“Bunda, Chayra boleh punya HP sendiri kan? Belikan ya,” Chayra menatap mata bunda penuh harap. Sudah lama ia minta dibelikan HP kepada ayah dan bunda. Namun mereka belum mengabulkan.

“Tidak Chayra. Kamu belum boleh punya HP sendiri. Ada masanya kamu punya HP tapi bukan sekarang,” jawab bunda tegas.

“Kapan Bun? Semua teman Chayra sudah punya HP. Hanya Chayra yang ketinggalan zaman. Apalagi sekarang banyak tugas sekolah yang butuh dicari di intenet?” Chayra kini merengek sambil memegang tangan bunda.

“Chayra sayang. Kamu masih kecil. Bunda tidak mau kamu punya HP sendiri. Nanti ketagihan main HP. Kalau ada tugas sekolah bisa pakai HP atau laptop bunda. Kita bisa cari tugas bersama,”

“Nah itu dia Bun. Setiap aku pakai HP bunda, bunda selalu menemani dan melihatku. Aku kan sudah besar Bun. Masak diperhatikan terus. Teman-teman memanggilku kolot bun.”

“Lo, anak bunda sekeren ini kok dibilang kolot. Memang yang tidak kolot itu bagaimana? Coba tanya sama teman-temanmu.”

“Ah, sudahlah. Bunda gak mengerti perasaanku.” Chayra berlalu meninggalkan bunda. Ia terus ke kamarnya. Bunda yang melihat hanya tersenyum kecil.

Esoknya, di sekolah Chayra tetap di kelas walau waktu istirahat sudah tiba. Ia tidak ikut bergabung dengan teman-temannya di kantin. Ia memakan bekal yang disiapkan bunda. Selain itu, dia malas bergabung dengan teman-temannya. Banyak yang suka memanggilnya Chayra kolot karena tidak punya HP. Dia tidak bisa bergabung dalam grup-grup media sosial temannya. Dia juga tidak nyambung dengan percakapan temannya tentang game online, idol korea, drama terbaru, trending topic dan lain sebagainya.

“Hei Chayra, kamu gak ke kantin lagi?” tanya Tina yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Chayra.

“Aku punya bekal yang dibuat bunda. Kamu mau coba?”

“Mau, mau! Wah bundamu pintar masak ya,” Tina menyuap omlet sayur ke dalam mulutnya.

“Iya,” jawab Chayra pendek.

“Kamu kenapa sih Ra, kok kayaknya kesal gitu.”

“Iya nih Tin. Ayah dan bunda tidak mau membelikan HP. Aku sudah minta beberapa kali tapi ayah dan bunda tetap menolak. Belum lagi Aya dan ganknya selalu menyebutku kolot. Aku kan jadi kesal.”

“Aya? Dia nyebut kamu kolot juga?”

“Iya. Gelar kolot itu awalnya kan dari Aya. Lalu teman-teman lain pada ikutan memanggilku kolot,”

“Kamu sadar gak sih sudah tiga hari ini Aya tidak datang ke sekolah. Aya sakit. Pulang sekolah ini kita akan membezuk Aya bersama bu guru.”

“Sakit apa?”

“Aku juga tidak tahu. Katanya sakit mata sama sakit apa gitu. Nanti kita juga tahu,”

Lonceng tanda masuk kelas berbunyi. Anak-anak kembali memasuki kelas. Tak berapa lama, Bu Jasmine datang dan meminta siswa untuk bersiap. Setelah pelajaran hari ini selesai, mereka akan ke rumah Aya.

“Aya sakit apa Bu?” tanya Anton.

“Aya sakit mata dan kepala. Aya nonton drama di HP sampai larut malam bahkan sampai subuh. Dia sakit karena terpapar radiasi dari HP. Siapa di sini yang punya HP?” Bu Jasmine melihat siswa-siswanya dengan tatapan selidik.

“Kok diam semua? Pasti banyak dari kalian yang punya HP. Kalau punya, jangan main HP sampai ketagihan. Entah itu game online, drama, musik, media sosial. Kalian akan terpapar radiasi dan itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, jika sudah terlena dengan HP maka kalian jadi malas belajar, malas membantu orang tua dan tidak lagi peduli dengan orang-orang di sekitar.”

“Aku tak punya HP bu. Ayah bunda tidak mau belikan.” Chayra berkata pada Bu Jasmine.

“Bagus Chayra. Ayah bundamu benar untuk tidak membelikan kamu HP. Kalian masih kecil. Belum sepenuhnya bisa mengatur waktu. Di usia sekarang kalian mudah terlena dengan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Main HP itu menyenangkan Nak tapi banyak bahayanya. Ingat, masa depan kalian masih panjang. Jangan sampai HP merusak kalian. Bagi yang sudah punya HP, berikan pada orang tuanya. Gunakan seperlunya saja bersama orang tua. Jangan sampai setelah sakit barulah kalian menyesal. Paham? Ayo kemasi tasnya. Kita akan membezuk Aya,”

“Siap Bu!” teriak siswa-siswa serentak.

Setelah mendengar penjelasan Bu Jasmine tadi, Chayra jadi lega dan senang. Ternyata ayah bunda benar untuk tidak membelikannya HP. Mereka pasti tidak ingin dia sakit dan jadi pemalas. Sepanjang perjalanan ke rumah Aya, teman-temannya meminta maaf karena sering memanggilnya kolot. Padahal tidak memiliki HP malah jauh lebih baik. Chayra pun memaafkan teman-temannya. Dia pun juga harus minta maaf pada ayah bunda karena sering merengek-rengek minta dibelikan HP. Bahkan ia kesal karena permintaannya tidak dikabulkan oleh mereka. Kini ia tahu hal itu disebabkan karena mereka sangat menyayangi dirinya.

Tinggalkan Balasan