Lebah itu serangga sosial. Hidup dalam koloni sangat terstruktur. Dalam satu koloni ada ratu lebah, tugasnya bertelur. Satu-satunya betina subur yang memimpin koloni dan bertugas menghasilkan ribuan telur setiap hari.
Lebah jantan (drone) didampingi ribuan lebah pekerja betina steril yang seluruh tugasnya pemeliharaan sarang, mencari nektar yang dijadikan madu serta melakukan penyerbukan penting bagi kelangsungan ekosistem bumi.
Namun ketika kata lebah dipakai dalam suatu ungkapan bisa bermakna dalam. “Lebah tak pernah hinggap di bunga yang layu”. Memang lebah selalu mencari bunga yang segar karena di sanalah tersedia nektar yang dibutuhkan untuk menghasilkan madu. Bunga yang layu tak lagi mampu memberikan manfaat bagi lebah.
Analoginya dengan kehidupan manusia, “bunga yang layu” bukanlah tentang usia, melainkan tentang sikap. Ibarat ketika seseorang yang kehilangan semangat belajar, enggan berubah, dipenuhi prasangka, atau hanya mengeluhkan keadaan akan semakin dijauhi oleh kesempatan. Mereka yang terus bertumbuh, menjaga integritas, serta memberi manfaat bagi orang lain akan lebih mudah menarik kepercayaan, persahabatan, dan peluang.
Dalam dunia kerja, prinsip ini juga berlaku. Organisasi akan menghargai individu yang terus meningkatkan kompetensi, berinisiatif, dan mampu berkolaborasi. Gelar atau pengalaman masa lalu tidak cukup bila tidak disertai pembaruan diri.
Bagi para pengemban profesi dituntut untuk selalu memperbarui wawasan, menghasilkan inovasi edukasi, dan memberikan pelayanan yang berbasis bukti ilmiah. Dengan demikian, kehadirannya tetap dibutuhkan oleh masyarakat.
Namun kutipan ini bukan berarti untuk mengabaikan dan meninggalkan mereka yang sedang bahkan sudah “layu”. Justru manusia memiliki kelebihan dibanding lebah: kita mampu menolong, menguatkan, dan membantu sesama agar kembali mekar. Empati adalah nilai yang membedakan manusia dari naluri alam.
Kehidupan mengajarkan bahwa setiap orang perlu menjaga dirinya agar tetap menjadi “bunga yang mekar”—penuh semangat, terus belajar, bermanfaat, dan membawa harapan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika seseorang memelihara kualitas dirinya, ia tidak perlu mengejar kesempatan. Kesempatanlah yang akan datang menghampiri, sebagaimana lebah yang selalu menemukan bunga yang sedang mekar.
Itulah makna:”Bees touch no fading flowers” “Tetaplah Mekar di Tengah Zaman yang Berubah” dan “Menjadi Bunga yang Dicari Lebah”.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)







