KOKOK NYARING AYAM JANTAN MENYAMBUT MENTARI PAGI

Terbaru8 Dilihat

Ketika fajar menyingsing disambut nyaringnya kokok ayam jantan. Ada satu perumpamaan terkait hal ini. “Ayam jantan yang berkokok keras mengira matahari terbit karena dirinya, sementara petani yang bijaksana sudah bekerja sebelum fajar”.

Dalam perumpamaan ini, ayam jantan yang berkokok keras digambarkan sebagai sosok yang menganggap dirinya sangat penting, bahkan merasa bahwa terbitnya matahari terjadi karena kehadirannya. Ini melambangkan orang yang terlalu membesar-besarkan peran dirinya dan gemar mencari pengakuan.

Sebaliknya, petani yang bijaksana tidak sibuk mengumumkan apa yang akan ia kerjakan. Bahkan sebelum matahari terbit, ia sudah berada di ladang, bekerja dan menunaikan tanggung jawabnya. Ia memahami bahwa hasil diperoleh melalui tindakan, bukan melalui suara yang paling keras.

Hikmah yang dapat dipetik dari perumpamaan itu antara lain
jangan menganggap diri sebagai pusat segala sesuatu.
Banyak keberhasilan merupakan hasil kerja bersama, didukung banyak pihak, melalui proses panjang. Mengklaim seluruh keberhasilan sebagai jasa pribadi sering kali menunjukkan kecongkakan atau sombong.

Kerja nyata tentu lebih bernilai daripada banyak bicara. Orang yang sungguh-sungguh bekerja biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk memamerkan dirinya. Hasil kerjanyalah yang akan berbicara nyata. Mereka yang benar-benar memahami tugas dan tanggung jawabnya serta cenderung fokus pada pekerjaan, bukan pada pujian atau kata-kata mengagung-agungkan.

Dalam kehidupan sosial, organisasi, atau kepemimpinan, orang yang paling banyak berbicara belum tentu yang paling banyak berkontribusi. Banyak orang sering tertipu oleh suara nyaring orang tertentu.

Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras ia mengumandangkan dirinya, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang ia hasilkan. Tidak salah di era media sosial saat ini, orang berlomba menunjukkan aktivitas, pencapaian, dan perannya kepada publik. Sah-sah saja berbagi keberhasilan.

Dunia mungkin sesaat memperhatikan suara yang keras, tetapi pada akhirnya akan menghargai mereka yang menghasilkan karya dan manfaat nyata. Karenanya kerendahan hati, kerja nyata, dan kontribusi yang konsisten jauh lebih mulia daripada kesombongan dan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

 

Tinggalkan Balasan