Tanggal 21 Mei seperti halnya tanggal-tanggal lain di kalender. Bagi masyarakat awam mungkin tak banyak menarik perhatian. Namun bagi dunia tanggal ini diperingati sebagai ” Hari Teh International” -International Tea Day”.
Ini bukan sekadar seremoni tentang minuman hangat dalam cangkir, juga bukan hanya minuman, tetapi pengingat tentang sejarah panjang peradaban manusia, perdagangan dunia, budaya sosial, hingga kehidupan jutaan petani teh di berbagai negara.
Hari teh Internasional untuk Pertama Kali diperingati oleh Negara-negara penghasil teh seperti India, Sri Lanka, Nepal, Vietnam, Kenya, dan beberapa negara lain. Tujuan awalnya meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan petani dan buruh perkebunan teh yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung industri teh dunia.
Kemudian pada tahun 2019, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Food and Agriculture Organization secara resmi menetapkan tanggal 21 Mei sebagai Hari Teh Sedunia internasional. Ada beberapa tujuan peringatan ini diadakan:
Mendukung produksi dan konsumsi teh berkelanjutan,
meningkatkan kesejahteraan petani kecil, mengurangi kemiskinan di negara penghasil teh, serta menjaga warisan budaya teh dunia.
Banyak negara termasuk Indonesia memiliki budaya minum teh. Teh sendiri memiliki sejarah ribuan tahun. Legenda paling terkenal berasal dari China sekitar tahun 2737 SM ketika Kaisar Shen Nong secara tidak sengaja menemukan teh saat daun teh jatuh ke air panas yang sedang direbus. Dari sana teh berkembang menjadi bagian penting budaya Asia sebelum akhirnya menyebar ke Timur Tengah, Eropa, dan seluruh dunia melalui jalur perdagangan.
Di banyak daerah, teh bukan sekadar minuman tetapi simbol kehangatan dan penerimaan sosial. Di Jepang upacara minum teh dikenal dengan “chanoyu”. Upacara ini menekankan kesederhanaan, ketenangan, penghormatan, dan harmoni. Minum teh menjadi latihan batin dan estetika. Budaya teh Tiongkok sangat tua dan kaya ragam. Jenis teh seperti oolong, pu-erh, dan teh hijau berkembang bersama filsafat Tao dan Buddhisme.
Bangsa Inggris mengenal tradisi “afternoon tea” dengan teh hitam, susu, roti, dan kue-kue kecil. Teh menjadi simbol pergaulan sosial dan gaya hidup elegan.
Di Indonesia, minum teh lebih membumi dan akrab. Teh manis hangat menjadi teman sarapan, obrolan keluarga, hingga suguhan tamu. Di banyak daerah, teh bukan sekadar minuman tetapi simbol kehangatan dan penerimaan sosial. Bahkan di daerah Jawa, ketika kita memesan minuman teh di warung atau rumah makan yang dihidangkan adalah teh manis.
Secangkir teh sering menjadi jembatan percakapan, penenang pikiran, bahkan ruang perenungan. Dalam banyak budaya, menawarkan teh berarti menawarkan persahabatan. Teh mengajarkan banyak hal sederhana: ada kesabaran saat menyeduh, keseimbangan rasa,
kehangatan dalam percakapan,
serta penghargaan terhadap momen kecil kehidupan.
Namun bagi ibu hamil perlu berhati-hati karena kandungan tanin, senyawa yang memberi rasa sepat pada teh dapat menghambat penyerapan zat besi yang dibutuhkan.
Di tengah dunia yang serba cepat, teh mengingatkan manusia untuk sesekali melambat, menikmati waktu, dan merawat percakapan hangat antarsesama. “Di mana ada teh, di sana ada harapan.” – demikian kata Arthur Wing Pinero.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







