DEVIL’S ADVOCATE: SUARA BERANI BERBEDA YANG DIBUTUHKAN

Terbaru9 Dilihat

Dalam banyak diskusi, terutama dalam organisasi atau kelompok kerja, hal yang sering terlihat adalah kecenderungan yang sama yaitu orang ingin cepat mencapai kesepakatan.

Kesepakatan dianggap sebagai tanda keharmonisan, sementara perbedaan pendapat sering dipandang sebagai gangguan. Padahal, justru di situlah letak masalahnya. Tanpa keberanian untuk mempertanyakan, keputusan yang tampak “solid” sering kali sebenarnya hasil yang dicapai rapuh.

Di sinilah pentingnya peran seseorang yang dikenal sebagai “devil’s advocate”. Pengertiannya adalah seseorang yang sengaja mengambil posisi berlawanan, menyanggah, atau mengkritik suatu ide/argumen dalam diskusi. Ini bukan berarti seorang yang memainkan peran Devil’s Advocate benar-benar tidak setuju dengan pendapat atau kesepakatan yang dicapai dalam forum. Tujuannya untuk menguji keabsahan, menemukan celah, dan memperkuat kualitas suatu keputusan atau kesepakatan yang dicapai bersama.

Istilah ini berasal dari tradisi dalam gereja katolik. Seorang calon Santo harus diuji, maka
ada pejabat khusus ditugaskan untuk melakukan ujian secara kritis dengan mencari kelemahan atau keberatan terhadapnya. Namun bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar melalui proses pengujian yang ketat.

Dalam kehidupan modern, konsep ini memiliki makna yang sangat relevan. Devil’s advocate adalah orang yang berani mengambil posisi berbeda untuk menguji argumen yang sudah dianggap benar. Ia mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: Apakah asumsi sudah tepat? Apakah ada risiko yang belum diperhitungkan? Apakah keputusan ini benar-benar matang?

Peran seperti ini sering disalah pahami. Orang yang kritis kadang dianggap negatif, pembangkang, atau terlalu banyak mempertanyakan. Padahal, justru keberanian untuk menguji satu gagasan adalah tanda kepedulian terhadap kualitas keputusan.

Dalam dunia kerja, organisasi, bahkan dalam perumusan kebijakan publik, keputusan yang tidak diuji sering kali berakhir pada kegagalan. Bukan karena ide awalnya buruk, tetapi karena terlalu cepat disepakati tanpa mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Di sinilah inti dari devil’s advocate memiliki nilai. Ia menjadi semacam “rem atau kendali intelektual” yang mencegah suatu keputusan atau kesepakatan kelompok terjebak dalam euforia atau optimisme yang berlebihan.

Kritik yang konstruktif dapat membuka ruang bagi pemikiran yang lebih matang dan keputusan yang lebih kuat.
Tentu saja, peran ini harus dijalankan dengan niat yang sehat jauh dari niat menjatuhkan atau mempermalukan orang lain melainkan untuk memperbaiki gagasan.

Kritik yang baik selalu berangkat dari keinginan untuk menemukan kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Penting diibgat
kemajuan sering lahir bukan dari kesepakatan yang terlalu cepat, tetapi dari dialog yang berani, jujur, dan terbuka.

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan itu menjadi sumber kekuatan.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyingkirkan suara yang berbeda. Bisa jadi, justru dari sanalah muncul hal-hal yang membuat kita berpikir lebih dalam—dan mengambil keputusan yang lebih bijak.
(Abraham Raubun.B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan