Ada mitos yang dipercaya bahwa menulis adalah kemampuan “istimewa” yang hanya dimiliki segelintir orang. Namun mitos ini runtuh ketika seseorang meyakini bahwa kemampuan menulis lebih banyak dibentuk oleh latihan yang konsisten daripada bakat bawaan.
Sejatinya menulis adalah kegiatan produktif menuangkan gagasan, pikiran, perasaan, atau informasi ke dalam bentuk bahasa tulis secara sistematis agar dapat dipahami pembaca. Ini adalah keterampilan berbahasa yang kompleks memang. Karena itu satu proses. Ia melibatkan berpikir, merasakan, menyusun, dan merevisi. Ada proses mental, kognitif, dan fisik untuk berkomunikasi tidak langsung tanpa tatap muka.
Semua itu tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh melalui pengulangan. Orang yang menulis setiap hari meski hanya beberapa paragraf akan jauh lebih terampil dibandingkan mereka yang menunggu “mood” atau merasa harus punya bakat dulu.
Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak tekun. Latihan membuat seseorang semakin peka terhadap ide, lebih terstruktur dalam berpikir, dan lebih tajam dalam menyampaikan pesan. Di sini dituntut komitmen jangka panjang.
Latihan terus menerus atau kebiasaan menulis tidak hanya meningkatkan keterampilan personal, tetapi juga memperluas dampak profesional. Namun bukan berarti juga mengesampingkan bakat atau bakat sama sekali tidak berperan. Bakat memberi keunggulan awal misalnya dalam kepekaan bahasa atau kreativitas. Tetapi tanpa latihan, bakat akan stagnan tersendat. Sebaliknya, tanpa bakat sekalipun, latihan yang konsisten dapat menghasilkan kualitas tulisan yang kuat dan bermakna.
Karena itu jangan menunggu, mulailah menulis. Tulis apa yang ingin ditulis. Seorang pakar mengatakan “Menulislah setiap hari lalu lihat apa yang terjadi”. Menulis itu bukan soal siapa yang paling berbakat, tetapi siapa yang paling setia berlatih.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)






