EDUKASI GIZI ANDALAN AHLI GIZI

Terbaru109 Dilihat

Gaung edukasi gizi serempak dalam rangka Hari Gizi Nasional (HGN) yang dilaksanakan di ribuan sekolah di seluruh Nusantara pada 21 Januari 2026 lalu, patut dibaca lebih dari sekadar peristiwa seremonial. Di balik angka 1.846 titik sekolah dan pencatatan rekor oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), tersimpan pesan penting tentang jantung profesi Ahli Gizi: edukasi.

Edukasi gizi adalah napas profesi ini. Tanpanya, upaya perbaikan gizi akan berhenti pada angka, laporan, dan rekomendasi teknis. Ia tak akan menjelma menjadi perilaku nyata di meja makan keluarga, di kantin sekolah, maupun dalam kebiasaan hidup masyarakat. Karena itu, setiap momentum HGN sejatinya menjadi pengingat bahwa peran utama Ahli Gizi bukan hanya menghitung kebutuhan zat gizi, tetapi menggerakkan kesadaran.

Kesadaran inilah yang coba dirawat melalui berbagai inisiatif, termasuk kegiatan di institusi pendidikan gizi. Lomba presentasi edukasi gizi bagi mahasiswa Poltekkes Jakarta II Jurusan Gizi, yang digelar dalam rangkaian memeriahkan HGN, diprakarsai oleh para Ahli Gizi alumni angkatan 1971/1972 yang telah purnabakti namun tetap ingin mendedikasika pengalaman dalam menjalankanprofesi, berkolaborasi dengan Poltekkes Jakarta II Jurusan Gizi, memberi makna tersendiri.

Kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang belajar untuk menanamkan bahwa menjadi Ahli Gizi berarti siap berdialog dengan masyarakat, mendengar, memahami, dan menjelaskan dengan bahasa yang membumi.

Sejarah pendidikan gizi di Indonesia menegaskan hal tersebut. Ketika Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poorwo Soedarmo mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan pada 25 Januari 1951, ia tidak semata-mata mencetak tenaga teknis. Ia menyiapkan pendidik masyarakat. Istilah “penerang” mengandung makna filosofis: membawa terang pengetahuan ke ruang-ruang kehidupan sehari-hari. Dari sanalah pendidikan gizi formal tumbuh dan berkembang hingga kini.

Dalam konteks itu, edukasi gizi bukan proses instan. Ia adalah kerja sistematis dan berkelanjutan untuk membangun pengetahuan, membentuk sikap, dan menumbuhkan kemauan untuk berubah. Informasi saja tidak cukup. Masyarakat perlu diyakinkan, didampingi, dan diberdayakan agar mampu mengambil keputusan gizi secara mandiri. Di sinilah tantangan terbesar Ahli Gizi: mengubah kebiasaan, bukan sekadar menyampaikan pesan.

Tantangan ini menuntut lebih dari penguasaan ilmu. Edukasi gizi adalah perpaduan antara sains dan seni. Ketepatan materi harus berjalan seiring dengan kecakapan berkomunikasi. Sebab komunikasi sejatinya adalah kesamaan makna. Ketika pesan ditangkap berbeda, persepsi pun melenceng, dan tujuan edukasi gagal tercapai.

Kesalahan bukan selalu pada isi pesan, tetapi sering kali pada cara pesan disampaikan.
Di tengah kompleksitas masalah gizi dan banjir informasi di era digital, posisi edukasi gizi justru kian strategis. Ia menjadi jangkar yang menautkan ilmu dengan realitas sosial. Karena itu, dapat dikatakan bahwa edukasi gizi adalah andalan utama profesi Ahli Gizi—suatu kerja sunyi yang dampaknya tidak selalu segera terlihat, tetapi menentukan kualitas kesehatan generasi di masa depan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan