Ada pepatah yang sangat populer: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa harus ke China? Apa makna yang tersembunyi di balik ungkapan ini?
Ini bermakna dorongan untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu dengan tak mengenal lelah. Meski berbagai tantangan dan rintangan dihadapi, sejauh atau sesulit apa pun usaha yang dibutuhkan.
Ungkapan ini juga membawa pesan bahwa ilmu tidak mengenal batas geografis, budaya, atau agama. Bahkan jika ilmu itu berada di negeri yang berbeda keyakinan sekalipun, tetap layak dicari. Ini mencerminkan semangat keterbukaan dalam tradisi intelektual.
Mengapa China tempat yang sangat jauh dipilih sebagai perumpamaan dalam pepatah itu? Sejak berabad-abad lalu, China dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Berbagai penemuan penting seperti kertas, kompas, dan teknik percetakan lahir dari sana. Dalam imajinasi masyarakat masa lampau, China bukan sekadar tempat yang jauh, tetapi simbol kemajuan dan sumber pengetahuan. China dianggap melambangkan sumber ilmu dan kemajuan yang layak dikejar, sekaligus pusat peradaban dan pengetahuan pada masa lampau.
Pada dasarnya penyebutan China dalam pepatah ini bukan kebetulan, melainkan simbol yang kuat: tentang jarak yang jauh, tentang peradaban maju,
dan tentang semangat tanpa batas dalam mencari ilmu. Suatu metafora tentang pengorbanan, ketekunan, dan kesungguhan. Ilmu tidak datang dengan mudah. Ia menuntut perjalanan fisik maupun batin.
Di era sekarang, maknanya kini masih tetap relevan untuk pergi ke China, karena kini harus diakui China telah menjadi negara dengan teknologi modern di dunia. Meski kini dituntut kesiapan untuk belajar dari mana saja, dari siapa saja, dan dengan cara apa saja selama itu membawa kebaikan dan kemaslahatan.
Pada akhirnya, ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia dalam bersikap dan bertindak. Ia tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah, tetapi juga dari pengalaman hidup sehari-hari. Seperti ujar Ali bin Abi Thalib, “Ilmu akan menghidupkan jiwa.” Dan Imam Syafi’i mengingatkan, “Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat, ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)






