Angka itu berbicara. Meski menunjukkan gambaran tingkat gula darah beberapa waktu silam. HbA1c begitu dikenalnya. Suatu tes darah untuk mengukur kadar rata-rata glukosa dalam dua hingga tiga bulan terakhir.
Pemeriksaan HbA1c ini mengukur persentase hemoglobin yang terikat dengan glukosa (gula). Glukosa yang menempel pada hemoglobin bertahan selama sel darah merah hidup sekitar 3 bulan. Hasilnya digunakan untuk mendiagnosis dan memantau kondisi diabetes.
Pengalaman ini sedikit miris. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan HbA1c 9% dan gula darah puasa 231 mg/dL. Kedua angka ini memberi pesan penting: tubuh sedang berada dalam kondisi hiperglikemia kronis. Karena idealnya berada di antara angka 5-7%.
Gula darah sering berada di atas batas aman. Jelas kondisi ini perlu ditangani dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya soal obat, tetapi juga pola makan, ritme hidup, dan kesadaran diri.
Gula darah puasa 231 mg/dL menunjukkan bahwa tanpa asupan makananpun, kadar glukosa tetap tinggi. Ini menandakan tubuh tak lagi efektif alias tak bersahabat menggunakan insulin. Asupan karbohidrat harian pun terlalu tinggi untuk kapasitas metabolik yang ada.
Risiko komplikasi jangka panjang seperti gangguan mata, ginjal, dan pembuluh darah jadi bayang-bayang kekuatiran.
Upaya menyeimbangkan kembali sumber energi perlu giat dilakukan. Mengatur porsi karbohidrat agar menjadi lebih terkendali, memperbanyak sayur dan buah pilihan tinggi serat dengan “Indeks glisemik” rendah sebagai “penghambat alami” lonjakan gula yang cepat dan tajam (glucose spike) dan memilih protein berkualitas membantu tubuh menjaga kestabilan glukosa harus dilakukan.
Angka laboratorium hanyalah penunjuk arah. Langkah kecil yang konsisten—memilih makanan lebih bijak, bergerak setiap hari, dan memantau kadar gula secara rutin—adalah kunci untuk membawa tubuh kembali ke jalur sehat. Dengan komitmen dan edukasi gizi yang tepat, pengendalian diabetes bukan sekadar mungkin, tetapi sangat dapat dicapai.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


