Banyak orang senang membeli terutama untuk yang diperlukan. Tapi sedikit berbeda dengan jika membeli karena iba hati. Banyak terlihat
di sudut jalan, di lampu merah, atau di pasar, dijumpai situasi yang mengusik perasaan: seorang anak menawarkan jajanan sederhana, seorang ibu tua menjajakan dagangan seadanya, atau pedagang kecil yang tampak lelah menunggu pembeli ataupun seorang difabel dengan tekun menawarkan dagangannya.
Dalam momen seperti itu, tak jarang keputusan yang diambil seseorang bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal rasa, rasa iba. Seseorang membeli, bukan karena perlu, tetapi karena hati tergerak. Perilaku ini muncul ketika melihat si penjual penjual. Keputusan membeli seperti ini bukan didorong kebutuhan atau kualitas, tetapi rasa iba.
Dalam dunia yang sering terasa keras dan individualistis, “membeli karena iba hati” bisa dilihat sebagai tanda bahwa nurani masih bekerja. Ada insan yang tidak sepenuhnya acuh. Sekilas, tindakan ini tampak mulia. Ada empati di dalamnya. Ada keinginan untuk meringankan beban orang lain, meski hanya lewat transaksi kecil.
Namun jangan terburu-buru minilai. Bisa muncul pertanyaan: “Apakah itu benar-benar membantu, atau hanya meredakan perasaan sendiri?”
Seseorang bisa mengambil keputusan membeli lahir dari rasa kasihan, empati dorongan menolong atau Impuls sesaat. Satu keputusan cepat tanpa pertimbangan rasional. Namun
disamping sisi baiknya: ada kepedulian sosial,
membantu ekonomi kecil secara langsung ataupun
membentuk kepekaan terhadap penderitaan orang lain, terselip sisi yang perlu diwaspadai. Ia bisa membentuk pola konsumsi tidak rasional juga
berpotensi dimanfaatkan atau dieksploitasi rasa iba, bahkan
tidak menyelesaikan akar masalah kemiskinan. Ambil contoh keputusan membeli makanan yang tidak sehat hanya karena “kasihan penjual”. Padahal makanan tersebut tidak sehat, kurang higienis, atau tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Empati, dalam hal ini, berpotensi menggeser prioritas yang seharusnya lebih rasional.
Membeli bukan karena nilai guna, tetapi karena dorongan emosional. Jika terus berulang, tentu bisa berdampak pada pengelolaan keuangan keluarga, bahkan pada pola makan dan kesehatan. Niat baik, jika tidak disertai kebijaksanaan, bisa membawa konsekuensi yang tidak diharapkan.
Di sisi lain, ada pula risiko yang lebih luas. Ketika rasa iba menjadi “alat jual”, ada kemungkinan muncul praktik-praktik yang memanfaatkan emosi tersebut. Tidak jarang terlihat anak-anak yang terus-menerus dibiarkan berjualan di jalan, bukan untuk diberdayakan, tetapi justru untuk mempertahankan simpati. Dalam situasi seperti ini, membeli karena iba hati bisa tanpa sadar ikut mempertahankan lingkaran masalah yang lebih besar.
Harus tersingkirkah rasa peduli? tentu tidak. Empati adalah bagian penting dari kemanusiaan. Yang perlu dijaga adalah bagaimana empati itu diarahkan. Membantu tidak selalu harus dalam bentuk membeli. Bisa memberi secara langsung, mendukung usaha yang benar-benar memberdayakan, atau memilih membeli dengan tetap mempertimbangkan kualitas dan kebutuhan.
Tidak hanya ingin membantu sesaat, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang—baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang dibantu, menjadi empati yang matang bukanlah empati yang impulsif.
Di titik inilah keseimbangan antara hati dan akal menjadi penting. Sebab, kebaikan yang sejati bukan hanya tentang perasaan yang tulus, tetapi juga tentang mengambil keputusan dengan bijak.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)



