Cerpen

Terbaru457 Dilihat

BOCAH DI PINGGIR PUSARA

Kang Khasan

Semerbak harum bunga kamboja yang layu telah sirna dihembus bayu, kelima pucuk kelopaknya berubah coklat, tinggalkan sedikit warna putih yang beberapa hari lagi berubah warna.

Pelan-pelan bunga yang gugur diambil tangan mungil, sambil berjongkok untuk kemudian besila di sebelah barat pusara.

“Assalamu’alakum,” suaranya lirih memberikan salam tanpa memerlukan jawaban.

“Apa kabar Bu, Pak” matanya mulai sembab melihat dua pusara di hadapanya.

“Aku rindu kalian, apakah kalian juga rindu pada Alan?” kalimat itu hanya keluar dalam batin, mulutnya kelu tak mampu berucap

“Bapak dan Ibu, aku belum bisa membaca tahlil atau yasin, tapi aku selalu berdo’a untuk kalian” terusnya sambil membaca surat Al Fatikhah.

Tangan kanan yang semula di paha, membetulkan peci hitam yang agak miring ke kanan, anganya melayang, matanya terpejam menghadirkan raut wajah kedua orang tuanya dalam bayang, wajah seorang bapak yang dulu sering mengajak bermain dan mencukupi semua yang diinginkan.

Belum pernah sedikitpun wajah itu berubah garang, walau kadang ulah Alan menjengkelkan, apalagi tangan kekarnya memberi tindakan atas kenakalanya, hanya mulutnyalah yang terbuka lembut memberi nasehat sambil mengumbar senyum kebanggaan.

Kembali Alan membacakan ayat pendek Al Quran sebisanya, sekarang muncul wajah ibu yang dulu menyuapi makan, memandikan, menyiapkan segala keperluan dan mengantar ke sekolah di TK.

Wajah ibu semakin kuat dalam bayang, ketika selalu bercerita menjelang tidur malam, mengusir nyamuk yang mendekat diri Alan; semuanya dirasakan tanpa beban, seolah tiada pernah ada rasa lelah, apalagi saat Alan sakit, semuanya perhatian hanya untuk anak semata wayang.

Kenangan demi kenangan muncul, tanpa terkecuali cerita nenek ketika Alan menanyakan kanapa bapak dan ibu belum pulang ya nek.

Nenek yang duduk berjauhan mendekat di samping Alan, sambil membelai kepala nenek mengatakan, Alan, kau anak hebat, karena itulah Allah menguji kehebatanmu dengan mengambil orang tuamu. Bapak dan Ibumu tidak akan pernah kembali nak, karena mereka sudah meninggal waktu menebus obat untukmu yang sedang sakit.

Meski jawaban nenek ditegar-tegarkan, namun air matanya tetap menetes dipipi mengenang kematian anaknya, jawaban itu pula yang sekarang mengiring air mata Alan. “Betapa mulia meraka, yang telah berkorban untuk diriku,” piki Alan.

Dadanya mulai sesak, hidungnyapun buntu oleh lendir, diusapnya air mata berkali-kali dengan baju lengan kananya, diredamnya semua emosi dalam sanubarinya.

“Pak, Alan sekarang sudah berubah,” dipandanginya pusara bapak “tidak nakal lagi dan bisa bantu nenek” lanjutnya.

“Bu, sekarang Alan sudah kelas dua MI,” kali ini pusara Ibu yang dipandang.

“Alan berangkat sekolah bersama teman-teman Bu, naik sepedah pemberian Adam, mandi sendiri dan sudah bisa sisp-siap sendiri” hiburnya.

“Kata nenek, Alan anak istimewa di mata Allah ya Bu, teman-teman juga suka pada Alan, bahkan mereka sering memberi hadiah uang atau baju” Alan percaya bahwa orang tuanya mendengarkan semua yang diucapkan, sambil sesekali memegang batu nisan.

“Bu, sebentar lagi lebaran, kata nenek, baju Alan masih bagus dan nggak perlu beli baju lagi.” hiburnya lagi.

“nggak pakai baju baru nggak papa kok Bu, tapi tahun ini puasa Alan belum terputus”

Entah sudah berapa lama Alan di samping pusara, tapi masih ingin berlama-lama untuk menyampaikan semua yang ada dalam pikiranya, tiba-tiba dirasa ada tangan meraba pundaknya.

“Alan,” agak kaget Alan mendengar suara yang berasal dari sisi kirinya.

“Kamu habis menangis ya?” tanyanya

Tanpa jawaban, Alan menggelengkan kepala

“Jangan bohong, dosa lo,” suara itu memperingatkan.

“Matamu merah pertanda kamu habis menangis, kalaupun kamu menangis, itupun wajar” Alan hanya diam, tanganya memberi salam hormat pada Pak Imam yang ada di sampingnya.

“Alan, kamu tidak boleh bersedih, Bapak Ibumu pasti sekarang sudah berbahagia di sisi Allah, karena mereka sangat taat beragama, mereka guru ngaji tanpa pamrih imbalan apapun, dan kamu besok harus menirunya” hiburnya.

Ingin sekali Alan manangis, tapi ditahan sekuat-kuatnya.

“Alan, malam ini malam jumat terakhir bulan romadhon, semua anak pasti ingin selalu ditunggui orang tuanya, begitu juga dengan orang tua apalagi waktu lebaran tiba, tapi kehenak Allah berbeda, justru dengan begitu kamu besok akan menjadi pengganti orang tua yang sejati” Alan hanya mendengar perkataan Pak Imam, meski belum tahu maksudnya.

“Yuk kita pulang,” ajak Pak Imam sembari memegang tangan Alan.

Agak malas Alam beranjak

“Kamu puasa kan?” tanya Pak Imam yang hanya dijawab dengan anggukan.

“Sudah mukak berapa kali?” tanyanya lagi

“Belum Pak, Alhamulillah semoga tidak sama sekali” jawab Alan.

“Hebat, sebagai hadiah tidak mokak, setelah ini langsung mampir ke rumah ya” ajaknya.

Alan yang tadinya malas, sekarang semangat mengikuti langkah Pak Imam.

Pak Imam adalah tokoh masyarakat yang pernah meminta Alan sebagai anak angkat ketika ditinggal orang tuanya, tapi nenek Alan yang tinggal sebatang kara menolak halus, karena nenek ingin keturunan yang tinggal satu-satunya itu mampu meneruskan cerita hisupnya, walapun untuk itu, sang nenek harus bekerja keras memenuhi kebutuhan Alan.

Pak Imam ingin kali ini Alan berbuka bersama di rumahnya, tapi Alan menolak dengan alasan belum minta izin dan takut nenek kebingungan mencarinya, Pak Imam tidak kuasa menahan sambil memberikan amplop berisi lembaran ratusan ribu rupiah.

“Ini uang untuk beli baju dan keperluan kamu lainya ya, Bapak nggak bisa membelikan baju sendiri, nanti takut kurang pas” katanya sambil menyerahkan amplop.

“Terima kasih Pak” jawabnya menyalami Pak Imam sambil tersenyum.

Alan pulang kegirangan, menyerahkan amplop pada neneknya dan menceriterakan pengalaman di samping pusara bapak ibunya sore ini.

Dalam hatinya nenek Alan bertengadah “Terima kasih ya Allah yang maha pemberi, Kau telah memberikan nikmat tidak terduga dibalik pusara, berikan aku waktu untuk mendidik cucuku agar menjadi anak yang berguna dan berbakti pada orang tuanya, Amin.”

Bojonegoro, 06 Mei 2021

Tinggalkan Balasan

2 komentar