Membranding Kewirausahaan Sekolah

Ektrakurikuler kewirausahaan mengenalkan dan melatih siswa untuk berkreasi menciptakan karya atau keterampilan yang bisa dijadikan usaha, dijual dan mendapatkan uang atau bernilai ekonomis. Ektrakurikuler kewirausahaan memberi peluang usaha dan melatih siswa untuk mandiri, giat bekerja, ulet dan mau berusaha untuk menjual hasilnya ke orang lain.

Program ektrakurikuler kewirausahaan diantaranya memanfaatkan lahan kosong di sepanjang jalan dari TK NBI menuju halaman depan. Lahan kosong ditanami sayur-sayuran seperti kacang panjang, terong dan ketela. Mulai dari penyemaian bibit, menanam bibit, menyirami hingga memanen dan menjual dikenalkan kepada siswa. Siswa juga dilatih menghitung berapa laba yang diperoleh dari modal, biaya perawatan, pemeliharaan atau produksi hingga siap untuk dijual.

Program yang lain membuat makanan tradisional dari bahan sederhana yang sering dijumpai atau digunakan dalam kehidupan sehari yang rasanya dibuat bervariasi dan dikemas semenarik mungkin, sehingga menambah nilai jualnya. Teknik mengemas makanan dan menciptakan variasi rasa melatih kreativitas anak. Mereka akan bangga jika hasil kerja atau karyanya laku dan dihargai.

Program ektrakurikuler kewirausahaan selain belajar juga sebagai kegiatan yang menyenangkan. Siswa merasa senang dan bangga dengan hasil karyanya yang terjual. Pemasarannya adalah teman, guru dan tendik juga orang tua siswa sendiri.

Salah satu produk ektrakurikuler kewirausahaan adalah akuaponik. Akuaponik diambil dari gabungan istilah akuakultur dan hidroponik. Akuakultur merupakan sebuah sistem untuk membudidayakan atau beternak ikan. Hidroponik adalah sistem bertanam tanpa menggunakan media tanah tapi menggunakan media air. Jadi akuaponik adalah metode menggabungkan dua jenis budidaya berbeda yaitu ikan dan tanaman secara bersamaan.

Akuaponik ini memanfaatkan air bekas wudu yang dialirkan dalam palon yang menuju ke kolam lele. Air limbah yang berlimpah dan masih bersih secara fisik ini dimanfaatkan oleh sekolah dengan ditampung dalam kolam.  Kolam ini digunakan untuk budidaya akuaponik yaitu memelihara lele dan menanam kangkung.

Air yang mengalir melalui pralon besar masuk ke kolam lele dan mengalami sirkulasi dengan bantuan pompa untuk mengangkat air naik ke atas melalui pralon-pralon yang lebih kecil dan dibagi secara merata pada pralon media yang telah dilubangi. Pralon media yang telah dilubangi digunakan untuk menempatkan gelas plastik yang berisi rockwool sebagai media tanam.

Air dari kolam lele tentu saja mengandung kotoran lele dan sisa-sisa makanan lele (pelet) yang bisa dijadikan pupuk untuk tanaman kangkung. Hal ini menghemat pemberian pupuk karena kotoran lele bisa dimanfaatkan dan air yang mengalir dari sirkulasi itu selalu bersih karena  terjadi penyaringan dan penyerapan oleh akar kangkung.  Air bersih ini bisa dilihat saat masuk ke dalam ember tampungan yang berasal dari pralon media kangkung.

Bibit kangkung yang ditanam dan dimasukkan di dalam gelas plastik berumur 8-9 hari. Gelas plastik pada bagian bawahnya sudah diberi lubang untuk jalan masuknya air. Sebelumnya dilakukan pembibitan terlebih dahulu dengan menanam biji kangkung pada rockwool yang telah dibasahi terlebih dahulu. Bibit ini kemudian dibiarkan tumbuh hingga bertunas dan muncul daun pertama kurang lebih 5 hari. Selama belum tumbuh tunas atau masih dalam persemaian sebaiknya disimpan di tempat gelap untuk mempercepat pertumbuhan tunas dan beberapa saat bisa dikeluarkan dan dijemur di bawah sinar matahari selama 1-2 jam pada pagi hari.

Budidaya akuaponik ini memiliki dua keuntungan sekaligus yaitu keuntungan dari akuakultur (beternak lele) dan dari hiroponik (menanam kangkung). Jenis ikan lele yang ditebar dan dipelihara di kolam konservasi air di SMP Negeri 42 ini adalah dari jenis lele lokal yang berukuran 2-3 cm yang diperoleh dari pedagang benih ikan. Ukuran kolam 8 m x 0,8 m x 1 m cukup untuk menanam benih 500 ekor.

Letak kolam lele dan kebun akuaponik ini terletak di halaman samping sekolah yang tujuan utamanya selain memanfaatkan lahan kosong samping sekolah juga untuk mendayagunakan nilai air limbah wudu agar lebih bermanfaat. Budidaya akuaponik ini bagi sekolah juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran mata pelajaran prakarya dan kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan bagi siswa. Selain memberi materi pengetahuan siswa dikenalkan langsung melalui praktek budidaya akuaponik ini dan diharapkan siswa bisa belajar dan menerapkannya dengan teknik yang lebih sederhana. Siswa bisa mencari ide lewat internet atau googling.

Budidaya akuaponik ini juga mengajarkan siswa lebih berkarakter karena siswa diberi tugas untuk memberi makan lele dan memantau, membersihkan serta merawat  pertumbuhan kangkung sesuai jadwal yang sudah dibuat guru mata pelajaran Prakarya. Tentu saja harus ada kerja sama dan rasa tanggung jawab dari siswa, dengan dibantu dan dikoordinasi oleh wali kelas.

Manfaat lain dari budidaya akuaponik ini adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan pada siswa. Siswa dikenalkan cara memelihara ikan lele dan menanam kangkung mulai dari pembelian bibit, proses pemeliharaan, menghitung  biaya produksi sampai menghitung laba dari penjualan lele dan kangkung. Meski pemasaran baru tingkat sekolah dimana pembelinya guru dan siswa namun suatu kebanggaan dan kepuasaan tersendiri saat siswa dan guru membeli hasil produksi dari kebun dan ternak sendiri. Terlebih kegiatan ini didukung oleh kepala sekolah, guru, siswa dan wali murid.  Bentuk dukungan dari sekolah adalah dengan menetapkan kegiatan akuaponik ini ke dalam Program Kewirausahaan Sekolah yang terencana dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan