Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru778 Dilihat

KEGAGALAN PERTAMA

Aku merasa dalam posisi terjepit, kondisi Kahfi seperti habisditerkam mulut harimau dan sekarang dalam ancaman mulut buaya. Kondisi Kahfi di boarding school makin tidak kondusif. Nilainya semakin turun, hari-hari bolosnya semakin banyak, dan badannya semakin kurus. Sudah berapa kali aku ditemani Hanafi kakak Kahfi menjemput antar Kahfi ke boarding school tersebut. Komunikasinya dengan kami juga semakin berjarak dan tertutup. Sulit dipancing baik terkait peristiwa penculikannya dulu maupun pada saat sedang berada dalam asrama dan lingkungan sekolah sekarang ini. Kutanyai wali kelasnya, tidak ada jawaban pasti, hanya akan diusahakan akan diperhatikan, ya begitu saja.

Suatu ketika, kulihat wajah Kahfi yang sebelumnya montok, sekarang agak tirus karena kurus dan matanya terlihat cekung. Kutanyai apakah kurang tidur atau kurang makan? Katanya cukup saja. Apakah teman-temannya baik-baik saja. Baik, jawabnya. Apakah guru-guru, wali kelas, bapak asrama baik? Ya baik, jawabnya datar.

“Bapak asrama akrab dengan Kahfi” katanya nyeletuk

Oh.. Akrab bagaimana?”

“ Iya dia sayang dan membela Kahfi kalau ada teman jahil”

“Maksudnya?”

“Teman ga berani lagi sama Kahfi. Malam aku sering diajak ke kamarnya diajarinya cara ngurut”

“Hahh… ngurut siapa?

“ Ngurut bapak asrama…...”

(Ya Allah… apalagi ini?) kataku dalam hati.

Akhirnya dari pada aku tidak dapat bertindak apa-apa atas kesewenangan orang-orang di boarding school ini, kuputuskan untuk mengeluarkan Kahfi dari sekolah bergengsi yang brengsek itu. Tanpa banyak bicara, tanpa mengadu apa-apa karena akan percuma saja, maka kukatakan kepada pihak sekolah bahwa Kahfi akan dipindahkan sekolahnya supaya bisa langsung dalam pengawasanku. Lebih baik tinggalkan saja, biarlah sekolah ini berproses dalam kesemrawutannya dan biarlah orang-orang lain yang mengadukan mereka. Aku tidak mau pusing lagi dengan sekolah ini. Setelah dapat rapot naik ke kelas 3 kupindahkan Kahfi ke sekolah SMU Swasta yang tidak jauh dari rumahku di lingkungan IKIP Rawamangun. Untung bisa diterima karena nilainya pas-pasan bahkan ada yang merah.

Episode apa lagi yang akan terjadi pada anakku harus terus kuhadapi dan kuselesaikan. Setelah full berada di rumahku kuperhatikan perilakunya makin tak menentu. Perilaku yang kuharapkan menjadi lebih baik selama di boarding school ternyata justru jadi memburuk. Malas bangun, malas belajar, malas bergerak, malas mandi, banyak melamun, seperti orang kebingungan, banyak duduk di sejadah sampai terbongkok-bongkok bahunya yang kurus. Dia juga mulai mencuri-curi merokok, jika dilarang, seperti menentang. Suatu saat membanting kotak rokok ke meja ketika kutegur. Akhirnya kubiarkan dia merokok sambil kuingatkan cukup 1-2 batang saja. Suatu ketika dia jatuh dari sepeda ketika mau pergi sekolah, jatuh ke selokan, dipanggil tukang urut keseleo dan sembuh. Aku merasa sedih hanya bertanya dalam hati, anakku yang waktu SMP berbadan tegap, kekar, putih bersih, lincah, ceria, ganteng, sekarang jadi lemah bisa jatuh dari sepeda masuk ke selokan. Aku harus terus bersabar dengan ujian ini, bersabar dan terus berusaha. Kupikir mungkin ini karena masa pancaroba anak usia 17-18 tahun. Tak ada gunanya mengeluh.

Di SMU swasta itu kulihat Kahfi berteman akrab dengan seorang murid sekelasnya bernama Sinta. Mereka nampaknya saling menyukai. Kupikir biarlah mereka berteman, mana tahu peristiwa-peristiwa buruk masa lalu yang menimpa Kahfi dapat terobati dengan kehadiran Sinta. Kuperhatikan Sinta anaknya cukup baik sopan bersahaja sepertinya memang menyukai Kahfi. Dalam acara perkawinan kakak Kahfi yang bernama Hanafi, Sinta diajak dan diperkenalkan sebagai temannya.Waktu berlalu, kuperhatikan hubungan dan interaksi mereka kadang baik kadang kurang baik. Cemberut satu sama lain, kupikir mungkin sedang beradaptasi. Pernah Sinta bercerita bahwa Kahfi kadang aneh sikap dan kelakuannya, misalnya lamban dalam bertindak, kurang mau bergaul, suka menyendiri, kurang semangat belajar, solatnya lama sekali, pencemburu, pernah marah memukulkan tinjunya ke dinding membuat Sinta takut. Namun di lain pihak kulihat mereka menyukai satu sama lain, kesana kemari selalu bersama.

Ujian SMU berlalu, keduanya lulus ujian, aku bersyukur meski nilai Kahfi masih pas-pas an yang penting lulus. Ketika mau memilih tempat kuliah kuanjurkan di UNJ (dekat rumah waktu itu), terserah mau jurusan apa yang diminatinya. Ternyata jawabannya mengagetkanku, dia mengatakan belum mau melanjutkan kuliah.

“Terus Khafi mau apa kalau belum mau kuliah?”

“Mau istirahat dulu, lelah, kurang semangat…”

“ Kahfi kan bisa sama-sama Sinta satu jurusan bisa saling menyemangati” kataku

“ Dia mau ekonomi, aku gak mau”

“ Iya banyak fakultas lain bisa pilih, yang non regulernya”

“ Nantilah pikir-pikir dulu…”

Akhirnya Kahfi menganggur setahun, kuliah tidak bisa dipaksa. Namun selama setahun itu kubukakan peluangnya untuk ikut kursus-kursus. Pertama kursus bahasa Inggris, cuma satu dua bulan berhenti. Masuk kursus gitar, tidak sampai tuntas, bosan katanya. Kursus vokal, juga cuma sebentar. Hubungannya dengan Sinta kulihat masih terus berlanjut meski tidak seakrab dulu lagi. Sinta masih mengeluhkan sikap Kahfi yang kadang aneh, sering melalum bahkan pernah bicara-bicara sendiri. Sinta menganjurkan agar Kahfi diobati dengan orang pintar, karena seperti ada gangguan jin, makhluk halus.

Maka dimulailah kembali episode mencari orang-orang pintarsejagat raya yang bisa mengusir jin, setan dan sebangsanya. Oh iya, sebelum lanjut, perlu kuinfokan dulu bahwa boarding school yang terkenal beken tempat Kahfi sekolah dulu, terdengar kabar telah di TUTUP.

Tinggalkan Balasan