Ketika “Durhaka” Tak Lagi Sepihak: Sebuah Muhasabah bagi Orang Tua

Menimbang keadilan dan kasih sayang orang tua dalam cahaya Al-Qur’an dan hadis

Berita, Humaniora, Islam19 Dilihat

Durhaka Bukan Hanya dari Bawah ke Atas

Orang hampir selalu mengarahkan kata durhaka kepada anak. Seakan-akan kedurhakaan hanya mungkin muncul dari bawah ke atas. Padahal dalam Islam, setiap relasi adalah amanah, dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas setiap amanah itu.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” (QS. 66: 6)

Banyak orang memaknai ayat ini sebagai kewajiban mendidik anak agar taat. Namun, menjaga keluarga tidak hanya berarti mengarahkan mereka pada ketaatan. Orang tua juga harus menjaga hati mereka dari luka yang mungkin lahir dari sikap dan ucapan kita sendiri.

Anak memang wajib berbakti. Pada saat yang sama, orang tua wajib berlaku adil dan penuh kasih.

Rasulullah saw. bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini muncul ketika seorang ayah memberi hadiah kepada satu anaknya dan mengabaikan yang lain. Rasulullah saw. langsung menegurnya, karena ketidakadilan sekecil apa pun dapat menanam luka yang tak terlihat.

  • Durhaka: Tentang Melukai Amanah

Jika kita memaknai durhaka sebagai tindakan menyakiti dan mengkhianati tanggung jawab, muhasabah ini menjadi penting bagi siapa pun yang memegang amanah.

  • Saat Kata Menjadi Luka

Ucapan yang merendahkan, mencemooh, atau meremehkan kemampuan anak mungkin terasa sepele bagi orang tua. Namun, seorang anak bisa menyimpannya lama-lama sebagai keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik.

Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk mentauhidkan-Nya dan berbuat baik kepada orang tua, terutama saat mereka lanjut usia. Anak tidak boleh mengucapkan kata kasar, membentak, bahkan sekadar berkata “ah” (uff). Mereka harus bertutur kata sopan, mulia, dan penuh hormat. (QS. 17: 23).

Jika Allah melarang anak berkata kasar kepada orang tua, sudah sepantasnya orang tua pun menjaga lisan mereka ketika berbicara kepada anak.

  • Ketika Cinta Bersyarat

Islam mengenalkan rahmah, kasih sayang yang tidak bergantung pada prestasi. Rasulullah saw. memperlihatkan kelembutan itu dalam keseharian. Beliau mencium cucunya, menggendong mereka, bahkan tidak berlama-lama melakukan salat ketika mendengar tangis bayi. Beliau tidak sekadar menunjukkan emosi, tetapi mengajarkan pendidikan jiwa.

Kasih sayang yang hadir hanya saat anak berprestasi atau selalu patuh tidak akan melahirkan cinta yang sehat. Sikap itu justru menumbuhkan kecemasan, takut gagal, ataupun merasa takut orang tua tidak mencintai sang anak.

  • Sikap yang Lebih Tajam dari Kata

Terkadang bukan kata-kata yang melukai, melainkan cara. Bisa karena cara memanggil, cara menatap, ataupun cara memberi. Sebuah pemberian yang bernilai materi bisa berubah menjadi penghinaan ketika orang tua menyampaikannya tanpa rasa kelembutan dan kasih sayang. Anak mungkin menerima barang yang diberi, tetapi hatinya menangkap pesan bahwa orang tua tidak menghargai dirinya.

Islam bahkan mengatur adab dalam bersedekah. Allah menegaskan bahwa perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai tindakan menyakiti hati penerimanya. (QS. 2: 263).

Jika kepada orang lain saja manusia harus menjaga adab saat memberi, tentu orang tua lebih wajib menjaganya ketika memberi kepada anak sendiri.

  • Ketika Doa Berubah Arah

Amarah sering mendorong lisan mengucapkan doa yang buruk. Rasulullah saw. mengingatkan umatnya agar tidak mendoakan keburukan bagi diri sendiri, anak, atau harta. Bisa jadi doa itu bertepatan dengan waktu mustajab dan benar-benar dikabulkan.

Lisan orang tua memiliki kekuatan spiritual yang besar. Karena itu, setiap kata seharusnya mereka timbang dengan kesadaran.

  • Larangan Tanpa Hikmah

Islam tidak membungkam akal, melainkan mengajarkan hikmah dan pemahaman. Anak yang hanya menerima larangan tanpa penjelasan tidak belajar nilai. Ia hanya belajar takut. Pendidikan sejati menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar kepatuhan.

  • Amanah Itu Dua Arah

Menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi nafkah atau memastikan anak bersekolah. Orang tua memimpin, membimbing, dan menjaga martabat manusia kecil yang Allah titipkan.

Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebelum orang tua gelisah memikirkan kemungkinan anak menjadi durhaka, ada pertanyaan yang patut mereka ajukan kepada diri sendiri:

Sudahkah cara kita menegur menjaga harga dirinya?
Sudahkah cara kita memberi menjaga kehormatannya?
Apakah lisan kita lebih sering menjadi doa atau justru menjadi beban?

Mendidik bukan sekadar membentuk perilaku, melainkan harus membangun rasa aman, rasa menghargai, dan rasa mencintai tanpa syarat. Jika orang tua menghargai anak, anak pun akan menghargai mereka. Jika orang tua mencintai dengan benar, anak pun akan tumbuh dalam cinta yang benar.

Wallahua’lam. (RK)

Tinggalkan Balasan

2 komentar