Aristoteles berujar:”kesuksesan bukan hasil dari keberuntungan, melainkan hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan terus menerus”
Sukses bisa dimaknai keberhasilan atau keberuntungan dalam mencapai tujuan. Meski definisinya sangat subjektif bagi setiap individu.
Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki harta dan jabatan. Bagi yang lain, mungkin sesederhana bisa tidur nyenyak tanpa beban, atau melihat senyum bahagia di wajah orang tercinta.
Setiap orang mendambakan sukses. Namun, sering kali terlalu sibuk mengejar definisi orang lain, hingga lupa bertanya merenungi: “apa sebenarnya makna sukses bagi diri sendiri?”
Sukses sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa kuat dia bertahan ketika jatuh. Ia bukan hanya tentang hasil yang gemilang, tetapi juga tentang proses, tentang keberanian untuk mencoba, gagal, dan belajar.
Sukses…sering dibayangkan sebagai puncak tinggi yang berkilau. Tempat semua mata menatap kagum, dan semua mimpi terasa dalam eratnya genggaman. Sejatinya ada sukses dalam ketenangan hati, dalam keberanian memaafkan diri sendiri, dalam senyum yang tetap hadir meski badai seolah tak akan berakhir.
Sukses itu bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa dalam menghargai yang dianugrahkan Illahi.
Bukan tentang berapa jauh kaki melangkah, tetapi seberapa kuat bertahan ketika dunia terasa berat menjerat. Dengarkan bisikan lembut di sanubari: “sukses sejati bukan tujuan akhir, melainkan suatu perjalanan. Perjalanan menjadi diri yang lebih utuh, lebih ikhlas, dan lebih bersyukur.
Kata kunci untuk meraihnya ada kerja keras, disiplin, sikap optimis, dan kemampuan untuk terus belajar dari pengalaman.
Syukurilah setiap langkah kecil, menjaga ketulusan hati, dan terus berusaha tanpa kehilangan arah. Di situlah sesungguhnya seseorang telah meraih sukses yang paling bermakna.
Namun, sering terlupakan, jalan menuju ke sana tidak selalu terang,lurus dan mulus.
Kadang berliku, sepi, bahkan penuh onak duri yang tak terhindari.
Jadi, mari berhenti sejenak diam…merenung dalam hening yang jujur. Resapkan, mungkin sukses tidak jauh di depan. Mungkin ia sudah ada di dalam diri menunggu untuk disadari.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)


