Ketika Menulis Cerita Horor

Gaya Hidup, Terbaru679 Dilihat
horor
Menulis kisah horor (sumber gambar: Image by Alexas_Fotos from Pixabay)

“Hati-hati, bisa jadi kamu tak sendirian ketika menulisnya”

Horor adalah tema yang sering kuhindari untuk kutulis jelang tengah malam. Entah karena sugesti atau karena terhanyut dengan jalan cerita yang kutulis, maka aku ikut merasa deg-degan. Ada sesuatu yang membuatku was-was, apakah ‘mereka’ ikut menemaniku menulis?

Ada beberapa pengalaman horor yang pernah kualami. Ketika sedang berada dalam situasi tersebut, rasanya sungguh tak enak, mendebarkan. Apalagi ketika mengetahui sasaran untuk ‘dihantui’ itu adalah aku. Detik demi detik rasanya begitu lama. Saat adzan Subuh itulah rasanya aku baru benar-benar terbebas dari situasi seram tersebut, jika mereka hadir pada sekitar dini hari.

Ketika peristiwa tersebut sudah berlalu, maka cerita tersebut cukup menarik untuk dikisahkan. Ditertawai atau dijadikan kisah pelajaran. Ada kalanya ketika aku bercerita lewat tutur atau tulisan, unsur seramnya jadi berkurang. Mengapa? Karena kadang-kadang sulit sekali mengungkapkan sebuah perisiwa horor yang dialami sendiri tanpa flashback ke situasi tersebut.

Ketika benar-benar flashback ke situasi tersebut, maka aku seperti kembali ke situasi tersebut. Kondisi ketika tubuhku tiba-tiba terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Situasi ketika doa-doa terasa sulit diingat dan diucapkan. Peristiwa yang mendebarkan, antara pasrah dan melawan.

Mungkin karena itulah aku belum bisa menghasilkan cerita yang dirasa benar-benar seram. Karena aku sendiri merasa takut dengan ceritaku. Itu juga alasan aku enggan menulis kisah horor pada saat jelang tengah malam.

Siapa tahu mereka ikut menemaniku menyusun tulisanku.

Tinggalkan Balasan