Oleh Nuraini Ahwan
Pagi tadi, saya menyambangi sekolah setelah libur sejak tanggal 18 Mei 2020 yang lalu. Bersama teman yang lain, kami membuat janji untuk ke sekolah jam 09.00 wita. Karena jamnya agak siang, masih ada waktu untuk beres-beres di rumah pagi harinya. Keasyikan dengan kerjaan di rumah, lupa melihat jam yang terpampang di dinding kamar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.30 wita. Saya sedikit kalang kabut. Dengan cepat saya ambil handphone untuk menelpon teman, minta maaf terlambat datang.
Segera saya bersiap untuk sekolah. Tak sampai setengah jam saya sudah siap berangkat. Dengan motor vario warna pink, yang setia mengantar saya sekolah sejak tahun 2007 lalu, saya berangkat. Tas ransel sudah numpang di punggung. Tas ransel ditutup jilbab besar, mengikuti arahan suami sebelum berangkat kemana pun. Banyak kejadian penjambretan akhir-akhir ini. Mungkinkah karena kondisi sulit ekonomi yang dihadapi masyarakat sekarang ini? Berhati-hati lebih baik. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan yang dilihat. Penjabret tak pilih-pilih. Melihat peluang ada, langsung beraksi. Padahal tas yang dibawa pengendara sepeda motor hanya berisi buku tulis. Tapi akibatnya keselamatan pengendara terancam. Ini sering terjadi.
Entahlah…..
Jarak rumah dengan sekolah tidak jauh, sehingga dalam hitungan menit saja, saya sudah sampai. Tujuan kami ke sekolah hari ini adalah mengumpulkan membuat laporan pembelajaran jarak jauh dengan model daring atau dalam jaringan. Laporan sudah selesai kami buat dari setiap kelas, hanya saja kumpulan foto dan video belum disatukan dari seluruh kelas.
Ketika saya tiba di sekolah, teman-teman sudah kumpul di ruang guru. Saya langsung menuju ke papan kecil yang tersedia di kelas guru. Saya mengambil spidol dan menulis kalimat,”Maaf saya terlambat.”
Papan kecil adalah papan kejujuran. Papan itu digunakan untuk menulis permohonan maaf atas kesalahan maupun terima kasih kepada teman apabila ada yang dirasa sudah berbuat baik pada sesama teman. Papan kejujuran ini pernah dipertanyakan oleh seorang widiaiswara Lembaga Penjamiman Mutu Pendidikan Nusa Tenggara Barat ketika berkunjung ke sekolah (SDN 1 Dasan Tereng). Beliau membaca kalimat permohonan maaf yang tertulis di papan itu,”Kalimat itu, siapa yang menulis?” tanya beliau. Saya menjawab bahwa kalimat itu ditulis oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah menjawab alasannya menulis kalimat itu. Akhir akhir ini, guru-guru sangat sibuk dengan laporan pembelajaran dalam jaringan (daring). Laporan yang super tebal selesai dikerjakan oleh semua guru. Itulah sebabnya kepala sekolah minta maaf ketika melihat gurunya bekerja keras menyelesaikan laporan itu.
Guru-guru asyik berbincang melepas kangen karena lama tak bertemu langsung. Mereka lupa dengan aturan psycal distanching. Pasti tahulah, kalau tak memperhatikan aturan psycal distanching , duduk mereka nyaris tak berjarak. Maklum, lama tidak bertemu. Pembicaraan mereka tak lepas dari masalah pandemi covid 19 yang melanda negeri. Seputar meningkatnya pasien covid 19 yang positif di provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya kabupaten di mana kami berada yakni kabupaten Lombok Barat. Pembicaraan sampai pada pertanyaan,”Kapan kita masuk sekolah? Apakah tanggal 2 Juni 2020, kita sudah masuk bersama dengan peserta didik? Jawaban yang saya berikan pada teman-teman adalah tunggu informasi berikutnya.
Tak terasa, matahari merangkak naik, hari semakin siang. Satu persatu teman-teman menyerahkan plasdish yang berisi foto dan video kegiatan belajar jarak jauh peserta didik SDN 1 Dasan Tereng. Dari kelas 1 sampai kelas 6. Sempat pula kami bicarakan tentang Penilaian Akhir Semester di masa covid 19 ini. Memakai teknik daring termasuk pada penerimaan peserta didik baru nanti secara online atau kombinasi. Kami melanjutkan bincang-bincang seru seputar covid dan lebaran di rumah saja.
Di tengah pembicaraan itu, saya menceritakan bahwa kemarin saya menulis di blog yang isinya antara lain tentang ketakutan saya pada si corona. Karena corona tak terlihat, seperti musuh tersembunyi. Kalau gempa, kita masih bisa berlari menyelamatkan diri. Teman-teman mengiyakan dan sepakat dengan pendapat saya. Ini yang menjadi penutup kegiatan saya di sekolah hari ini. Tanpa bersalaman kami meninggalkan sekolah bersama-sama.
Sore hari, saya menyiapkan masakan untuk berbuka puasa. Ketika sedang menggoreng tempe bacem, terdengar suara seperti gemuruh. Saya terdiam sejenak, memperhatikan suara itu. Tiba-tiba tetangga saya berteriak,”gempa!” Hapal sekali dengan suara sebelum gempa tiba karena tahun 2018 dalam beberapa bulan daerah Lombok terus terjadi gempa dalam intensitas yang tinggi.
Saya berlari meninggalkan dapur memanggil anak-anak untuk keluar. Mereka lebih gesit dari saya. Mereka sudah di halaman. Tetap tenang dan berusaha tidak pani, saya melangkah kembali ke dapur mematikan kompor. Mengecek keadaan anak- anak saat gempa menjadi prioritas pertama yang saya lakukan. Khawatir mereka akan berlari tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Teringat ketika gempa bumi Lombok dan Sumbawa tahun 2018, mereka berlari ke arah depan rumah. Bubungan rumah yang berjatuhan hampir mengenai kepala mereka. Alhamdulillah mereka aman. Gempa kali ini kekuatan 4,5 SR dengan pusat gempa di Kabupaten Lombok Barat kedalaman 5 km. Data diperoleh dari postingan teman di whatsAap.
Astagfirullah hal azim. Baru tadi pagi kami mengatakan ketakutan kami pada gempa tak setakut kami pada corona. Ternyata kalimat ini salah, Ya Allah. Ampuni kami. Sore hari dibayar tunai. Engkau uji keberanian kami dengan gempa. Kami salah dan khilaf Ya Allah. Hamba Mu yang lemah ini. Hamba yang tak punya keberanian ini.
Edisi.Pengingat diri








