BELAJAR DARI FALSAFAH BATAK: DALIHAN NA TOLU

Terbaru6 Dilihat

Falsafah adalah pandangan hidup, sikap batin, atau anggapan paling dasar yang dimiliki individu atau masyarakat. Sering juga diartikan sebagai “cinta kebijaksanaan. Berasal dari bahasa Yunani philosophia terkait tentang  hakikat kebenaran yang mendalam, sebab, dan asas-asas segala sesuatu melalui pemikiran rasional.

Bagi suku Batak Toba khususnya,  “Dalihan Na Tolu” adalah salah satu sistem nilai sosial paling fundamental dalam budaya mereka. Secara harfiah, Dalihan Na Tolu berarti “tungku yang berkaki tiga”—satu metafora yaitu gaya bahasa yang memperbandingan langsung atau menyamakan dua hal berbeda berdasarkan kemiripan sifat tanpa menggunakan kata hubung.

Dalihan Na Tolu sederhana namun sarat makna. Makna Filosofisnya seperti tungku tradisional membutuhkan tiga batu agar bisa berdiri  dan menopang periuk dengan kokoh. Demikian pula kehidupan sosial dalam masyarakat Batak juga harus ditopang oleh tiga relasi utama yang seimbang agar tetap teguh yaitu : pertama Hula-hula (pihak pemberi perempuan / keluarga istri). Pihak ini sangat dihormati. Hormat kepada hula-hula.–“Somba marhula-hula” maknanya: kesadaran untuk menghargai sumber kehidupan dan relasi yang memberi “berkat” dalam struktur keluarga.

Kemudian Dongan tubu (saudara semarga).Merupakan “rekan sejajar” dalam garis keturunan. Prinsipnya:“Manat mardongan tubu”-hati-hati, saling menjaga dengan sesama. Karena relasi horizontal membutuhkan kehati-hatian agar tidak rusak oleh konflik, iri hati atau ego.

Elek marboru. Boru atau pihak penerima perempuan / keluarga yang menikahi perempuan suatu keluarga dalam struktur ini,  justru pihak yang dilayani. Prinsipnya:“Elek marboru” → dimaknai mengayomi, dan memperlakukan dengan kasih.
Ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu berarti mendominasi, tetapi juga tanggung jawab melayani bahkan suatu pengorbanan.

Nilai Inti yang terkandung dalam falsafah Dalihan Na Tolu ini bukan sekadar aturan adat, tetapi mencerminkan nilai universal yang meluputi:
Keseimbangan relasi sosial, tidak ada pihak yang lebih tinggi secara mutlak; semuanya saling bergantung.
Di dalamnya ada etika peran yang setiap orang harus tahu kapan ia harus menghormati, sejajar, atau melayani. Ada pengendalian ego seseorang tidak bisa selalu berada di posisi “di atas”. Selain itu menyimpan makna harmoni komunitas. Konflik bisa diminimalisir karena peran sudah jelas dan diatur secara budaya.

Menariknya, Dalihan Na Tolu jika dicermati tetap relevan dalam kehidupan modern bahkan di luar konteks adat. Semisal dalam profesi, ia mengajarkan bahwa kita harus tahu kapan menjadi pemimpin, rekan, atau pelayan..Dalam keluarga, ia menanamkan keseimbangan antara hormat, solidaritas, dan kasih. Dalam kepemimpinan, ia menegaskan bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan menempatkan diri secara tepat.

Di tengah modernitas masa kini, tantangan terbesar adalah ketika nilai ini direduksi hanya menjadi simbol seremonial—hadir dalam pesta adat, tetapi hilang dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Padahal, kekuatan Dalihan Na Tolu justru terletak pada internalisasi nilai: bahwa kehidupan yang kokoh bukan dibangun oleh dominasi satu pihak, melainkan oleh keseimbangan relasi.

Dalihan Na Tolu mengajarkan bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berada dalam jejaring relasi yang menuntut hormat, kehati-hatian, dan kasih. Jika salah satu kaki “tungku” diabaikan, maka keseimbangan akan runtuh—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan profesional.

Dalihan Na Tolu menekankan marsipasangapan, artinya saling menghormati dan kepatuhan terhadap hukum adat warisan leluhur.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan