JANGAN “MENGERDILKAN” ARTI GIZI

Terbaru3 Dilihat

Fenomena terjadi bahwa masyarakat kini semakin sering menyamakan gizi dengan sekadar menu makanan. Bahkan kata gizi kerap dipertukarkan dengan kata “nutrisi” Gizi dalam frasa bahasa Sansekerta “Svastaharena” diartikan sebagai:”perbaikan kesehatan melalui makanan.
Sedangkan dalam bahasa Arab “Ghizai” yang dilafalkan orang-orang Turki dengan “Ghizi“.

Di Indonesia kata Gizi resmi digunakan atas saran Lembaga Bahasa Universitas Indonesia atas permohononan Prof. Poerwo Soedarmo tentang istilah Baku bagi kata “Nutrition”. Sedangkan kata Svastaharena digunakan sebagai kata pelengkap dalam logo Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI).

Tak dapat dipungkiri memang pada dasarnya Gizi terkait dengan zat-zat yang dikandung bahan makanan. Karena itu berkaitan erat dengan bidang Kesehatan. Tetapi berbicara tentang ilmu gizi itu multidisiplin dan penerapannya melibatkan berbagai bidang, selain kesehatan, pertanian, ekonomi, pendidikan, sosial budaya bahkan politik dan banyak lagi.

Akhir-akhir ini profesi gizi
“profesi gizi” tengah diuji untuk menegaskan kembali jati dirinya.” Para Ahli Gizi
menghadapi tantangan besar khususnya dalam Program besar Makanan Bergizi Gratis (MBG). Banyak muncul dalam dinamika perdebatan yang semakin intens. Nyaris menyamarkan masalah yang dikenal dengan:”triple burden of nutrition” yang semakin kompleks. Stunting dan wasting yang belum tuntas, anemia yang masih tinggi, serta obeditas dan penyakit tidak menular seperti hipertendi, diabetes, jantung dan sejenisnya yang terus meningkat.

Triple burden” tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan tunggal. Masalah Gizi bukan hanya masalah makanan. Tetapi masalah sistem pangan, perilaku, ekonomi, budaya, Dan lingkungan. Juga terkait dengan produksi pangan, distribudi, akses, preferensi dan konsumsi. Penanganan masalah Gizi memerlukan pendekatan hulu-hilir dari produksi hingga ke meja makan. Bahkan status gizi bukanlah hasil akhir tetapi masih hasil antara yang akan berdampak jangka panjang yang serius terhadap kualitas SDM bangsa. Bahkan ilmu gizi terus berkembang melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Karena itu menempatkan gizi hanya sebagai urusan makanan berarti mengabaikan perannya sebagai fondasi pembangunan manusia. Bangsa yang ingin maju harus menempatkan gizi sebagai investasi strategis, bukan sekadar program kesehatan.

Gizi bukan sekadar apa yang tersaji di atas meja makan. Gizi adalah fondasi kualitas manusia. Ketika makna gizi dipersempit hanya menjadi urusan makanan, sesungguhnya kita sedang mengerdilkan salah satu pilar terpenting pembangunan bangsa. Bangsa yang besar bukan hanya mampu memberi makan rakyatnya, tetapi juga mampu membangun sistem yang menjamin setiap warganya tumbuh sehat, cerdas, produktif, dan bermartabat.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan