Oleh Nuraini Ahwan

Prinsip pembelajaran yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah di antaranya sebagai berikut: dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mecari tahu; dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; pembelajaran yang berlangsung di sekolah, di rumah dan di masyarakat; pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik dan di mana saja adalah kelas;. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran.
Ada 4 point, prinsip pembelajaran yang penulis kutip dari 14 prinsip pembelajaran yang tercantum dalam Permendikbud RI Nomor 22 tahun 2016 tersebut. Ke empat point ini seakan berbicara bahwa prinsip ini sangat sesuai atau tepat dilaksanakan. Sesuai dengan apa yang terjadi saat ini. Wabah corona virus disease 19 (covid 19) mengharuskan peserta didik untuk meninggalkan rumah ke dua mereka (sekolah). Rumah di mana mereka selama ini belajar secara tatap muka langsung dengan guru mereka dan bersama teman mereka.
Prinsip siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, di mana saja adalah kelas, pada saat ini mau tidak mau harus diakui. Peserta didik belajar jarak jauh atau belajar dari rumah (Study At Home) dengan orang tua mereka sebagai guru. Mereka tidak belajar di ruang kelas berbentuk persegi, dengan meja bangku berjejer rapi, papan tulis ada di depan kelas, lemari dan rak buku berdiri di belakang atau di samping mereka. Tidak lagi ada bel berbunyi pertanda jam keluar bermain atau jam masuk kelas kembali. Tidak ada guru yang berdiri di depan mengabsen, memberi tugas langsung dan sebagainya.Mereka belajar bersama orang tua, dibimbing orang tua menyelesaikan tugas dari guru, diperiksa langsung hasilnya oleh orang tua sebelum dikirim ke guru mereka. belajar di tempat yang tidak seperti kelas yang biasa mereka tempati. Mereka bisa saja belajar sambil tengkurap, belajar di ruang tamu, belajar sambil nonton tv dan sebagainya.





Prinsip pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mempercepat efisiensi dan efektifitas pembelajaran juga di masa wabah ini dirasakan sangat penting. Alternatif pembelajaran jarak jauh dengan pola dalam jaringan (daring) mempercepat diaksesnya pembelajaran oleh peserta didik. Salah satu teknologi yang bisa digunakan adalah handphone /handphone android. Aplikasi paling sederhana yang boleh dikatakan semua kalangan bisa memanfaatkannya adalah watshapp atau wa.
Media inilah yang digunakan di tempat tugas penulis dengan membuat whatshap grup kelas masing masing-masing. Anggota grup setiap kelas terdiri dari Kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, dan wali murid. (peserta didik masih usia SD, di tempat penulis belum dibolehkan memiliki hp sendiri). keberadaan kepala sekolah dalam grup dimaksudkan untuk memudahkan melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pembelajaran daring ini.
Prosentase peserta didik yang orang tuanya memiliki handphone android memang tidak 100 persen. Data awal sejak pemberlakuan pembelajaran dari rumah dilaksanakan, peserta didik yang orang tuanya memiliki handphone android di bawah 50 % sehingga guru sulit untuk memberikan tugas untuk semua peserta didik. Peserta didik yang bisa mengakses atau mengetahui tugas hanya peserta didik yang tergabung dalam grup. Sementara peserta didik yang tidak tergabung dalam grup hanya berbekal buku pelajaran yang diberikan di awal pelaksanakan pembelajaran dari rumah ini.
Lalu bagaimama dengan memantau peserta didik yang di luar jaringan dengan berbekal buku paket saja? Peserta didik yang orang tuanya tidak memiliki handphone android?
Seiring dengan perpanjangan waktu belajar dari rumah yang sudah memasuki 2 tahap waktu itu, jumlah anggota dalam grup juga bertambah. Perhatian orang tua akan pentingnya pendidikan putra-putrinya meningkat. Sehingga data terakhir, orang tua yang tidak mamiliki handphone prosentasenya sedikit. Dalam satu kelas berkisar 6 atau 8 orang.
Melihat kenggotaan grup bertambah, maka khabar peserta didik yang orang tuanya tidak memilki handphone terjawab sudah. Jumlah yang sedikit ini akan mampu ditarik atau di dampingi oleh yang punya handphone. Sehingga mereka bisa mengakses semua tugas dari guru.
Sekolah bersama rekan guru mencoba mengimplemetasikan pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan. Dengan 5 nilai karakter utama di antaranya religiusitas dan gotong royong.
Orang tua atau peserta didik yang punya dan yang tidak punya hnadphone android sudah terdata di wa grup. Kepala sekolah mengetahui perkembangan jumlah anggota. Dengan mudah kepala sekolah meminta guru memetakan tempat tinggal peserta didik yang orang tuanya tidak memiliki handphone. Pemetaan ini dimaksudkan untuk memudahkan melakukan penjaringan atau perekrutan mereka untuk bergabung bersama tetangga sekelasnya yang punya handphone.
Proses atau kegiatan ini tidak serta merta atau langsung dilaksanakan. Setelah pemetaan tempat tinggal selesai di buat guru, kepala Sekolah mengimformasikan kepada orang tua dalam grup, untuk berkenan menjadi inang atau induk dari teman sekelas anaknya yang tidak punya handphone dalam hal pengaksesan tugas. Dengan bahasa yang menyentuh hati melalui chat di watshapp grup, kepala sekolah menyampaikan bahwa bagaimana caranya agar anak-anak semua memperoleh haknya untuk pendidikan. Pembelajaran jarak jauh seperti ini, entah sampai kapan akan berakhir. Di perpanjang terus sampai wabah ini benar-benar tidak ada. Di sekitar tempat tinggal bapak dan ibu, ada teman sekelas putri-putra bapak yang tidak punya handphone. Bisakah kira-kira bapak berbagi informasi tentang tugas dari guru kepada mereka? (kepala sekolah menyebutkan nama peserta didik yang tidak punya hp). Bulan ini penuh berkah, mari berbagi, saling tolong menolong, semoga rizki bapak dan ibu dilancarkan Allah SWT.
Sentuhan hati ini, membuat respon orang tua sangat bagus. Mereka dengan senang hati mengimformasikan setiap tugas yang diberikan guru kepada pserta didik yang tidak memiliki handphone android bahkan sampai kepada pegiriman tugas.
Teknik menjaring teman sekelasnya yang tidak punya handpohone android dan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahnya berangkat dari pemikiran bahwa dalam grup ada admin kelas dari masing-masing wilayah sumber peserta didik atau asal peserta didik. Mereka menjaring anggota grup dari orang tua yang punya hp. Mengapa tidak bisa dikembangkan , jika yang punya handphone android juga menjaring teman sekelasnya yang tidak punya hp android?
Seperti multilevel, multilevel ini tidak seperti multilevel perbisnisan. Mencari rekan joint seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya sampai bercabang-cabang. Mencari untung sebanyak-banyaknya.
Tetapi multilevel daring di sini dimaksudkan mencari anggota, teman sekelasnya, dekat rumahnya, tidak lebih dari 2-3 orang, tidak menarik untung atau bayaran ( untuk beli kuota internet) kecuali diberi tanpa meminta. Untungnya adalah niat berbaginya semoga mendapat balasan dari Allah SWT.
Kami menyebutnya “Multilevel Daring Tanpa Laba”
Dengan teknik ini kami akhirnya mengetahui bagaimana khabar peserta didik kami yang awalnya mengikuti pembelajaran secara luring (luar jaringan). Inangnya atau yang punya handphone akan menginformasikan atau menulis chat di watshap bahwa ini tugasnya si ini…..(ditulis nama di bawah tugas jika dikirim dalam bentuk foto tugas)
Semoga teknik ini mampu mewujudkan bahwa pendidiikan untuk semua, dan semua anak berhak mendapatkan pendidikan. Jangan biarkan pendidikan anak-anak kita terhenti meskipun wabah masih melanda negeri kita.
Tulisan sudah dipost pada blog penulis, https://nurainiahwan.blogspot.com









