Durasi Cinta (part 2)

Terbaru730 Dilihat

Sudah lewat sholat Isya, apa mereka tidak sholat batinku. Sejak pukul 5 tadi sore Bang Farhan masih asik dengan tamunya, tidak ada habisnya mereka berbicara diselinggi tawa mereka yang membuat aku menjadi pusing. Ya Allah apa yang harus aku lakukan, apakah aku keluar mengingatkan Bang Farhan yang sudah melewati dua sholatnya, ini bukan Bang Farhan yang aku kenal, walaupun kami menikah bukan karena cinta tapi aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Bang Farhan, kebersamaan kami yang dua tahun ini tidakkah bisa menumbuhkan rasa sayang dirinya kepadaku, seperti aku yang dengan tulus menerimanya dan mulai menyayanginya.

Perjodohan yang mungkin bagi sebagian orang hanya berupa isapan jempol atau hanya ada pada kisah Siti Nurbaya benar adanya pada kehidupanku, Bang Farhan yang di tinggal pacarnya harus memilih menikahiku karena ibunya sudah teringinkan cucu.

Bang Farhan yang  nota bene merupakan sepupu jauhku, yang dulu ramah dan bersahabat setelah menikah semuanya berubah, hanya pada awalnya saja dia bersikap ramah setelah setahun hubungan kami menjadi hambar. Kesibukannya yang entah hanya kedok untuk selalu berada di luar rumah, hanya dirinya yang tahu. Sedangkan aku yang kata Ibunya seorang guru, pasti punya waktu luang banyak di rumah daripada pegawai lainnya, harus selalu kesepian karena Bang Farhan selalu pulang larut malam.

***

Bunyi pintu membuyarkan lamunanku, aku melihat ke arah pintu, sosok Bang Raihan masuk dengan wajah kesal.

“Tamu datang seharusnya di ajak makan, Mir. Bukannya kamu berkurung di kamar.” Bentakknya kepadaku.

“Bang.”

“Makin lama, makin tidak becus kamu menjadi istri.” Ucapan Bang Farhan sungguh melukai perasaanku.

Malam ini sengaja aku tidak masak, niat hati ingin mengajak Bang Farhan makan di luar. Pasti Bang Farhan lupa dengan hari pernikahan kami, siang tadi aku sudah mengingatkannya tentang janji makan malam di luar.

“Bukannya tadi siang kita sudah janji mau makan luar Bang?” ucapku lirih

“Sholat saja Abang lupa, apalagi janji makan malam kita.” Lirihku sedih.

Aku berjalan keluar kamar, lebih baik aku keluar dari pada harus menahan sakit serta air mata yang dengan kurang ajarnya sudah menumpuk di netraku.lagkahku terhenti di dapur. Sambil menyusut air mata, mengambil cangkir memasukkan teh dan gula tidak lupa seiris leman lalu menuangkan air panas dari termos.

Berjalan menuju beranda yang berada di samping rumah menjadi tujuanku, setelah menghempaskan tubuhku pada kursi aku mengaduk tehku, menyeruputnya untuk melegakan semua beban yang menumpuk. Seharusnya kami makan malam romantis, baru dua tahun tapi pernikahanku bagaiman sudah berpuluh tahun saja, seharusnya ini masanya kami memadu kasih bukannya seperti sekarang ini. Aku menatap langit, tidak ada bintang, mungkinkah akan turun hujan. Bumipun bersedih seperti diriku saat ini.

***

Dingin menusuk tulang, aku mengerjapkan mataku, ternyata aku tertidur, cangkir tehku masih banyak hanya beberapa sedot saja yang masuk ketenggorokanku, lelah jiwa membuatku tertidur. Aku melangkahkan kaki menuju kamar tidur, sosok yang tidak berperasaan itu sekarang tertidur dengan nyenyaknya. Apakah memang tidak ada lagi yang bisa kami pertahankan sehingga sehambar ini hubungan kami. Kaki melangkah menuju kamar mandi, lebih baik aku mempasrahkan diri pada-Nya.

Ku tahan isak, tidak mau membangunkan tidurnya, sekuat tenaga aku berusaha menguatkan rasa  terluka dengan meminta petunjuk kepada-Nya. Lelah menyapaku, tapi aku masih khusuk dalam doa panjang malamku.

***

Terlelap dalam mimpi yang akhir – akhir ini selalu mampir, aku berdiri dipersimpangan jalan. Netraku melihat jalan di depanku, apakah aku akan memilih jalan yang di kiri dan jalan ke kanan. Lama aku memperhatikan jalan di depanku, kemudian aku mendengar namaku dipanggil. Aku melihat kebelakang, tapi aku tidak melihat sesiapa. Dan akhirnya aku terjaga dari mimpi yang selalu datang akhir – akhir ini, sekujur badanku terasa kaku, setelah tidur di kursi di beranda samping rumah kemudian di lanjutkan tertidur di sajadah membuat semua sendir terasa kaku. Sudut mataku melihat ranjang kami, Bang Farhan tidak ada, aku mencari bayanganya di sudut kamar, akhirnya aku mendengar suara air dari kamar mandi.

Tinggalkan Balasan