Jatuh Cinta pada  Profesi Guru Seiring dengan Waktu

guru, Humaniora276 Dilihat

Jatuh Cinta pada  Profesi Guru Seiring dengan Waktu

Salah satu Proses Belakjar mengejar kelas Numerasi-dokpri

Menjadi seorang tenaga pengajar atau guru, awalnya bukan menjadi impian saya, dan dikeluarga saya tidak ada yang menjadi guru. Cita-cita saya saat di Sekolah Dasar adalah menjadi seorang insinyur Pertanian. Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya, saya akhirnya bisa menjadi seorang guru di sekolah formal sejak tahun 2010.  Menjalani profesi yang cukup jauh bebeda.

Untuk mengejar cita-cita menjadi seorang insinyur pertanian, saya mengambil kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Padjadajran. Puji Tuhan, saya dapat lulus menjadi seorang sarjana Pertanian dari sebuah  Universitas papan atas di Indonesia, dan  mewujudkan mimpi menjadi seorang insinyur pertanian, meski ketika lulus gelarnya telah menjadi Sarjana Pertanian.

Sebelum lulus, saya pernah menjadi assisten di laboratorium  selama 2 semester, membantu dosen dalam membimbing adik-adik mahasiswa dalam memahami materi praktium. Selain itu, saya juga pernah menambah uang saku dengan cara menjadi guru les matematika. Mungkin dari dua pengalaman ini, kemampuan mengajar saya jadi terlatih, sehingga mendorong saya untuk menjadi dosen.

Keinginan dan harpan  menjadi dosen, akhirnya saya kubur karena saya tidak mendapat melanjutkan pendidikan Magister, sebagai syarat menjadi dosen. Pada akhir tahun 2007, saya dipertemukan dengan sebuah bimbingan belajar (Bimbel) di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Luar biasa di Bimbel ini, kami setiap minggu mendapat giliran microteaching, sehingga kemampuan kami dalam mengajar berkembang dengan cukup baik. Jadi meski kami hanya mengajar di Bimbel, kami dibekali untuk menguasai ruang kelas dengan baik dalam mengajar.

Tugas mengajar dan mendidik itu bukanlah suatu hal yang bisa dibilang mudah. Banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi. Terlebih bagi saya yang latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan kependidikan, yang tidak memiliki teori mengajar. Kemampuan mengajar saya dapatkan  dari pengalaman-pengalaman yang saya selama menjadi assisten dosen dan mengajar di Bimbingan Belajar.

Latar belakang pendidikan saya sebagai sarjana pertanian, seolah bertolak belakang dengan profesi saya saat ini. Semula sebagai orang yang belajar dan mendalami hal  pertanian diharapkan dapat  membudidayakan  tanaman, menumbuhkan benih sampai berkecambah, bertunas,  bertumbuh semakin besar, dan dapat menghasilkan buah. Sekarang saya menjadi petani yang penumbuh benih ilmu dan kebaikan pada para peserta didik agar mereka bertumbuh menjadi manusia yang berguna bagi lingkungannya.

Melihat para peserta didik bertumbuh, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Melihat mereka mengapai cita-cita dan mimpi mereka, seolah sayapun merasakan kebahagiaannya mereka. Hal ini menjadi hadiah dan makanan bagi jiwa saya untuk terus berkembang dan belajar. Sungguh, suatu hadiah yang tidak dapat dinilai dengan materi dan diganti apapun.

Kebahagian dalam waktu yang lebih cepat didapat adalah ketika saya sebagai pengajar dapat menjelaskan dengan baik dan ilmu yang saya sampaikan diterima juga dengan baik oleh para peserta didik. Jika ada yang belum mengerti dan mereka mau bertanya hingga mereka akhirnya mengerti, ini juga yang menjadi kebahagiaan bagi saya. Misal ada anak yang belum mengerti tentang penjmlahan pecahan, kemudian saya coba menjelaskan lagi dengan gambar,  dan akhirya dia mengerti. Secara tidak langsung saya pun jadi belajar untuk menemukan metode baru dalam menjelaskan.

Menjadi tenang pengajar juga menuntut kita untuk terus belajar, karena ada kalanya materi yang akan kita ajarkan, kita lupa detail materinya. Hal yang bisa kita lakukan adalah membaca alang materi yang akan kita ajarkan, yang mungkin terakhir kali kita baca adalah beberapa tahun yang lalu. Dengan demikian, kita akan terpacu untuk terus membaca dan belajar hal-hal baru.

Dari perjalan hidup dan pengalaman yang saya dapat, saya menemukan bahwa saya memiliki motivasi untuk terus menjadi pengajar. Menumbuhkan benih-benih mudah menjadi pohon yang kuat untuk menopang perkembangan Indonesia. Benih-benih yang sekarang masih terlihat kecil dan lucu, pada saatnya nanti akan menjadi pohon besar yang memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh, daun yang rimbun dan menghasilkan banyak buah.

Tidak terasa, saya sudah menjadi tenaga pengajar lebih dari 10 tahun, jika bukan karena motivasi dan passion tentu saya sudah berubah haluan untuk beralih profesi. Adanya motivasi ini,  memperkuat saya untuk terus berada dalam dunia pendidikan.  Melihat proses pertumbuhan benih  mengeluarkan  tunas-tunas muda, proses inipun memiliki keunikan tersendiri sehingga akan menjadi pengalaman

Dan bonus tambahan dalam mengajar bagi saya dalah selalu merasa dan memiliki jiwa muda yang penuh semangat dalam belajar. Kalau menurut teman-teman semasa SMP atau SMA, mereka selalu melihat saya terlihat awet muda. Bahkan kadang ada yang bercanda kalau saya mengenakan seragam SMA menurut mereka masih pantas.

Kebahagiaan dan pengalaman berharga yang saya dapat sebagai pengajar, membuat saya memiliki alasan untuk tetap berada di dunia pendidikan. Meski tidak menutup mata bahwa saya mengerjakan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan keluarga. Namun, jauh dilubuk hati saya, akhirnya bisa mencintai profesi ini meski awalnya tidak mudah dan menghadapi berbagai kendala dan gejolak jiwa.

Tinggalkan Balasan