TSUNDOKU: ANTARA HASRAT INTELEKTUAL DAN KETERBATASAN DISIPLIN MEMBACA

Terbaru3 Dilihat

Buku diartikan sebagai lembar kertas yang berjilid, umumnya berisi tulisan. Buku bisa mengubah hidup, akan memberikan motivasi dan dorongan untuk rajin membaca.  Dikatakan buku adalah cara unik manusia untuk memandang dunia, menjelajahi semua bagian kehidupan, mengubah kehidupan, dan memungkinkan untuk melihat berbagai hal secara berbeda. Karena itu banyak penggemar yang mengoleksi buku.

Namun ada istilah “Tsundoku” istilah dari budaya Jepang . Asal katanya : “tsunde”
(menumpuk) dan “oku”
(membiarkan). Ini menggambarkan kebiasaan membeli atau mengumpulkan buku. Niatnya untuk dibaca, namun akhirnya hanya ditumpuk tanpa benar-benar dibaca. Jadi, tsundoku bukan sekadar “punya banyak buku”, tetapi lebih pada ironi antara hasrat intelektual dan realitas keterbatasan disiplin membaca dan juga waktu.

Fenomena tsundoku mencerminkan beberapa hal penting: seseorang haus akan pengetahuan, tapi terbatas oleh waktu. Minat baca ada minat belajar tinggi. Namun, tertunda karena kesibukan, terlebih dalam kehidupan modern. Distraksi digital dan kesibukan membuat niat membaca buku sering tertunda.

Selain itu ada Ilusi produktivitas intelektual. Seseorang sering merasa
membeli buku memberi rasa seolah-olah ia sudah “berproses menjadi lebih pintar”. Padahal, tanpa membaca, pengetahuan itu belum aktual.

Secara psikologis dalam Tsundoku ada juga simbol identitas diri.Tumpukan buku terkadang menjadi representasi diri atau prncitraan ingin terlihat: intelektual, reflektif, atau pembelajar.

Tsundoku mencerminkan kesenjangan antara “ingin membaca” dan “benar-benar membaca”. Ini bukan hanya soal buku, tetapi juga gambaran umum tentang banyak hal dalam hidup: niat baik yang tak selalu diwujudkan.

Namun bagi orang-orang yang mencintai literasi, tsundoku bisa menjadi cermin jujur. Sebagai pengingat bahwa:
Pengetahuan tidak bertambah dari kepemilikan, tetapi dari keterlibatan. Membaca bukan soal berapa banyak buku dimiliki, tetapi seberapa dalam pemahaman yang dihayati.

Disiplin kecil seperti membaca beberapa halaman setiap hari, lebih berarti daripada ambisi besar tanpa aksi.

Meski demikian Sebagai seorang yang mencintai literasi, tsundoku bisa menjadi cermin yang jujur. Ia mengingatkan bahwa:
Pengetahuan tidak bertambah dari kepemilikan, tetapi dari keterlibatan.
Membaca bukan soal kuantitas buku, tetapi kualitas pemahaman. Disiplin kecil (membaca beberapa halaman setiap hari) lebih berarti daripada ambisi besar tanpa aksi.

Tsundoku potret khas manusia modern: penuh niat baik, kaya akses informasi, tetapi sering kalah oleh waktu dan kebiasaan. Ia bukan sekadar kebiasaan menumpuk buku, melainkan pengingat halus bahwa ilmu menuntut perjumpaan, bukan sekadar kepemilikan.

Meski demikian tsundoku tidak juga harus dilihat negatif. Ada sisi konstruktifnya:
Buku yang belum dibaca tetap menjadi “janji masa depan”.
Ia menunjukkan rasa ingin tahu yang hidup. Tumpukan buku bisa menjadi “perpustakaan pribadi” yang siap diakses kapan saja.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan