Setiap mahasiswa ketika pertama kali melangkah memasuki gerbang kampus tentu punya ambisi. Punya keinginan, hasrat besar untuk berprestasi dan mencapai cita-citanya atau impiannya.
Ini merupakan dorongan mental positif untuk maju, tumbuh, dan melampaui keadaan atau keberadaan semula.
Keinginan itu beragam sesuai dengan latar belakang dari mana mereka datang yang mengukir harapan dan apa yang diimpikan. Semua itu sah dan manusiawi. Namun pendidikan di kampus sejatinya menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis dan kelulusan formal.
Ada kutipan pengingat yang layak direnungkan sejak awal perjalanan di kampus ini dari Marcus Aurelius seorang Kaisar Romawi yang dikenal sebagai salah satu dari “Lima Kaisar Baik” dan sosok Filosof penganut Stoikisme. Ia mengatakan.“A man’s worth is no greater than the worth of his ambitions.”
Kutipan ini mengandung makna yang cukup dalam dan menantang.Intinya begini: nilai seseorang diukur dari kualitas ambisinya—bukan dari sekadar apa yang ia miliki, jabatan yang ia sandang, atau pujian yang ia terima.
Nilai seorang mahasiswa khususnya mahasiswa gizi,
tidak melampaui nilai ambisi yang ia bangun dan rawat selama proses pendidikannya.
Ilmu gizi yang dipelajari adalah ilmu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia—dari tumbuh kembang anak, kesehatan ibu, produktivitas usia kerja, hingga martabat lansia. Karena itu, menjadi mahasiswa gizi berarti memilih jalan pengabdian yang menuntut kepekaan sosial, integritas moral, dan keberanian untuk bercita-cita melampaui kepentingan diri sendiri.
Tulisan ini mengajak mahasiswa merefleksikan satu pertanyaan mendasar:
Untuk apa saya belajar gizi, dan ambisi apa yang ingin saya perjuangkan melalui profesi ini?
Ambisi yang bernilai—seperti keinginan menurunkan masalah gizi masyarakat, memperjuangkan keadilan pangan, dan memberdayakan keluarga serta komunitas—menuntut mahasiswa gizi yang tangguh, beretika, dan relevan dengan tantangan bangsa. Khususnya mendukung terciptanya generasi emas Indonesia di masa mendatang.
Dari ambisi inilah lahir komitmen belajar, kejujuran akademik, dan semangat pengabdian yang berkelanjutan.
Aktivitas di kampus adalah titik awal pembentukan jati diri sebagai calon profesional gizi. Bukan sekadar untuk menjadi lulusan, tetapi untuk bertumbuh menjadi manusia yang bernilai bagi sesama.
Ambisi memang merupakan cermin nilai diri. Ia menunjukkan apa yang dianggap penting oleh seseorang. Ambisi yang sempit semisal mengejar hanya uang, kuasa, popularitas mencerminkan nilai diri yang sempit. Sedangkan
melayani, memberi dampak, memperbaiki kehidupan orang lain memastikan ambisi yang luhur serta mengangkat martabat pribadi diri sendiri.
Bukan soal besar-kecil, tapi bermakna-tidaknya ambisi yang dimiliki. Ambisi tidak harus spektakuler. Setia pada profesi dengan integritas tinggi—itu ambisi yang bernilai tinggi.
Karenanya ambisi menentukan arah hidup. Seseorang bisa sangat berbakat, cerdas, bahkan berpendidikan tinggi, tetapi tanpa ambisi yang bernilai, potensinya berhenti sebagai angka. Ambisi itu ibarat kompas moral sekaligus tujuan hidup.
Di era modern pencitraan, orang mudah terlihat “bernilai” di luar, padahal ambisinya dangkal. Kutipan Marcus Aurelius pengingat halus:
“Apa yang kamu kejar akan menentukan siapa dirimu.”
Nilai seorang pendidik, tenaga kesehatan, atau pemimpin komunitas tidak diukur dari gelarnya, tetapi dari ambisi untuk memberi manfaat jangka panjang bagi manusia lain.
Jadi ambisi bukan sekadar keinginan, tapi ukuran kedalaman nilai hidup seseorang.”Dengan ambisi, apa yang kamu kejar akan menentukan siapa dirimu”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







