnya tetap dikeluarkan. Makanya kuah itu duluan habis sebelum bakwannya habis. Jamel sedih dan geram juga. Tapi Jamel berusaha menenangkan perasaannya. Dia tidak mau terbawa emosi.

Sesabar isteri saya, dengan kenyataan seperti itu akhirnya dia ‘bersikap’ juga. “Bang, sudahlah kita berhenti saja menitipkan kuenya di kantin sekolah.” Itulah kata-katanya kepada Jamel ketika Jamel sudah memastikan penyebab kue mereka sering tidak habis. Akhirnya isteri Jamel memutuskan untuk tdak lagi berjualan kue di sekolah. Mereka hanya menitipkan di kedaa di dekat rumah tempat tinggal. Bahkan es bungkus yang tadinya juga ditumpangkan di kantin sekolah, sejak saat itu juga Jamel dan isterinya menyetop untuk menumpangkan di kantin sekolah.*** (bersambung)

Tinggalkan Balasan