Kurangnya kecerdasan, pemahaman, pengetahuan, atau kemampuan belajar sering membuat seseorang dicap bodoh. Karena itu, banyak orang takut bertanya. Mereka khawatir dianggap tidak tahu, kurang pintar, atau memalukan diri sendiri.
Padahal, Confucius pernah mengatakan:
“The man who asks questions is a fool for a minute.”
Ungkapan ini kerap disalahpahami seolah-olah bertanya adalah tanda kebodohan. Padahal maknanya justru sebaliknya. “Kebodohan” karena bertanya hanyalah sesaat—sekadar momen ketika seseorang mengakui bahwa dirinya belum tahu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal pepatah, “Malu bertanya sesat di jalan.” Pepatah ini mengingatkan bahwa keberanian bertanya jauh lebih berharga daripada berpura-pura tahu. Sebab, diam tidak selalu menunjukkan kebijaksanaan; sering kali diam hanyalah bentuk ketakutan untuk belajar.
Sesungguhnya, bertanya adalah pintu masuk menuju pengetahuan. Dengan bertanya, seseorang membuka ruang untuk memahami, memperluas wawasan, dan memperbaiki cara berpikirnya. Sebaliknya, orang yang enggan bertanya berisiko terjebak dalam ketidaktahuan yang panjang.
Kemajuan peradaban juga lahir dari pertanyaan. Ilmu pengetahuan berkembang karena manusia terus mempertanyakan apa yang belum dipahami. Inovasi muncul dari rasa ingin tahu. Bahkan perubahan sosial dan perbaikan kebijakan sering dimulai dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap “biasa”.
Kutipan tersebut sekaligus mengajarkan kerendahan hati intelektual. Mengakui bahwa kita tidak tahu bukanlah kelemahan, melainkan langkah awal menuju pengetahuan yang sejati. Orang bijak bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban, tetapi mereka yang tidak takut mengajukan pertanyaan
Pada akhirnya, menjadi “bodoh selama satu menit” karena bertanya adalah harga yang sangat kecil dibandingkan manfaat yang diperoleh sesudahnya. Sebab sesungguhnya, bukan pertanyaan yang membuat seseorang tampak bodoh, melainkan keengganan untuk belajar dan keberanian untuk bertanya.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


