Menyalakan Lentera Literasi di Era Digital: Belajar dari KBMN PGRI Pertemuan Keempat

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

guru2 Dilihat

Menyalakan Lentera Literasi di Era Digital: Belajar dari KBMN PGRI Pertemuan Keempat

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf demi huruf, melainkan kemampuan memahami makna, merasakan nilai, dan menjaga nalar agar tetap jernih di tengah derasnya arus informasi. Kalimat pembuka ini menjadi ruh dalam pertemuan keempat *Kuliah atau Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI*, sebuah ruang belajar yang bukan hanya mengasah keterampilan menulis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran literasi yang lebih dalam.

Malam itu, suasana KBMN PGRI akan terasa berbeda. Hangat, reflektif, sekaligus menggugah. Akan Hadir sebagai narasumber utama, Bapak Bambang Purwanto, seorang tokoh yang telah lama mengabdikan diri dalam pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Diskusi dipandu dengan apik oleh moderator energik, Ibu Gina Dwi Septiani, yang mampu menghidupkan suasana dialog menjadi interaktif dan bermakna.

TBM: Lentera Kecil di Tengah Gelapnya Minim Literasi

Dalam paparannya nanti, biasanya bapak Bambang Purwanto akan menekankan bahwa TBM bukan sekadar tempat membaca buku. Ia adalah ruang perjumpaan ide, tempat tumbuhnya harapan, dan wadah pemberdayaan masyarakat. TBM hadir dalam berbagai bentuk—dari sudut baca sederhana di pelosok desa, rumah baca di lingkungan warga, hingga rumah pintar berbasis digital.

“TBM adalah lentera kecil,” ungkap Pak Bambang. “Mungkin cahayanya tidak sebesar institusi besar, tetapi cukup untuk menerangi jalan bagi mereka yang mau belajar.”

Pernyataan ini seakan menjadi tamparan halus bagi kita semua. Di tengah kemajuan teknologi, masih banyak masyarakat yang belum tersentuh akses literasi yang memadai. Ironisnya, di saat informasi begitu melimpah, kemampuan untuk memilah dan memahami justru semakin menurun.

Literasi di Era Digital: Tantangan dan Peluang

Era digital membawa dua sisi yang tak terpisahkan. Di satu sisi, ia membuka akses informasi tanpa batas. Di sisi lain, ia menghadirkan banjir informasi yang tidak semuanya benar. Di sinilah literasi memainkan peran penting.

Pak Bambang Purwanto mengingatkan bahwa literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan gadget, tetapi juga kemampuan berpikir kritis. “Anak-anak kita bisa membuka internet, tapi apakah mereka bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan?” tanyanya retoris.

Pertanyaan ini menggantung di ruang diskusi. Banyak peserta yang mulai menyadari bahwa literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Menyentuh Hati, Mengasah Nalar

Moderator ibu Gina Dwi Septiani dengan cerdas akan mengarahkan diskusi ke ranah yang lebih personal. Ia mengajak peserta untuk tidak hanya melihat literasi sebagai keterampilan akademik, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter.

“Literasi yang sejati adalah ketika apa yang kita baca mampu mengubah cara kita berpikir dan bersikap,” ujar Bu Gina.

Diskusi pun berkembang menjadi refleksi bersama. Banyak peserta berbagi pengalaman tentang bagaimana membaca buku tertentu mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Ada yang menjadi lebih empati, ada yang lebih berani mengambil keputusan, dan ada pula yang menemukan jati diri melalui literasi.

Menumbuhkan Generasi Pencipta, Bukan Sekadar Penikmat

Salah satu poin penting yang nanti akan disampaikan pak Bambang Purwanto adalah pentingnya mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan.

“Jangan hanya membaca, tapi juga menulis. Jangan hanya menyerap, tapi juga mencipta,” tegasnya.

Pesan ini sangat relevan dengan semangat KBMN PGRI yang mendorong guru dan peserta untuk aktif menulis. Menulis bukan hanya tentang menuangkan kata, tetapi juga tentang mengorganisasi pikiran, menyampaikan gagasan, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peran Guru dan Komunitas dalam Gerakan Literasi

Dalam diskusi tersebut, peran guru menjadi sorotan utama. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga agen perubahan literasi. Melalui pendekatan yang kreatif dan inovatif, guru dapat menumbuhkan minat baca dan tulis pada siswa.

Selain itu, komunitas seperti TBM juga memiliki peran strategis. Mereka menjadi jembatan antara buku dan masyarakat, antara pengetahuan dan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi antara guru, komunitas, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan gerakan literasi nasional. Tanpa sinergi, upaya yang dilakukan akan berjalan sendiri-sendiri dan kurang berdampak.

Menyemai Masa Depan yang Lebih Cerah

Pertemuan keempat KBMN PGRI nanti malam bukan sekadar sesi belajar biasa. Ia adalah ruang penyadaran, tempat benih-benih literasi ditanam dalam hati dan pikiran peserta.

Dari sudut-sudut kecil TBM, dari tulisan-tulisan sederhana, dari diskusi-diskusi hangat seperti ini, masa depan bangsa sedang dibentuk. Generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan berani secara moral.

Seperti yang disampaikan dalam pembuka, literasi adalah tentang hati yang mengerti dan nalar yang terjaga. Dan melalui KBMN PGRI, kita belajar bahwa setiap orang memiliki peran dalam menyalakan lentera itu.

Malam itu, lentera-lentera kecil akan dinyalakan. Dan siapa tahu, dari cahaya kecil itulah akan lahir perubahan besar bagi Indonesia. Ayo bergabung di KBMN Gelombang 34!

Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan