JAJANAN GORENGAN CAMILAN GENERIK

Terbaru11 Dilihat

Jarum jam belum lagi menunjuk angka 09.00. Pagi itu karyawanpun sudah lengkap hadir di ruang kerja Minuman kopi dan teh sudah tersedia di masing-masing meja. Sekilas tertangkap tatapan beberapa wajah seakan berkata:” berani benar nih minuman hadir tanpa teman”.

Kegelisahan itu tak lama bertahan berganti senyum sumringah ketika melihat “office boy” membawa piring penuh gorengan beragam. Ada tahu, tempe, bakwan dan beberapa rekannya lengkap dihiasi cabe rawit merah hijau berserakan seolah berdesakan di celah potongan gorengan. Inilah ritual rutin jadi bagian SOP sang “office boy”.

Jajanan gorengan sudah jadi camilan generik. Gorengan dipilih karena murah, mudah didapat, dan enak bagi para pencintanya. Memang disetiap gigitan di mulut penggemarnya terasa renyah dan gurih. Mungkin ini yang membuat ketagihan konsumennya. Sesekali mengonsumsinya tak jadi masalah. Tapi jika rutin lain lagi ceritanya. Segala sesuatu jika berlebihan tentu berdampak tidak baik.

Suatu penelitian di tahun 2025 menunjukkan hampir setengah dari responden mengonsumsi 3-5 gorengan sekali makan dan hampir semua mengonsumsinya saat-saat tertentu

Tahun 2019 Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang berbasis data besar menyajikan konsumsi gorengan merupakan pola makan umum di masyarakat Indonesia. Faktor penentu utama: pendapatan, pendidikan, dan akses makanan.

Juga penelitian di beberapa kampus tentang frekuensi konsumsi (studi kampus – gambaran perilaku) memberi gambaran gorengan adalah camilan rutin, bukan insidental.

Dari data yang ada, muncul paradoks: Pengetahuan sudah ada setidaknya 95% tahu gorengan tidak sehat namun
perilaku tetap:” aku masih seperti yang dulu”. Demikian juga halnya dengan anak-anak di lingkungan sekolah. Bukan hanya camilan gorengan tersedia, juga beragam jenis jajanan yang cerah berwarna warni yang sudah pasti padat gula, garam dan lemak. Terlebih minyak goreng yang dipakai berulang-ulang bersifat karsinogenik pemicu kanker yang efektif.

Gorengan memang camilan generik dominan di Indonesia.
Dikonsumsi sering, dalam jumlah kecil tapi berulang. Disadari atau tidak itu tiket gratis menuju gerbang penyakit tidak menular (PTM).
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan