MENGANGKAT MARWAH ETIKA PROFESI GIZI

Terbaru14 Dilihat

Marwah profesi gizi tidak dijaga oleh gemuruh kata-kata, tetapi oleh kilat tindakan yang lahir dari kompetensi, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat.

Mengapa ini penting? Kata gizi memang populer, meski banyak yang menganggap kata “Nutrisi” lebih bergengsi. Padahal J.S Badudu dalam kamusnya mengartikan “nutrisi” sebagai:Makanan Ternak.

Namun mereka yang menjalankan profesi gizi nilai, norma, dan prinsip moral yang menjadi pedoman dalam menjalankan pekerjaan atau profesinya tetap dipegang teguh. Itulah etika profesi, aturan yang diciptakan untuk menjaga integritas, profesionalisme, serta kepercayaan masyarakat terhadap bidang pekerjaannya.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi slogan, janji, dan pencitraan, seorang ahli gizi diingatkan bahwa kehormatan profesinya tidak dibangun oleh kepiawaian berbicara, melainkan oleh integritas dalam bekerja dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

Ukuran profesionalisme bukanlah seberapa sering seseorang berbicara tentang pentingnya gizi, melainkan seberapa konsisten ia menerapkan ilmu pengetahuan, memberikan pelayanan yang berbasis bukti (evidence-based), menjaga kerahasiaan klien, serta menghormati martabat setiap individu.

Godaan untuk lebih mengutamakan popularitas daripada profesionalisme masa kini semakin besar.Media sosial memungkinkan siapa pun tampil sebagai “pakar”, meskipun tidak semua informasi yang disampaikan memiliki dasar ilmiah. Di sinilah etika profesi diuji. Ahli gizi dituntut untuk tidak sekadar menghasilkan gema berupa opini atau klaim yang sensasional, tetapi menghadirkan fakta tindakan edukasi yang benar, pendampingan yang bermutu, dan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Masyarakat akan menilai profesi gizi bukan dari banyaknya seminar, unggahan, atau slogan yang disampaikan, melainkan dari dampaknya: apakah angka masalah gizi menurun, apakah perilaku makan menjadi lebih sehat, dan apakah kualitas hidup masyarakat meningkat. Karya nyata itulah yang menjadi cerminan etika profesi.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan

News Feed