Tergelitik juga perasaan ini melihat Adi murid kelas IV SD sibuk memadati tas sekolahnya dengan berbagai ragam buku. Sebanyak Itukah pengetahuan yang akan dibenamkan dalam benak bocil itu?
Ketika duduk di sekolah dasar anak-anak diajarin calistung– baca, tulis, hitung serta berbagai pengetahuan. Tak dapat dipungkiri tentang manfaatnya. Namun ada satu kebiasaan lama dalam dunia pendidikan yang mungkin terluput dan jarang dipertanyakan: Àpakah semakin banyak informasi yang diberikan, semakin baik hasil pendidikan itu?
Ruang kelas dipenuhi penjelasan, buku dipenuhi teori, dan peserta didik dituntut mengingat sebanyak mungkin.
Betulkah pendidikan seperti itu? Seakan kepala manusia adalah wadah kosong yang tugasnya hanya diisi.
Jika pendidikan hanya soal mengisi kepala, maka ukuran keberhasilan cukup jelas: siapa yang paling banyak tahu, dialah yang paling berhasil. Tetapi realitas sering berkata lain. Banyak orang berpengetahuan luas, namun bingung mengambil keputusan. Banyak yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh dalam menghadapi kehidupan.
Jika dipikir lebih jauh muncul pertanyaan lain apakah mengetahui berarti memahami? Nampak tidak selalu. Di sinilah peran pendidik sejati menjadi semakin membedakan hasil. Ia tidak semata-mata menjadi sumber semua jawaban, melainkan sebagai penuntun dalam proses pencarian.
Seperti dikatakan oleh Socrates: “I can not teach anybody anything. I can only teach they think.To find yourself, think for yourself”– saya tidak dapat mengajarkan apapun kepada siapapun. Saya hanya bisa membuat mereka berpikir. Untuk menemukan diri anda berpikirlah untuk diri anda sendiri. Socrates menekankan bahwa esensi pendidikan bukanlah menerima pengetahuan secara pasif, melainkan mengaktifkan kemampuan berpikir secara mandiri. Pengetahuan yang ditemukan sendiri akan jauh lebih hidup daripada yang sekadar diterima.
Pada dasarnya pendidikan bukan hanya urusan akal, tetapi juga urusan manusia seutuhnya. Ia menyentuh sikap, nilai, dan cara memandang dunia. Karenanya pendidikan sejati justru dimulai dari pertanyaan. Dengan bertanya, seseorang dipaksa berpikir, meragukan, dan akhirnya menemukan makna secara personal.
Bagi seorang pendidik sejati ia menyadari dan memahami tugasnya bukan mencetak “orang pintar,” melainkan membentuk manusia yang bijak. Membuka ruang bagi peserta didik untuk mengalami, merefleksikan, bahkan melakukan kesalahan.
Paulo Freire pun mengritik konsep pendidikan yang disebutnya sebagai “banking education”. Peserta didik diperlakukan ibarat celengan yang pasif. Dalam pendekatan seperti ini, kreativitas mati, dialog hilang, dan manusia kehilangan kemerdekaannya untuk berpikir. Pendidikan yang seharusnya membebaskan, justru berubah menjadi alat penyeragaman. Lain halnya denga pendidikan yang hidup yang merupakan pendidikan dialogis. Ada ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan berbeda pendapat. Dalam ruang seperti itu, peserta didik tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar tentang dirinya sendiri. Ia mulai memahami mengapa ia berpikir demikian, dan bagaimana ia harus bersikap terhadap realitas yang dihadapinya.
Sejatinya ukuran pendidikan bukanlah seberapa penuh kepala seseorang, melainkan seberapa dalam ia memahami hidup. Pendidik sejati tidak sibuk mengisi, tetapi menyalakan. Ia tidak mengejar banyaknya materi yang selesai, tetapi memastikan bahwa setiap proses belajar meninggalkan jejak makna.
Maka pertanyaannya bukan lagi, “Sudah berapa banyak yang diajarkan?” melainkan, “Sudah sejauh mana seseorang belajar berpikir dan menjadi manusia siap menghadapi realita kehidupan?”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)








